Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Penemuan Ilmiah Paling Mengejutkan pada 2025

ilustrasi tim peneliti sedang menguji komputer kuantum
ilustrasi tim peneliti sedang menguji komputer kuantum (commons.wikimedia.org/FMNLab)
Intinya sih...
  • Sains kesehatan melaju pesat lewat AI dan teknologi pengeditan gen yang mulai benar-benar menyelamatkan nyawa.
  • Komputer kuantum akhirnya keluar dari laboratorium dan mulai dipakai untuk kebutuhan dunia nyata.
  • Antariksa kembali bikin takjub dengan komet antarbintang dan sinyal kimia yang mengarah ke kemungkinan kehidupan lain.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selayaknya dunia hiburan yang terus menghadirkan banyak tren baru sepanjang 2025, dunia sains pun tak ingin kalah. Malahan, 2025 bisa dibilang sangat spesial karena ada banyak terobosan, penemuan baru yang mencengangkan, sampai fakta baru dari sains yang sudah diteliti selama bertahun-tahun lamanya. Dengan demikian, kita sebagai umat manusia jadi bisa mengatasi ancaman penyakit, memperkaya inovasi, serta mempertajam wawasan berkat temuan sains pada 2025.

Bayangkan saja, mulai dari ilmu terkait kesehatan, teknologi, alam, sampai antariksa terus berkembang sampai ke tahap yang mungkin tidak kita sangka-sangka sebelumnya. Karena itu, yuk, kita cari tahu beberapa penemuan sains paling mind-blowing sepanjang 2025 ini. Simak ulasan di bawah sampai tuntas, ya!

1. Akal imitasi untuk diagnosis penyakit

ilustrasi ahli radiologi sedang melihat hasil MRI
ilustrasi ahli radiologi sedang melihat hasil MRI (commons.wikimedia.org/The Medical Futurist)

Salah satu alasan kenapa umat manusia selalu mengembangkan sains sejak dulu ialah demi kemaslahatan bersama. Nah, bidang kesehatan jadi salah satu aspek yang paling penting untuk mewujudkan hal tersebut. Karenanya, saat ini manusia sudah berkembang sampai pada tahap menggunakan teknologi canggih untuk mendeteksi keberadaan penyakit berbahaya, bahkan sebelum gejala muncul.

Nama teknologi tersebut adalah population evolutionary model of variant effect (popEVE), sebuah model akal imitasi atau artificial intelligence (AI) yang dikembangkan oleh tim peneliti Harvard Medical School. Dalam laman Harvard University, disebutkan kalau popEVE bekerja terbukti mampu memberikan prediksi potensi munculnya penyakit serius bagi kelompok populasi tertentu berdasarkan varian genetik yang ada.

Nantinya, popEVE akan menganalisis data genomik dengan data populasi di suatu tempat guna menilai keberadaan mutasi genetik tertentu di populasi tersebut. Setelah hasilnya diperoleh, akal imitasi ini kemudian menghasilkan skor yang menentukan seberapa besar mutasi genetik yang terjadi di sana berpotensi menghasilkan penyakit berbahaya atau tidak. Sejauh ini, popEVE sudah berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 perubahan baru yang menghasilkan penyakit genetik langka yang belum terdiagnosis sebelumnya.

Adapun, menurut Debora Marks, profesor biologi yang turut mengembangkan akal imitasi ini, tujuan dari hadirnya popEVE ialah mengurutkan variasi penyakit berdasarkan tingkat keparahannya agar petugas medis jadi tahu soal mana yang harus diprioritaskan. Oh, ya, jurnal yang membahas soal inovasi popEVE ini diterbitkan pada 24 November 2025 silam oleh Nature Genetics dengan judul “Proteome-wide model for human disease genetics”.

2. Teknologi menulis ulang genetik makhluk hidup

ilustrasi rantai DNA makhluk hidup
ilustrasi rantai DNA makhluk hidup (commons.wikimedia.org/LadyofHats Mariana Ruiz)

Masih dari inovasi di dunia kesehatan, kali ini ada teknologi yang mampu menulis ulang genetik dari makhluk hidup, termasuk manusia. Inovasi ini datang dari David Liu, seorang profesor dari Harvard University dan Broad Institute yang juga ahli biologi molekuler serta kimiawan. Lewat penghargaan “2025 Breakthrough Prize” yang digelar 5 April 2025 silam, inovasi Liu dalam bidang genetik pun diungkap.

