Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Menatik Stonechat Eropa, Burung Mungil Bersuara Unik

5 Fakta Menatik Stonechat Eropa, Burung Mungil Bersuara Unik
stonechat eropa (commons.wikimedia.org/Alexis Lours)
  • Stonechat eropa memiliki dua subspesies yang tersebar luas dari Eropa hingga Afrika Utara dan Timur Tengah, serta mampu hidup di pegunungan, hutan, semak, padang rumput, dan padang pasir.
  • Burung ini bertubuh mungil, panjang 11,3–13 sentimeter dan berbobot maksimal 17 gram; jantan serta betina memiliki pola warna berbeda, dengan sayap pendek sebagai ciri fisiknya.
  • Sebagai insektivor, stonechat eropa berburu dari tempat bertengger dan monogami selama satu musim kawin; kicauannya keras, tinggi, tajam, menyerupai bunyi dua batu beradu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Suhu dingin di Eropa tidak menghilangkan minat burung untuk hidup di benua tersebut. Sebaliknya, Eropa menjadi habitat ideal bagi berbagai spesies burung seperti stonechat eropa (Saxicola rubicola). Ia merupakan burung kecil berwarna cokelat yang kerap bertengger di pepohonan dan punya suara khas.

Selain itu, stonechat eropa juga punya dua subspesies dengan penyebaran yang berbeda. Ia juga merupakan hewan yang setia karena hanya mau kawin dengan satu pasangan. Mau tahu bagaimana stonechat eropa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya? Artikel ini akan menjawabnya untukmu.

  1. 1. Punya dua subspesies dengan penyebaran yang berbeda

    stonechat eropa
    stonechat eropa (commons.wikimedia.org/Alexis Lours)

    Dilansir iNaturalist, stonechat eropa memiliki dua subspesies dengan penyebaran yang berbeda. Subspesies pertama adalah Saxicola rubicola rubicola yang menghuni Spanyol, Maroko, Polandia, Ukraina, Turki, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Sementara itu, subspesies kedua adalah Saxicola rubicola hibernans yang penyebarannya mencakup benua Eropa, Norwegia, Britania Raya, Irlandia, Portugal, hingga Prancis. Karena penyebarannya yang luas, burung ini bisa hidup dimanapun mulai dari pegunungan, hutan, semak-semak, padang rumput, hingga padang pasir.

  2. 2. Badannya mungil dan sayapnya pendek

    stonechat eropa
    stonechat eropa (commons.wikimedia.org/El Golli Mohamed)

    Laman Jungledragon menerangkan kalau stonechat eropa memiliki sayap pendek dan badan mungil. Panjang tubuh burung ini hanya sekitar 11.3-13 centimeter dan bobot maksimalnya ada di angka 17 gram, sedikit lebih kecil robin eropa yang hidup berdampingan di satu habitat yang sama. Saat musim panas burung jantan punya perut berwarna hitam, dada dan tenggorokan berwarna jingga, serta perut putih. Individu betina punya perpaduan warna yang berbeda, yaitu kepala dan perut cokelat, leher putih, dan ekor gelap.

  3. 3. Makanan utama stonechat eropa adalah serangga

    stonechat eropa
    stonechat eropa (commons.wikimedia.org/Fernando Losada Rodríguez)

    Laman Osieaux menjelaskan kalau stonechat eropa masuk ke kategori insektivor atau pemakan serangga. Makanan utamanya mencakup berbagai spesies serangga seperti kumbang, lalat, dan kupu-kupu. Namun, ketika serangga sulit ditemukan burung ini juga bisa memangsa invertebrata lain seperti laba-laba, moluska, cacing, hingga krustasea darat seperti pillbug. Tak hanya itu, bahkan unggas ini juga bisa menangkap kadal, lho. Strategi berburunya tak jauh berbeda dengan burung lain, yaitu dengan bertengger, mencari mangsa secara visual, dan kemudian menerkamnya dengan cepat.

  4. 4. Stonechat eropa kawin dengan satu pasangan dalam satu waktu

    stonechat eropa
    stonechat eropa (commons.wikimedia.org/El Golli Mohamed)

    Dikutip Animalia, stonechat eropa akan menjadi spesies monogamous yang hanya kawin dengan satu pasangan ketika musim kawin. Namun, di musim kawin selanjutnya burung ini bisa mencari pasangan lain. Setelah kawin, unggas ini akan membangun sarang di atas tanah yang terbuat dari material tanaman kering. Sarang tersebut akan menampung 4-6 butir telur yang akan menetas dalam waktu 13-14 hari. Anakan stonechat eropa juga tumbuh dengan cepat karena akan mulai hidup mandiri saat usianya sekitar 12-16 hari.

  5. 5. Kicauannya mirip dengan suara hantaman batu

    stonechat eropa
    stonechat eropa (commons.wikimedia.org/Hobbyfotowiki)

    Salah satu ciri khas stonechat eropa adalah suara atau kicauannya. Laman RSPB menerangkan kalau kicauan stonechat eropa serupa dengan suara dua batu yang dihantamkan secara bersamaan. Jika dideskripsikan, kiacuannya punya karakter suara yang keras, punya nada tinggi, dan punya karakter yang tajam. Selain itu, individu jantan juga memiliki suara yang lebih keras, mirip dengan kicauan burung dunnock.

    Burung kecil seperti stonechat eropa ternyata menyimpan banyak hal tak terduga, entah itu makanan, strategi berburu, atau suaranya yang khas. Menariknya, semua hal tersebut sebenarnya adalah kemampuan unik yang muncul untuk bertahan hidup di lingkungannya. Jadi, bisa disimpulkan kalau stonechat eropa sudah menyesuaikan diri untuk hidup, berkembang biak, hingga mencari mangsa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More