Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
NASA Ungkap Sisi Gelap Karhutla, Hotspot Turun Belum Tentu Api Padam
Foto terbaru Kalimantan dari atas yang diambil pada Selasa (1/9/2026) oleh instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectoradiometer) pada satelit Aqua milik NASA (dok. NASA)
  • NASA mengingatkan penurunan hotspot tidak selalu menandakan api padam, karena kebakaran gambut dapat membara di bawah tanah dan sulit terdeteksi satelit saat tertutup asap atau tajuk hutan.
  • Kekeringan akibat El Niño, pengeringan gambut, kanal drainase, perkebunan, dan aktivitas manusia memperbesar kerentanan karhutla; kebakaran 2026 menguji efektivitas restorasi serta pencegahan pasca-2015.
  • Asap kebakaran 2026 mengganggu sekolah, penerbangan, taman nasional, dan kesehatan warga, termasuk keluhan sesak napas serta ISPA di Kalimantan Barat; sejumlah wilayah sempat berstatus kualitas udara berbahaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2015

Kebakaran besar di Indonesia melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca setelah berkobar lebih dari tiga bulan.

2026

Kebakaran kembali menjadi ujian bagi upaya mitigasi pasca-2015. Asap kebakaran mengganggu sekolah, taman nasional, penerbangan, kesehatan, dan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan.

Akhir Agustus 2026

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan tren hotspot karhutla nasional mulai menurun.

Per 2 September

Kebakaran Indonesia pada 2026 yang telah berlangsung sekitar satu bulan melepaskan emisi sekitar 10 persen dari total emisi kebakaran 2015.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    NASA mengingatkan penurunan titik panas karhutla di Indonesia belum memastikan api padam, karena kebakaran gambut dapat terus membara di bawah permukaan tanah.
  • Who?
    Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, pemerintah, serta masyarakat di wilayah terdampak asap terlibat dalam situasi ini.
  • Where?
    Kebakaran terjadi di Indonesia, termasuk Kalimantan Barat dan sejumlah wilayah Kalimantan; asapnya juga mengganggu negara-negara tetangga.
  • When?
    Tren hotspot nasional dilaporkan menurun pada akhir Agustus 2026. Per 2 September 2026, kebakaran telah berlangsung sekitar satu bulan.
  • Why?
    El Niño memperparah musim kering, sementara pengeringan gambut, kanal drainase, dan penggunaan lahan perkebunan membuat gambut lebih mudah terbakar.
  • How?
    Api menjalar dan membara di dalam gambut. Satelit MODIS dan VIIRS dapat sulit mendeteksinya ketika api tertutup asap tebal, tajuk hutan, atau berada di bawah tanah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Titik panas kebakaran hutan di Indonesia mulai turun, kata Menteri Raja Juli Antoni. Tapi NASA bilang api di tanah gambut bisa masih menyala di bawah tanah. Asap tetap mengganggu anak-anak, sekolah, pesawat, dan napas orang di Kalimantan. Sekarang api harus benar-benar dikendalikan supaya udara kembali aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penurunan hotspot, meski perlu dibaca secara hati-hati, tetap membuka ruang untuk menilai ketahanan langkah penanganan yang dibangun sejak 2015. Penyekatan kanal, restorasi gambut, dan peningkatan kemampuan pemadaman kini diuji dalam musim kering ekstrem, sementara pemantauan NASA memperjelas kebutuhan untuk melihat kondisi api secara lebih menyeluruh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada akhir Agustus 2026, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, tren titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional mulai menurun. Dari angkasa, Indonesia tampak seperti peta dengan titik-titik api.

Ketika jumlah titik itu berkurang, publik mungkin mengira ancaman karhutla ikut mereda. Namun, Badan Penerbangan dan Antariksa (NASA) menunjukkan ada sisi lain yang tidak selalu terlihat dari angka hotspot di mana api gambut dapat terus membara di bawah permukaan tanah.

Hotspot turun belum tentu api padam

Penurunan jumlah hotspot memang bisa menjadi kabar baik, tetapi bukan berarti karhutla telah sepenuhnya berakhir. Laporan terbaru NASA menunjukkan, kebakaran di lahan gambut Indonesia dapat menjadi jauh lebih sulit dipantau karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga terus membara di bawah tanah.

