Hiu berjalan terkenal karena biologi mereka yang tidak biasa. Tidak seperti spesies hiu laut lepas yang berukuran lebih besar, hiu berjalan menghabiskan hidupnya di dekat terumbu karang. Kemampuan mereka untuk berjalan melintasi dasar laut menggunakan sirip dada dan sirip panggul sangat berguna saat air surut, ketika sebagian terumbu karang terisolasi dari perairan yang lebih dalam.
Konsep berjalan ini akan membantu hewan-hewan tetap aktif saat kadar oksigen menurun sehingga mereka dapat terus berburu mangsa di dataran terumbu karang.
Para ilmuwan berpendapat bahwa kemampuan ini berevolusi sebagai respons terhadap lingkungan terumbu karang datar tropis yang menantang, di mana kadar oksigen dapat berubah secara drastis seiring naik-turunnya pasang surut.
Penelitian menunjukkan bahwa beberapa hiu berjalan dapat bertahan hidup di lingkungan dengan kadar oksigen rendah selama berjam-jam, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana hiu-hiu tersebut mampu melakukannya.
Sejauh ini, hiu berjalan hanya tercatat di tiga lokasi di Papua Nugini. Jika penelitian di masa depan mengonfirmasi bahwa spesies ini memiliki jangkauan yang sangat terbatas, H. dudgeonae berisiko rentan terhadap degradasi habitat, perubahan iklim, atau penangkapan ikan berlebihan.