“Influence of Ramadan Fasting on Anaerobic Performance and Recovery Following Short Time High Intensity Exercise,” PubMed, December 1, 2007, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24149483/.
Hassane Zouhal et al., “Exercise Training and Fasting: Current Insights,” Open Access Journal of Sports Medicine Volume 11 (January 1, 2020): 1–28, https://doi.org/10.2147/oajsm.s224919.
Rabindarjeet Singh et al., “Subjective Perception of Sports Performance, Training, Sleep and Dietary Patterns of Malaysian Junior Muslim Athletes during Ramadan Intermittent Fasting,” Asian Journal of Sports Medicine 2, no. 3 (September 2011): 167–76.
Zhicheng Guo et al., “Effect of High-Intensity Interval Training Combined With Fasting in the Treatment of Overweight and Obese Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis,” International Journal of Environmental Research and Public Health 19, no. 8 (April 12, 2022): 4638, https://doi.org/10.3390/ijerph19084638.
"When to exercise and which type of workouts best done during fasting." UNAIR. Diakses Februari 2026.
"Physical Activity Fact Sheet." World Health Organization. Diakses Februari 2026.
Panduan Melakukan HIIT dengan Aman saat Puasa Ramadan

HIIT tetap bisa dilakukan saat Ramadan, tetapi perlu penyesuaian waktu, intensitas, dan hidrasi untuk mengurangi risiko dehidrasi dan penurunan performa.
Bukti menunjukkan latihan intensitas tinggi pada kondisi tanpa asupan nutrisi dapat memengaruhi performa anaerobik dan persepsi kelelahan.
Faktor seperti hidrasi, nutrisi sahur dan berbuka, serta timing latihan memainkan peran besar dalam keamanan dan manfaat latihan saat berpuasa.
Selain menahan lapar dan haus, puasa Ramadan juga menjadi momen bagi banyak orang untuk menata hidup, termasuk aktivitas fisik seperti olahraga. Dengan banyaknya tren kebugaran, high-intensity interval training (HIIT) adalah salah satu yang populer karena efektivitasnya dalam meningkatkan kebugaran dalam waktu relatif singkat.
HIIT terdiri dari periode latihan intens yang sangat tinggi diikuti oleh fase pemulihan singkat. Metode ini dikenal karena manfaatnya dalam meningkatkan kapasitas aerobik dan metabolisme tubuh, serta potensi untuk membantu pengelolaan berat badan jika dilakukan rutin. Namun, HIIT biasanya butuh energi yang besar dan sumber daya fisiologis, yang menjadi pertimbangan penting ketika tubuh sedang berpuasa.
Lantas, apakah HIIT aman dilakukan saat tubuh berpuasa? Dan jika bisa dilakukan, kapan waktu yang paling tepat, serta apa saja panduannya agar manfaat tetap maksimal namun risiko tetap minimal?
Table of Content
HIIT dan puasa
Penelitian tentang kombinasi latihan intens seperti HIIT dengan kondisi puasa memang terbatas, terutama pada konteks puasa Ramadan yang juga melibatkan tidak minum selama periode panjang. Namun, bukti yang ada memberikan beberapa petunjuk penting.
Latihan intensitas tinggi pada kondisi puasa dapat meningkatkan rasa kelelahan dan persepsi upaya, terutama saat dilakukan di siang hari saat energi dan hidrasi sangat terbatas. Studi pada atlet menunjukkan bahwa performa anaerobik (seperti sprint atau interval intens) dapat menurun saat berpuasa.
Namun, bagi individu yang terbiasa dengan HIIT sebelum Ramadan, puasa tidak selalu berdampak buruk secara signifikan terhadap kapasitas aerobik atau performa keseluruhan, asalkan hidrasi dan nutrisi dipenuhi di luar jam puasa.
Metaanalisis dan kajian ilmiah menunjukkan bahwa latihan intensitas tinggi memiliki manfaat metabolik, termasuk peningkatan kapasitas kardiovaskular dan sensitivitas insulin, jika dilakukan dalam konteks nutrisi yang tepat, meskipun hasilnya bervariasi tergantung intensitas, durasi, dan status kebugaran seseorang.
Jika kamu masih bingung mengenai latihan HIIT saat puasa, ketahui aturan dasarnya di bawah ini.
1. Pilih waktu latihan yang tepat