Harvard University melansir kalau Liu bersama tim lintas organisasi berhasil mengembangkan teknologi CRISPR-Cas9, sebuah teknologi pengubah gen yang didasarkan pada protein di dalam bakteri yang bekerja layaknya sebuah “gunting” DNA. Jadi, temuan Liu dan timnya ini bekerja dengan cara memotong untaian ganda DNA manusia untuk mengoreksi mutasi genetik yang berpotensi menghasilkan penyakit. Cara mengedit gen tersebut dilakukan dengan dua pendekatan berbeda, yakni penyunting basa dan penyunting primer.

Dalam untaian DNA manusia, terdapat basa nukleotida yang digambarkan dengan huruf A, C, G, dan T. Nantinya, penyuntingan basa bekerja dengan cara menukar, mengganti, atau menghapus keempat huruf tersebut sesuai dengan temuan potensi penyakit genetik. Pada kasus penyakit genetik disebabkan pertukaran huruf tunggal, huruf tambahan, atau huruf yang dihilangkan, Liu dan timnya memanfaatkan penyunting utama. Sebab, penyunting utama mampu mencari bagian DNA yang cacat dan menggantinya dengan DNA sintesis yang ditemukan pada tubuh pasien.

Berkat terobosan Liu dan timnya ini, sudah ada puluhan pasien yang berhasil diobati. Selain itu, sudah ada 18 uji klinis yang memanfaatkan teknologi penyunting basa dan/atau penyunting primer dalam mengobati banyak penyakit genetik. Yang paling mengharukan ialah kisah Alyssa Tapley, seorang remaja pengidap T-cell leukemia yang menunjukkan peningkatan kondisi setelah 2,5 tahun menjalani pengobatan oleh Liu.

3. Kehadiran objek luar angkasa ke dalam Tata Surya

tangkapan foto teleskop dari Komet 3I/ATLAS
tangkapan foto teleskop dari Komet 3I/ATLAS (commons.wikimedia.org/International Gemini Observatory/NOIRLab/NSF/AURA/B Bolin)

Dunia antariksa jadi salah satu bidang yang selalu menghadirkan kejutan untuk umat manusia. Soalnya, alam semesta yang sangat luas ini pasti menyimpan lautan misteri yang sangat menarik untuk diungkap. Kalau dibayangkan, mungkin umat manusia baru berhasil mengungkap setetes air saja dari lautan tersebut, bahkan sampai akhir 2025 ini.

Nah, salah satu dari tetesan pengetahuan tentang dunia antariksa itu adalah “pengunjung” Tata Surya kita yang baru-baru ini melintas dekat Matahari pada 29 Oktober 2025 dan mendekati Bumi pada 19 Desember 2025. Objek tersebut adalah sebuah komet yang bernama 3I/ATLAS. Dilansir Smithsonian Magazine, 3I/ATLAS pertama kali terdeteksi dari teleskop di Chili bernama Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) hasil kerja sama dengan NASA pada 1 Juli 2025.

Kala itu, 3I/ATLAS bergerak dengan kecepatan 220.480 km per jam yang artinya jauh lebih cepat untuk sebuah objek mengorbit pada Matahari. Karena itu, ahli astronomi langsung menduga kalau 3I/ATLAS adalah komet yang masuk dari luar Tata Surya kita. Kerennya, sejauh ini umat manusia baru berhasil mendeteksi tiga objek luar angkasa dari luar yang masuk ke Tata Surya kita. Ketiganya antara lain 1I/‘Oumuamua (2017), 2I/Borisov (2019), dan 3I/ATLAS (2025).

Berdasarkan pengamatan lebih lanjut dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble, 3I/ATLAS ternyata merupakan komet yang terbuat dari es yang padat bernama nukleus. Ukurannya diperkirakan sekitar 426 meter—5,6 km, sementara titik terdekatnya dengan Bumi pada 19 Desember 2025 kemarin sekitar 273 juta km. Adapun, 3I/ATLAS diperkirakan akan meninggalkan Tata Surya kita pada Maret 2026 mendatang setelah melintas di dekat Jupiter. Sayangnya, komet yang satu ini tidak akan kembali lagi ke Tata Surya kita.