Kondisi ini membuat angka hotspot perlu dibaca dengan hati-hati. Satelit seperti MODIS dan VIIRS yang digunakan untuk memantau kebakaran secara near real-time dapat kesulitan mendeteksi api yang tertutup asap tebal, berada di bawah tajuk hutan, atau membara di dalam gambut. Bahkan, ketika kebakaran dan asap semakin parah, jumlah api yang terdeteksi satelit justru bisa menurun.

Artinya, hotspot yang turun tidak selalu berarti api sudah padam. Bagi masyarakat, indikator yang lebih penting adalah apakah api benar-benar terkendali, asap berkurang dan kualitas udara kembali aman.

Persoalannya menjadi semakin serius karena Indonesia memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Ketika gambut mengering akibat kekeringan, api dapat menjalar ke bawah permukaan dan bertahan lebih lama hingga hujan datang.

Dengan kata lain, apa yang terlihat sebagai titik-titik api dari satelit hanyalah sebagian dari persoalan. Ada kebakaran yang mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya tetap bisa dirasakan masyarakat di darat.

“Paradoksnya, peristiwa asap terparah justru bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS,” kata Mark Cochrane, seorang ahli ekologi di Pusat Ilmu Lingkungan Universitas Maryland yang telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.

Kenapa karhutla di Indonesia terus berulang?

Ilustrasi kebakaran hutan yang terjadi akibat slash and burn (Shutterstock/Peter J. Wilson)

El Niño memang membuat musim kering tahun ini lebih berat. Namun, cuaca bukan satu-satunya alasan mengapa kebakaran mudah terjadi. NASA mencatat, pengeringan lahan gambut dan pembangunan kanal drainase pada masa lalu telah menurunkan muka air tanah sehingga gambut menjadi lebih mudah terbakar. Penggunaan lahan untuk perkebunan juga membuat persoalan ini semakin kompleks.

"El Niño yang kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah-wilayah rawan kebakaran di negara ini dan memperparah kebakaran—persis seperti yang kami perkirakan," lanjut Mark.

Setelah bencana besar 2015, berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi risiko, mulai dari penyekatan kanal dan restorasi lahan gambut hingga peningkatan kemampuan pemadaman. Karena itu, kebakaran 2026 menjadi semacam stress test—apakah langkah-langkah yang dibangun setelah 2015 benar-benar mampu menghadapi kondisi ekstrem seperti sekarang?

Pertanyaan ini penting karena pemerintah sebenarnya tidak hanya berhadapan dengan faktor alam. Menhut juga mengakui bahwa kerusakan akibat kebakaran banyak dipengaruhi aktivitas manusia, sementara El Niño memperburuk kondisi yang sudah rentan.

Dengan demikian, persoalan karhutla tidak cukup dijawab dengan seberapa cepat pemerintah memadamkan api, tetapi juga seberapa efektif negara mencegah lahan kembali menjadi mudah terbakar ketika musim kering datang.

Masyarakat menanggung dampaknya

Pada akhirnya, persoalan karhutla bukan hanya tentang berapa banyak lahan yang terbakar atau berapa banyak titik api yang terdeteksi. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

NASA mencatat asap dari kebakaran 2026 telah mengganggu kehidupan sehari-hari, mulai dari sekolah yang beralih ke pembelajaran jarak jauh, penutupan taman nasional hingga gangguan penerbangan.

Di Kalimantan Barat, misalnya, kabut asap dilaporkan telah memicu keluhan sesak napas pada anak-anak dan kasus ISPA. Pada saat yang sama, kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan sempat masuk kategori berbahaya.

Baik di Tanah Air maupun negara-negara tetangga, asap akibat kebakaran hutan telah menyebabkan gangguan yang meluas. Sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya.

Artinya, ketika api tidak terlihat atau angka hotspot menurun, bukan berarti risikonya ikut hilang. Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya seberapa banyak titik api yang berhasil dipadamkan, tetapi apakah mereka bisa kembali menghirup udara bersih, anak-anak dapat bersekolah dengan aman, dan aktivitas sehari-hari tidak lagi terganggu.

Pada tahun 2015, setelah berkobar selama lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia telah melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca—lebih banyak daripada emisi Jepang dalam setahun.

Per 2 September, kebakaran di Indonesia pada tahun 2026, yang telah berkobar selama sekitar satu bulan, telah melepaskan sekitar 10 persen dari jumlah emisi kebakaran tahun 2015.

Dan di sinilah persoalan karhutla menjadi lebih dari sekadar bencana alam, masyarakat kembali menanggung konsekuensi dari persoalan lingkungan yang terus berulang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article