Timing latihan sangat krusial. Karena HIIT menuntut energi cepat dan intens, melakukannya saat sedang berpuasa—tanpa nutrisi atau cairan—dapat meningkatkan risiko dehidrasi, penurunan tekanan darah, dan kelelahan ekstrem.
Waktu yang lebih aman adalah setelah berbuka puasa, ketika tubuh sudah menerima cairan dan nutrisi. Ini memberikan bahan bakar dan hidrasi yang cukup untuk mendukung latihan intens, serta membantu proses pemulihan selanjutnya.
Alternatifnya adalah melakukan sesi HIIT singkat segera sebelum berbuka, pada intensitas sedang, sehingga asupan makanan dan cairan dapat segera menggantikan energi yang terpakai.
2. Sesuaikan intensitas dan durasi latihan
HIIT tradisional melibatkan intensitas tinggi mendekati batas anaerobik tubuh, yang membutuhkan energi cepat dari glikogen otot. Saat puasa, cadangan glikogen cenderung menipis. Dalam kondisi ini, penting untuk menurunkan durasi dan intensitas HIIT, misalnya dengan interval yang lebih pendek dan total waktu latihan tidak lebih dari 20–30 menit.
Penelitian tentang olahraga dan puasa menunjukkan bahwa tubuh yang berlatih saat berpuasa cenderung mengalami perubahan dalam metabolisme—termasuk peningkatan pemanfaatan lemak sebagai bahan bakar—tetapi juga peningkatan respons hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Ini bisa memberikan manfaat tertentu, tetapi juga meningkatkan risiko kelelahan jika latihan terlalu berat.
3. Perhatikan hidrasi dan nutrisi sebelum dan setelah latihan

Dehidrasi adalah salah satu risiko utama latihan saat puasa karena tubuh tidak menerima cairan selama berjam-jam. Para ahli merekomendasikan untuk memaksimalkan hidrasi pada waktu sahur dan berbuka dengan minum air yang cukup dan elektrolit alami seperti buah atau minuman kaya mineral.
Nutrisi sebelum latihan (setelah berbuka) harus mencakup karbohidrat kompleks untuk kestabilan energi, serta protein untuk mendukung pemulihan otot. Ini penting terutama jika latihan dilakukan beberapa jam setelah berbuka, memberi tubuh waktu untuk mencerna makanan namun tetap menyediakan energi saat latihan.
4. Kenali batasan tubuhmu
Setiap tubuh berbeda. Hal yang aman dan nyaman bagi satu orang belum tentu aman untuk orang lain.
Penelitian pada atlet selama Ramadan menunjukkan bahwa rasa kelelahan dan motivasi latihan bisa berbeda ketika tubuh berpuasa, bahkan jika performa objektif tidak berubah drastis. Karena itu, penting untuk dikenali sendiri batasannya: jika detak jantung terlalu tinggi, pusing, atau sangat lemas, segera hentikan latihan atau kurangi intensitasnya.
Manfaat olahraga saat berpuasa

Walaupun menantang, tetapi jika dilakukan dengan strategi yang tepat, terutama pemilihan waktu latihan yang bijak, kombinasi puasa dan latihan intens seperti HIIT dapat bermanfaat untuk metabolik, termasuk peningkatan sensitivitas insulin dan kapasitas aerobik tubuh.
Artinya, puasa tidak otomatis berarti harus menghentikan aktivitas fisik total. Malahan, dengan perencanaan yang baik, olahraga bisa menjadi bagian dari rutinitas sehat selama Ramadan yang membantu tubuh tetap kuat dan bugar tanpa mengorbankan keseimbangan energi dan hidrasi.
HIIT tidak dilarang saat puasa Ramadan, tetapi memang perlu penyesuaian waktu, intensitas, dan hidrasi agar latihan tetap aman. Waktu terbaik umumnya setelah berbuka puasa, atau intensitas disesuaikan saat sebelum berbuka, untuk menghindari risiko dehidrasi dan penurunan performa karena keterbatasan energi.
Kuncinya adalah mendengarkan tubuh, menjaga hidrasi dan nutrisi saat sahur dan berbuka, serta tidak memaksakan diri di tengah puasa panjang. Dengan strategi yang tepat, HIIT bisa tetap menjadi rutinitas selama Ramadan tanpa mengorbankan kesehatan.
Referensi
![[QUIZ] Dari Warna Sepatu Olahragamu, Kami Tebak Cara Kamu Hadapi Tantangan](https://image.idntimes.com/post/20220409/pexels-run-ffwpu-2526878-231598487f96cc977f2f775a83051a8e-0f10c519478ccc720c29106b6975c7b5.jpg)









![[QUIZ] Genre Musik Favoritmu Menunjukkan Cara Tubuhmu Menghadapi Stres Fisik](https://image.idntimes.com/post/20250601/pexels-cottonbro-6875743-535a16e7fb7bdc23245ff21afd8e8c4f-8d474d21ca64c6270a28cc912387b000.jpg)







![[QUIZ] Dari Kebiasaan Saat Bukber, Kami Tahu Kecenderungan NPD dalam Dirimu](https://image.idntimes.com/post/20240322/kuis-kecenderungan-narsisme-cf334c99630e8453e01ee01e0ebbaaf3.jpg)