ilustrasi pohon yew yang digadang-gadang sebagai pohon kematian (commons.wikimedia.org/Mykola Swarnyk)
Pohon yew (Taxus baccata) memiliki reputasi yang cukup suram di Eropa. Banyak gereja tua dan pemakaman kuno menanam pohon ini di sekitar area mereka, sehingga yew sering diasosiasikan dengan kematian. Anggapan tersebut bukan tanpa alasan. Hampir seluruh bagian pohon yew mengandung senyawa beracun yang dapat menyebabkan gagal jantung dan kematian dalam waktu singkat apabila tertelan.
Selama berabad-abad, yew lebih dikenal sebagai tanaman yang harus dihindari daripada dimanfaatkan. Namun, semuanya berubah ketika para peneliti menemukan senyawa taxane dalam spesies yew tertentu. Dari penelitian panjang tersebut lahirlah paclitaxel, salah satu obat kemoterapi paling terkenal di dunia.
Paclitaxel telah membantu jutaan pasien dalam melawan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, ovarium, dan paru-paru. Penemuan ini menjadi salah satu kisah sukses terbesar dalam eksplorasi obat-obatan dari alam. Sulit dipercaya bahwa pohon yang dahulu dikenal sebagai simbol kematian, justru berubah menjadi harapan hidup bagi begitu banyak orang yang berjuang melawan kanker.
Kelima tanaman ini menunjukkan bahwa alam selalu lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Racun tidak selalu identik dengan kehancuran, sebagaimana obat tidak selalu lahir dari sesuatu yang aman. Dalam banyak kasus, keduanya berasal dari sumber yang sama. Yang membedakan hanyalah pemahaman manusia terhadap cara kerja senyawa tersebut dan kemampuan untuk menggunakannya secara tepat.
Di balik setiap daun, bunga, akar, atau batang tumbuhan mungkin tersembunyi rahasia yang belum sepenuhnya kita pahami. Foxglove, belladonna, poppy, Rauvolfia, dan yew tree adalah pengingat bahwa alam menyimpan perpustakaan kimia raksasa yang masih terus dieksplorasi para ilmuwan hingga hari ini. Siapa tahu, tanaman yang saat ini dianggap berbahaya atau tidak berguna ternyata kelak menjadi sumber obat revolusioner berikutnya yang mampu menyelamatkan jutaan nyawa manusia.
Referensi
Berdai, M. A., et al. (2012). "Atropa Belladonna intoxication: a case report". Pan African Medical Journal, Vol. 11(72): 1—4.
Boskabadi, S. J., et al. (2024). "Severe Neurotoxicity due to Atropa belladonna Poisoning: A Case Report and Literature Review". Case Reports in Neurological Medicine, Vol. 2024(1): 1—5.
Chrobak, U. (2025). "Stanford scientists reveal missing yew tree enzymes needed to make a common cancer drug". News Environment and Health of Stanford University School of Engineering.
Drug Enforcement Administration Museum. "Opium Poppy". Article of US Government Website.
Khandelwal, R., et al. (2024). "A Comprehensive Review on Unveiling the Journey of Digoxin: Past, Present, and Future Perspectives". Cureus, Vol. 16(3): e56755.
MedlinePlus. (2025). "Codeine". Article of US Government Website.
Sulandjari, S. (2008). "Root yield and reserpine content of Rauvolfia serpentina Benth. on media under the plant with potential allelopathic effect by nutrient addition". Biodiversitas Journal of Biological Diversity, Vol. 9(3): 180—183.
Tandon, P. N. (2021). "Indian Rauwolfia research led to the evolution of neuropsychopharmacology & the 2000 Nobel Prize (Part II)". Indian Journal of Medical Research, Vol. 154(1): 169—174.
Tröhler, U. (2007). "Withering's 1785 appeal for caution when reporting on a new medicine". Journal of the Royal Society of Medicine, Vol. 100: 155—156.
Weaver, B. A. (2017). "How Taxol/paclitaxel kills cancer cells". Molecular Biology of the Cell, Vol. 25(18): 2677—2681.