Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menguak Rahasia si Hidung Bintang, 5 Fakta Unik Condylura Cristata

Menguak Rahasia si Hidung Bintang, 5 Fakta Unik Condylura Cristata
Condylura cristata (Hillbraith, Public Domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Mole berhidung bintang hidup di habitat lembap Amerika Utara dengan hidung unik berisi lebih dari 25.000 organ Eimer, menjadikannya mamalia dengan indera peraba paling sensitif.
  • Hewan ini memegang rekor mamalia tercepat dalam proses makan, mampu mengenali dan menelan mangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat detik berkat kecepatan sensoriknya.
  • Condylura cristata bersifat semi-akuatik, dapat mencium bau di air melalui gelembung udara, tetap aktif berburu saat musim dingin, dan mengandalkan sentuhan sebagai penglihatan utama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernahkah kamu mendengar tentang hewan pengerat dengan hidung yang bentuknya menyerupai bintang? Di rawa-rawa dan tanah lembap Amerika Utara, ada seekor mamalia kecil yang dikenal sebagai mole berhidung bintang atau Condylura cristata. Hewan ini hidup di habitat basah, sering kali dekat dengan sungai atau danau, bersembunyi di dalam liang-liang yang ia gali.

Meskipun ukurannya tidak jauh berbeda dengan hamster, penampilannya sungguh mencolok dan jadi perbincangan. Ia memiliki 22 tentakel berdaging yang mengelilingi lubang hidungnya, membuatnya terlihat seperti bintang. Bentuk hidung yang super unik inilah yang membuatnya bisa bertahan hidup di lingkungan gelap dan menemukan makanan dengan cara yang tak terbayangkan.

1. Hidung berbentuk bintang punya ribuan sensor peraba

Condylura cristata
Condylura cristata (Dan MacNeal, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Hidung bintang pada mole ini bukan cuma hiasan, melainkan organ sensorik paling istimewa. Bentuknya melingkar dengan 22 tentakel berwarna merah muda yang berdaging. Tentakel-tentakel ini bergerak sangat cepat, terus-menerus menyentuh lingkungan sekitarnya.

Setiap tentakelnya ditutupi oleh puluhan ribu organ kecil yang disebut organ Eimer. Total ada lebih dari 25.000 organ Eimer di seluruh hidung bintang yang ukurannya bahkan kurang dari satu sentimeter persegi. Jumlah ini jauh lebih banyak dan lebih sensitif dibandingkan organ peraba pada tangan manusia. Organ-organ inilah yang memungkinkan mole berhidung bintang merasakan objek dengan detail mikroskopis, bahkan mendeteksi getaran paling samar di tanah. Kepekaan yang luar biasa ini menjadikan hidung bintangnya sebagai organ peraba paling sensitif di antara semua mamalia yang diketahui.

2. Proses makan paling cepat di antara semua mamalia di bumi

Condylura cristata
Condylura cristata (Dan MacNeal, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Kecepatan mole berhidung bintang dalam menemukan dan memakan mangsa sungguh mencengangkan. Mereka memegang rekor sebagai mamalia dengan proses makan tercepat di dunia. Seekor mole berhidung bintang bisa mengidentifikasi apakah suatu objek adalah makanan dan langsung melahapnya hanya dalam waktu kurang dari seperempat detik.

Dilansir EurekAlert!, mamalia ini hanya membutuhkan sekitar 8 milidetik untuk memutuskan apakah suatu benda bisa dimakan atau tidak. Kecepatan ini mendekati batas fisiologis transmisi sinyal saraf di dalam tubuh. Saat berburu, tentakel-tentakel hidung bintangnya dapat menyentuh hingga 12 titik berbeda setiap detiknya. Jika menemukan mangsa potensial, ia akan dengan cepat memfokuskan tentakel terpendeknya yang paling sensitif untuk pemeriksaan lebih lanjut, lalu langsung memakannya. Kemampuan luar biasa ini memastikan mereka bisa mendapatkan energi cukup dari mangsa kecil yang tersebar di habitatnya.

3. Bisa mencium bau mangsa di dalam air dengan unik

Condylura cristata
Condylura cristata (U.S. Fish and Wildlife Service, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Uniknya, mole berhidung bintang juga mampu mencium bau di dalam air, sebuah kemampuan yang jarang dimiliki mamalia lain. Untuk melakukannya, mole ini memiliki metode yang sangat cerdik. Ia akan meniupkan gelembung-gelembung udara kecil ke objek atau jejak bau di dalam air.

Setelah gelembung-gelembung tersebut berinteraksi dengan sumber bau, mole akan menghirup kembali gelembung udara tersebut ke lubang hidungnya. Proses ini memungkinkan mole untuk membawa molekul bau kembali ke reseptor penciumannya, sehingga ia bisa mengidentifikasi mangsa atau bahkan predator potensial di lingkungan akuatik. Kemampuan adaptasi ini menunjukkan betapa ekstremnya evolusi yang terjadi pada Condylura cristata agar bisa bertahan hidup di habitat basah yang mereka diami.

4. Hidup semi-akuatik, tetap aktif berburu saat musim dingin

Berbeda dari sebagian besar spesies mole lain, Condylura cristata adalah hewan semi-akuatik. Mereka sangat betah tinggal di area dengan tanah lembap, rawa-rawa, dan pinggir sungai atau danau di wilayah Amerika Utara. Dengan kaki depannya yang besar dan cakar kuat, mereka bukan hanya mahir menggali terowongan di tanah lembap, tetapi juga sangat andal berenang.

Tubuh mole berhidung bintang didukung oleh bulu gelap yang tahan air dan kaki yang berfungsi seperti dayung saat di dalam air. Mereka dapat berburu makanan di dasar aliran air dan kolam. Bahkan, saat musim dingin tiba dan air membeku, mereka tidak hibernasi. Dilansir Fact Animal, mole ini tetap aktif bergerak, menggali terowongan di bawah salju, dan berenang di bawah lapisan es untuk mencari makanan. Adaptasi ini memungkinkan mereka mengakses sumber makanan yang sulit dijangkau hewan lain selama bulan-bulan yang dingin.

5. Menggunakan sentuhan sebagai "penglihatan" utama di lingkungan gelap

Condylura cristata
Condylura cristata (Hillbraith, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Meskipun memiliki mata, penglihatan mole berhidung bintang sangatlah buruk; mata mereka nyaris tidak berguna dan hanya bisa membedakan terang dan gelap. Oleh karena itu, mole ini sangat bergantung pada hidung bintangnya sebagai indera "penglihatan" utama. Mereka membangun "peta" taktil dari lingkungan sekitar mereka melalui sentuhan cepat dan berulang-ulang dari tentakelnya.

Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Kenneth Catania menunjukkan bahwa cara otak mole memproses informasi dari hidung bintangnya sangat mirip dengan bagaimana otak manusia memproses informasi visual. Ada area kecil di tengah hidung bintang, yang disebut touch fovea, yang digunakan mole untuk eksplorasi paling detail, mirip dengan fovea pada mata kita untuk penglihatan tajam. Paralel ini menunjukkan bahwa evolusi seringkali menggunakan strategi serupa untuk membangun sistem sensorik resolusi tinggi, baik itu berbasis penglihatan maupun sentuhan.

Condylura cristata memang makhluk yang penuh kejutan, ya? Kemampuan adaptasi dan organ-organ uniknya mengajarkan kita banyak hal tentang keajaiban evolusi. Dari hidung bintangnya yang supersensitif hingga cara berburunya yang kilat, mole ini benar-benar contoh sempurna bagaimana alam menciptakan solusi inovatif untuk bertahan hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More