Pada akhirnya, persoalan karhutla bukan hanya tentang berapa banyak lahan yang terbakar atau berapa banyak titik api yang terdeteksi. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat.
NASA mencatat asap dari kebakaran 2026 telah mengganggu kehidupan sehari-hari, mulai dari sekolah yang beralih ke pembelajaran jarak jauh, penutupan taman nasional hingga gangguan penerbangan.
Di Kalimantan Barat, misalnya, kabut asap dilaporkan telah memicu keluhan sesak napas pada anak-anak dan kasus ISPA. Pada saat yang sama, kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan sempat masuk kategori berbahaya.
Baik di Tanah Air maupun negara-negara tetangga, asap akibat kebakaran hutan telah menyebabkan gangguan yang meluas. Sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.
Artinya, ketika api tidak terlihat atau angka hotspot menurun, bukan berarti risikonya ikut hilang. Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya seberapa banyak titik api yang berhasil dipadamkan, tetapi apakah mereka bisa kembali menghirup udara bersih, anak-anak dapat bersekolah dengan aman, dan aktivitas sehari-hari tidak lagi terganggu.
Pada tahun 2015, setelah berkobar selama lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia telah melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca—lebih banyak daripada emisi Jepang dalam setahun.
Per 2 September, kebakaran di Indonesia pada tahun 2026, yang telah berkobar selama sekitar satu bulan, telah melepaskan sekitar 10 persen dari jumlah emisi kebakaran tahun 2015.
Dan di sinilah persoalan karhutla menjadi lebih dari sekadar bencana alam, masyarakat kembali menanggung konsekuensi dari persoalan lingkungan yang terus berulang.