Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sekitar 50 Jenis Ikan Asing Masuk Indonesia, Termasuk Ikan Sapu-sapu
ilustrasi ikan sapu-sapu (freepik.com/eyeem
  • Sekitar 50 jenis ikan asing telah masuk ke perairan Indonesia, dengan 18 di antaranya bersifat invasif dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.
  • Kondisi perairan yang tercemar dan karakter tropis Indonesia mempercepat adaptasi serta penyebaran spesies asing seperti ikan sapu-sapu yang tahan terhadap lingkungan ekstrem.
  • BRIN menekankan pentingnya pengendalian jangka pendek dan panjang melalui monitoring, edukasi, restorasi habitat, serta regulasi agar invasi tidak mengancam keberlanjutan sumber daya air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Keberadaan spesies asing invasif di perairan Indonesia telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem secara signifikan.

Berdasarkan hasil publikasi ilmiah 'Distributional Mapping and Impacts of Invasive Alien Fish in Indonesia: An Alert to Inland Waters Sustainability', tercatat sekitar 50 jenis ikan asing telah tersebar di perairan Indonesia, dengan 18 di antaranya memiliki sifat invasif.

Karakteristik perairan Indonesia

Studi tersebut menjadi rujukan penting dalam memahami dinamika invasi biologis di perairan darat Indonesia. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto menjelaskan bahwa kondisi lingkungan perairan sangat menentukan keberhasilan spesies asing dalam beradaptasi dan berkembang.

Perairan yang mengalami degradasi, seperti pencemaran, sedimentasi tinggi, atau perubahan habitat, cenderung lebih rentan terhadap invasi. Di sisi lain, karakteristik perairan tropis Indonesia yang memiliki suhu relatif stabil sepanjang tahun dan produktivitas tinggi justru mempercepat kolonisasi spesies asing.

“Lingkungan tropis menyediakan sumber pakan melimpah dan habitat yang beragam, sehingga menjadi semacam ‘surga ekologis’ bagi spesies asing. Hal ini memperbesar tekanan terhadap keanekaragaman hayati lokal,” ujarnya, dikutip dari situs resmi.

Salah satu contoh nyata adalah ikan sapu-sapu yang kini banyak ditemukan di berbagai sungai, termasuk Sungai Ciliwung. Spesies ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi air yang buruk dan kadar oksigen rendah, tingkat reproduksi tinggi, serta perilaku menjaga telur yang meningkatkan keberhasilan hidup larva. Tubuhnya yang dilapisi lempeng tulang juga membuatnya relatif tahan terhadap predator.

Cara mengendalikan populasi

ilustrasi ikan sapu-sapu (unsplash.com/Indula Chanaka)

Pengendalian populasi dapat dilakukan melalui penangkapan intensif atau eradikasi lokal di wilayah tertentu. Di sisi lain, pemanfaatan spesies invasif sebagai bahan baku pakan, pupuk, atau produk industri dinilai dapat menjadi solusi tambahan untuk menekan populasinya.

Secara strategis, pengendalian spesies invasif perlu dilakukan dalam dua horizon waktu. Dalam jangka pendek (1–2 tahun), langkah yang dapat diambil meliputi monitoring rutin, identifikasi habitat, penangkapan massal, edukasi masyarakat, serta eksplorasi pemanfaatan alternatif.

Sedangkan dalam jangka panjang (3–10 tahun), diperlukan upaya lebih sistematis seperti restorasi habitat, peningkatan kualitas air, reintroduksi ikan lokal, penguatan regulasi, riset lanjutan, serta kolaborasi multipihak.

Triyanto menegaskan, tanpa intervensi yang terencana dan berkelanjutan, invasi spesies asing berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya perairan darat Indonesia.

“Ini bukan sekadar isu keanekaragaman hayati, tetapi juga menyangkut ketahanan ekosistem dan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada perairan,” sebutnya

Ada yang bermanfaat secara ekonomi

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro, menekankan bahwa tidak semua spesies asing bersifat berbahaya. Namun, setiap spesies tetap memiliki potensi menjadi invasif tergantung pada kondisi lingkungan dan karakter biologisnya.

“Karena itu, prinsip kehati-hatian harus diterapkan dalam setiap upaya introduksi spesies. Sebelum didatangkan, perlu dilakukan kajian komprehensif terkait kemampuan reproduksi, toleransi lingkungan, hingga interaksinya dengan spesies lokal,” jelas Gema.

Ia juga menyoroti pentingnya aspek kesehatan ikan untuk mencegah masuknya patogen atau parasit baru ke dalam ekosistem perairan Indonesia. Selain itu, sistem pemeliharaan yang terkontrol perlu disiapkan guna mencegah pelepasan ke lingkungan alami yang berpotensi menimbulkan dampak ekologis.

Menurut Gema, beberapa spesies asing seperti ikan mas, mujair, nila, dan lele dumbo (Clarias gariepinus) memang memiliki nilai ekonomi tinggi dan telah dimanfaatkan secara luas di Indonesia, meskipun bukan merupakan spesies asli. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan yang tepat dapat memaksimalkan manfaat tanpa mengabaikan risiko ekologis

Editorial Team