ilustrasi kalender hijriah (commons.wikimedia.org/مشاري محمد بن خنين)
Al-Battani berhasil menghitung panjang satu tahun matahari dengan nilai 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Angka ini sangat dekat dengan nilai modern, hanya berbeda beberapa menit saja. Ketelitian tersebut penting karena pergeseran kecil dalam hitungan tahun dapat memengaruhi posisi bulan dalam kalender jangka panjang. Tanpa koreksi ini, penentuan awal Ramadan bisa bergeser secara signifikan dari waktu sebenarnya.
Al-Zarqali kemudian memperbaiki sistem kalender dengan mengembangkan model gerak matahari yang lebih realistis. Ia juga menciptakan instrumen pengamatan yang membantu memverifikasi perhitungan tersebut secara langsung. Kombinasi perhitungan matematis dan observasi membuat kalender Hijriah tetap selaras dengan siklus bulan. Konsep koreksi orbit yang mereka kembangkan menjadi langkah penting menuju astronomi modern.
Penemuan astronomi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan menentukan waktu ibadah selama Ramadan justru mendorong inovasi yang berdampak luas hingga dunia modern. Instrumen dan metode hitung yang dikembangkan bukan hanya dipakai di wilayah Islam, tetapi juga menjadi fondasi astronomi global. Menariknya, seberapa banyak warisan astronomi ini masih dikenali dalam kehidupan sekarang?
Referensi:
"The Astronomical Calculations and Ramadan" Alukah. Diakses pada Februari 2026
"Astronomy and Islam: An Analytical Study of Scientific and Jurisprudential Aspects in the Light of Quran and Hadith" Assa Journal. Diakses pada Februari 2026
"Astronomical Innovation in the Islamic World" Library of Congress. Diakses pada Februari 2026