Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Spesies Hiu Berjalan Ditemukan di Papua Nugini, Diberi Nama Dudgeon
Journal of the Ocean Science Foundation/Mark Erdmann
  • Para peneliti menemukan spesies baru hiu berjalan bernama Hemiscyllium dudgeonae di perairan tenggara Papua Nugini, menambah total menjadi sepuluh spesies hiu berjalan yang diketahui.
  • Penentuan spesies baru ini dikonfirmasi melalui analisis DNA yang membedakan H. dudgeonae dari sembilan spesies hiu berjalan lainnya berdasarkan pola tubuh dan data genetik unik.
  • Hiu berjalan Dudgeon hidup di terumbu karang dangkal dan mampu bergerak dengan siripnya saat air surut, namun populasinya berpotensi rentan terhadap perubahan iklim dan degradasi habitat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Para peneliti telah mengidentifikasi spesies baru dari 'hiu berjalan', yaitu kelompok langka hiu karpet berukuran kecil yang menggunakan siripnya untuk 'berjalan' di sepanjang terumbu karang dangkal.

Sebuah tim penyelam yang menemukan hiu itu diberikan nama Hemiscyllium dudgeonae, di perairan gelap di sekitar terumbu karang di bagian tenggara Papua Nugini. Hiu kecil berbintik cokelat yang meluncur di sepanjang bebatuan itu tidak mereka kenali.

Jadi penemuan tak biasa

Hiu baru ini dinamai 'Dudgeon's walking shark' sebagai penghormatan kepada Dudgeon, atas kontribusinya selama 20 tahun dalam meneliti genus Hemiscyllium.

Penemuan yang dipublikasikan pada 15 Juni di Journal of the Ocean Science Foundation menambah jumlah spesies hiu berjalan yang diketahui menjadi 10, masing-masing dengan pola tubuh unik.

Penemuan ini dikatakan menarik karena banyak dari ikan baru, khususnya spesies hiu dan pari cenderung hidup di laut dalam. Sehingga, penemuan spesies baru di laut dangkal merupakan hal yang tidak biasa dan menyoroti bahwa berpotensi ada banyak keanekaragaman hayati yang sebenarnya belum diketahui.

Uji DNA dilakukan di laboratorium

Journal of the Ocean Science Foundation/Nesha Ichida

Tim tersebut semula sedang mencari spesies hiu berjalan lain, yang disebut hiu berjalan Michael (Hemiscyllium michaeli), ketika menemukan hiu yang tidak biasa ini.

Hiu berjalan Michael memiliki corak seperti macan tutul, sedangkan hiu berjalan Dudgeon punya garis-garis putih kecil dan bintik-bintik cokelat di seluruh tubuhnya. Namun dengan hanya satu spesimen, peneliti tidak yakin apakah ini merupakan anomali atau perbedaan yang sesungguhnya.

Para peneliti melanjutkan survei di terumbu karang sekitarnya, dan dalam waktu dua hari, mereka telah menemukan 11 hiu berjalan tambahan di tiga lokasi. Spesimen-spesimen ini mencakup jantan dan betina, baik remaja maupun dewasa dengan semua menunjukkan pola tubuh yang khas. Konsistensi tersebut meyakinkan tim bahwa mereka kemungkinan sedang mengamati spesies yang belum dideskripsikan.

Peneliti menggunakan data genetik untuk menguji hipotesis ini di laboratorium mereka di Australia. Dengan membandingkan DNA dari hiu yang baru ditemukan tersebut dengan sampel genetik dari sembilan spesies hiu berjalan lainnya, mereka memastikan bahwa populasi tersebut merupakan spesies baru.

Berjalan di darat

Hiu berjalan terkenal karena biologi mereka yang tidak biasa. Tidak seperti spesies hiu laut lepas yang berukuran lebih besar, hiu berjalan menghabiskan hidupnya di dekat terumbu karang. Kemampuan mereka untuk berjalan melintasi dasar laut menggunakan sirip dada dan sirip panggul sangat berguna saat air surut, ketika sebagian terumbu karang terisolasi dari perairan yang lebih dalam. 

Konsep berjalan ini akan membantu hewan-hewan tetap aktif saat kadar oksigen menurun sehingga mereka dapat terus berburu mangsa di dataran terumbu karang.

Para ilmuwan berpendapat bahwa kemampuan ini berevolusi sebagai respons terhadap lingkungan terumbu karang datar tropis yang menantang, di mana kadar oksigen dapat berubah secara drastis seiring naik-turunnya pasang surut.

Penelitian menunjukkan bahwa beberapa hiu berjalan dapat bertahan hidup di lingkungan dengan kadar oksigen rendah selama berjam-jam, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana hiu-hiu tersebut mampu melakukannya.

Sejauh ini, hiu berjalan hanya tercatat di tiga lokasi di Papua Nugini. Jika penelitian di masa depan mengonfirmasi bahwa spesies ini memiliki jangkauan yang sangat terbatas, H. dudgeonae berisiko rentan terhadap degradasi habitat, perubahan iklim, atau penangkapan ikan berlebihan.

Editorial Team

Related Article