4. Komputer kuantum mulai mendapat panggung

prosesor yang digunakan untuk komputer kuantum
prosesor yang digunakan untuk komputer kuantum (commons.wikimedia.org/Anita Fors [Chalmers])

Komputer kuantum sudah sejak lama digadang-gadang sebagai temuan revolusioner yang mampu menyelesaikan berbagai masalah bagi kehidupan modern manusia. Namun, sejauh ini, teknologi tersebut masih dalam tahap pengembangan sehingga penggunaannya secara luas belum dapat dilakukan. Meski begitu, komputer kuantum ternyata sudah memulai progres yang signifikan karena perlahan turut diaplikasikan pada berbagai bidang.

Dilansir American Chemical Society, kebanyakan teknologi komputer kuantum yang mulai digunakan pada 2025 ini dipakai untuk bidang pembuatan dan/atau penemuan obat yang masih sukar dilakukan superkomputer. Peneliti yang menggunakan model komputer kuantum ini masih berusaha mengeksplorasi kemungkinan percepatan penemuan obat baru karena jenis komputer tersebut mampu melakukan simulasi perilaku molekul yang jauh lebih kompleks. Selain itu, pemodelan pelipatan protein pada komputer kuantum juga lebih efisien ketimbang superkomputer.

Selain sektor kesehatan, 2025 juga menandakan implementasi komputer kuantum pada bidang agrikultur, prakiraan cuaca, sampai potensi komersialisasi. Komersialisasi tersebut diprakarsai Google, Microsoft, serta Atom Computing. Berkat sederet kemajuan itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan 2025 sebagai “The International Year of Quantum Science and Technology” (IYQ).

5. Temuan mengejutkan soal “kehidupan” di luar Bumi

ilustrasi Planet K2-18a yang sangat mirip dengan Bumi
ilustrasi Planet K2-18a yang sangat mirip dengan Bumi (commons.wikimedia.org/ESA/Hubble, M Kornmesser)

Kembali ke bidang antariksa, kali ini ada penemuan mengejutkan dari salah satu pertanyaan paling populer pada bidang tersebut: soal keberadaan kehidupan di luar Bumi. Selama ini, kita selalu bertanya-tanya apakah hanya Bumi yang jadi planet berpenghuni di luar alam semesta yang sangat luas ini? Nah, tirai yang menutup jawaban atas pertanyaan itu perlahan mulai tersingkap pada 2025 berkat kegigihan tim peneliti yang terus mencari dan berharap.

Dilansir Smithsonian Magazine, James Webb Space Telescope meluncurkan data soal planet luar Tata Surya bernama K2-18b yang berada sekitar 124 tahun cahaya dari Bumi. Berdasarkan Astrophysical Journal Letters, K2-18b jadi kandidat planet yang sangat sempurna untuk menampung kehidupan. Sebenarnya, kita belum benar-benar menemukan kehidupan berupa organisme di sana. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang membuat potensi keberadaan kehidupan di K2-18b sangat terbuka.

Soalnya, atmosfer K2-18b terdeteksi memiliki dimetil sulfida (DMS) dan dimetil disulfida (DMDS), dua gas berbasis sulfur yang juga ditemukan di Bumi. Kerennya, gas-gas itu juga diproduksi oleh makhluk hidup seperti alga sehingga jadi pertanda kalau ada potensi kehidupan di sana. Lebih-lebih lagi, K2-18b adalah planet yang kaya akan hidrogen dan memiliki air di permukaannya. Dengan demikian, tim peneliti menduga kalau mungkin saja ada kehidupan sederhana berupa mikroorganisme ataupun alga di Planet K2-18b.

Hanya saja, DMS dan DMDS sebenarnya bukan gas yang identik dengan makhluk hidup. Itu karena keduanya tetap bisa diproduksi di suatu planet tanpa bantuan organisme. Oleh karena itu, masih perlu pengamatan lebih lanjut lagi untuk membuktikan keberadaan organisme di dalam K2-18b.

Beberapa temuan di atas hanya sedikit dari banyaknya terobosan, inovasi, sampai penemuan terbaru dari sains sepanjang 2025. Namun, dari perwakilan itu saja, rasanya kita sudah mendapat gambaran soal sudah semaju apa sains yang dihimpun umat manusia selama ribuan hingga jutaan tahun lamanya. Rasanya jadi makin penasaran dengan penemuan sains yang ada pada 2026, kan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Science

See More

7 Bangunan Karya Frank Gehry yang Menantang Logika Arsitektur

07 Jan 2026, 12:49 WIBScience