Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilmuwan Simulasikan 100 Ribu Tabrakan Komet ke Bumi, Ini Hasilnya!
gambar sebuah komet melintas di langit malam (nasa.gov/NASA's Scientific Visualization Studio)
  • Simulasi University of Cambridge menguji kemungkinan komet mengantarkan hidrogen sianida sebagai bahan awal pembentuk kehidupan ke Bumi.

  • Sebanyak 54 persen simulasi tidak menemukan tumbukan yang mengirim hidrogen sianida dalam jumlah cukup ke daratan Bumi.

  • Mars memiliki peluang pengiriman bahan kimia lebih dari lima kali lipat dibandingkan Bumi karena atmosfer dan kecepatan tumbukannya berbeda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
lebih dari satu abad

Komet menjadi salah satu kandidat pembawa bahan kimia yang mungkin membantu memulai kehidupan di Bumi.

Pada periode tersebut

Lebih dari 100 ribu komet diperkirakan pernah menghantam Bumi purba.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Ilmuwan menjalankan 100 ribu simulasi untuk menguji kemungkinan komet mengantarkan hidrogen sianida ke daratan Bumi.
  • Who?
    Richard Anslow bersama tim astronom dari University of Cambridge.
  • Where?
    Simulasi menguji tumbukan komet dengan Bumi purba dan membandingkan hasilnya dengan kondisi Mars serta Venus.
  • When?
    Penelitian membahas periode ketika Bumi purba mengalami bombardemen komet; waktu penelitian diterbitkan belum ada keterangan resmi.
  • Why?
    Untuk menguji teori bahwa komet membawa bahan kimia penting dari luar angkasa yang dapat berperan dalam pembentukan kehidupan.
  • How?
    Peneliti menggunakan simulasi komputer yang memperhitungkan atmosfer, kecepatan tumbukan, panas, serta lokasi jatuhnya komet.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ilmuwan dari University of Cambridge mencoba 100 ribu simulasi tabrakan komet dengan Bumi purba. Mereka ingin tahu apakah komet bisa membawa hidrogen sianida, bahan yang membantu pembentukan komponen kehidupan. Banyak simulasi gagal karena panas dan atmosfer. Mars ternyata lebih memungkinkan. Penelitian ini belum membuktikan bagaimana kehidupan pertama kali muncul.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penelitian ini membantu memperjelas bahwa keberadaan molekul organik pada komet perlu dibedakan dari kemampuan senyawa tersebut untuk bertahan dan bereaksi setelah tumbukan. Perbandingan dengan Mars dan Venus juga menunjukkan bahwa karakteristik setiap planet memengaruhi peluang pengiriman bahan kimia, sehingga kajian asal-usul kehidupan dapat dilakukan dengan pertanyaan yang lebih terarah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ilmuwan dari University of Cambridge melakukan 100 ribu simulasi untuk mengetahui apakah komet pernah membawa bahan kimia pembentuk kehidupan ke Bumi. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports ini menguji salah satu teori lama mengenai asal-usul kehidupan, yakni kemungkinan bahwa bahan kimia penting bagi kehidupan berasal dari luar angkasa. Namun, hasil simulasi justru menunjukkan bahwa peluang keberhasilan proses tersebut jauh lebih kecil daripada yang diperkirakan.

Selama lebih dari satu abad, komet menjadi salah satu kandidat pembawa bahan kimia yang mungkin membantu memulai kehidupan di Bumi. Dugaan ini muncul karena para ilmuwan telah menemukan molekul organik pada komet, termasuk senyawa yang dapat digunakan untuk membentuk komponen penting kehidupan. Persoalannya, keberadaan bahan kimia tersebut di luar angkasa belum tentu berarti senyawanya dapat bertahan ketika komet menghantam permukaan planet.

Melalui penelitian terbaru ini, para ilmuwan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi ketika komet memasuki atmosfer dan bertabrakan dengan Bumi purba. Hasilnya, sebanyak 54 persen simulasi menunjukkan tidak ada satu pun tabrakan komet yang berhasil mengantarkan hidrogen sianida dalam jumlah cukup ke daratan Bumi. Menariknya, penelitian yang sama justru menemukan bahwa Mars memiliki kondisi yang lebih memungkinkan bagi komet untuk mengirimkan bahan kimia tersebut.

1. Komet sejak lama diduga membawa bahan pembentuk kehidupan

Komet 55P/Temple-Tuttle pada 9 Januari 1998 oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble. (commons.wikimedia.org/Hubble Space Telescope)

Salah satu pertanyaan besar dalam ilmu pengetahuan adalah bagaimana kehidupan pertama kali muncul di Bumi. Para ilmuwan telah mengembangkan berbagai teori untuk menjelaskan proses tersebut, termasuk kemungkinan bahwa sebagian bahan kimia yang dibutuhkan kehidupan berasal dari luar angkasa. Dalam teori ini, komet dianggap sebagai salah satu kendaraan alami yang dapat membawa molekul penting menuju planet.

Dugaan tersebut bukan tanpa dasar. Penelitian sebelumnya telah menemukan keberadaan molekul organik pada komet yang melintasi Tata Surya. Temuan itu membuka kemungkinan bahwa komet dapat membawa bahan kimia yang kemudian terlibat dalam proses pembentukan kehidupan ketika mencapai permukaan planet.

Namun, ada persoalan yang tidak kalah penting, yakni bagaimana bahan kimia tersebut bertahan selama proses tumbukan. Komet bergerak dengan kecepatan tinggi dan harus melewati atmosfer sebelum menghantam permukaan Bumi. Kondisi ekstrem selama perjalanan terakhir ini berpotensi menghancurkan atau mengubah senyawa yang dibawanya.

Karena itu, keberadaan molekul organik pada komet belum cukup untuk membuktikan bahwa komet berhasil mengantarkan bahan pembentuk kehidupan ke Bumi. Para ilmuwan juga perlu memahami seberapa besar kemungkinan bahan kimia tersebut dapat mencapai permukaan dalam kondisi yang masih memungkinkan terjadinya reaksi kimia berikutnya.

2. Penelitian berfokus pada hidrogen sianida

Dalam penelitian terbaru, astronom Richard Anslow bersama timnya dari University of Cambridge menggunakan simulasi komputer untuk menguji kemungkinan pengiriman bahan kimia melalui tumbukan komet. Mereka berfokus pada hidrogen sianida, sebuah senyawa yang dapat berperan sebagai bahan awal dalam pembentukan berbagai molekul penting bagi kehidupan.

Hidrogen sianida dipilih karena senyawa ini dapat membantu proses sintesis lipid, gula, basa nitrogen, hingga nukleotida. Komponen tersebut memiliki peran penting dalam berbagai proses kimia yang berkaitan dengan kehidupan. Dengan demikian, keberhasilan pengiriman hidrogen sianida dapat memberikan gambaran mengenai kemungkinan kontribusi komet terhadap kimia prakehidupan di Bumi.

Selain itu, hidrogen sianida telah ditemukan pada sejumlah komet yang diamati di Tata Surya. Menurut penelitian tersebut, senyawa ini menjadi satu-satunya bahan awal yang sejauh ini diketahui ditemukan dalam kelimpahan cukup pada komet untuk dianggap relevan bagi proses kimia prakehidupan.

Senyawa lain seperti sianoasetilena dan sianogen juga pernah ditemukan pada komet, tetapi konsentrasinya jauh lebih rendah. Kondisi ini membuat hidrogen sianida menjadi kandidat yang lebih sesuai untuk menguji apakah tumbukan komet dapat memberikan kontribusi terhadap terbentuknya bahan kimia penting di Bumi purba.

3. Sebanyak 54 persen simulasi menunjukkan kegagalan

Tim peneliti menjalankan 100 ribu simulasi yang dirancang untuk menggambarkan kondisi ketika Bumi purba mengalami bombardemen komet. Pada periode tersebut, lebih dari 100 ribu komet diperkirakan pernah menghantam planet ini. Simulasi digunakan untuk memperkirakan berapa banyak tumbukan yang memungkinkan hidrogen sianida mencapai daratan dalam jumlah memadai.

Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam 54 persen simulasi, tidak ada satu pun tumbukan komet yang berhasil mengantarkan hidrogen sianida dalam jumlah cukup ke daratan Bumi. Artinya, meskipun banyak komet berpotensi membawa senyawa tersebut, sebagian besar skenario tidak menghasilkan kondisi yang diperlukan untuk mendukung proses kimia prakehidupan.

Ada beberapa penyebab utama kegagalan tersebut. Sebagian komet hancur ketika memasuki atmosfer, sementara sebagian lainnya kehilangan kandungan kimianya akibat panas ekstrem yang dihasilkan selama tumbukan. Penelitian menemukan bahwa hilangnya bahan kimia akibat panas tumbukan menjadi faktor paling besar yang menghambat keberhasilan pengiriman hidrogen sianida.

Masalah lainnya adalah lokasi tumbukan. Ketika komet jatuh ke lautan, hidrogen sianida yang berhasil bertahan berpotensi mengalami pengenceran sehingga konsentrasinya menjadi terlalu rendah. Padahal, proses kimia yang dapat menghasilkan komponen kehidupan membutuhkan kondisi dan konsentrasi bahan yang sesuai.

4. Keberhasilan tumbukan belum tentu menghasilkan kehidupan

ilustrasi komet 26P/Grigg–Skjellerup (pixabay.com/Pexels)

Meski sebagian besar skenario menunjukkan kegagalan, penelitian ini tidak sepenuhnya menutup kemungkinan bahwa komet pernah membawa bahan kimia penting ke Bumi. Sebanyak 46 persen simulasi menunjukkan setidaknya ada satu komet yang berhasil mengantarkan hidrogen sianida dalam jumlah cukup ke permukaan daratan.

Namun, keberhasilan tersebut baru merupakan tahap awal. Hidrogen sianida yang mencapai permukaan masih harus berada dalam kondisi yang memungkinkan berlangsungnya reaksi kimia berikutnya. Para ilmuwan menilai kesempatan untuk terjadinya proses tersebut kemungkinan sangat terbatas.

Artinya, komet tidak hanya perlu menghantam Bumi dengan kecepatan dan sudut yang sesuai. Kondisi setelah tumbukan juga harus memungkinkan bahan kimia bertahan dalam konsentrasi memadai dan bereaksi dalam waktu yang tepat. Kombinasi berbagai persyaratan tersebut membuat peluang keseluruhan menjadi sangat kecil.

Richard Anslow menggambarkan teori ini sebagai gagasan yang menarik, tetapi sulit terjadi berdasarkan hasil penelitian mereka. Ia menyebut keberhasilan proses tersebut kemungkinan merupakan peristiwa yang sangat langka, bahkan dapat dianggap sebagai kebetulan yang hanya terjadi sekali.

Meski demikian, penelitian ini tetap memiliki keterbatasan karena menggunakan simulasi komputer. Hasilnya tidak membuktikan bahwa komet mustahil berperan dalam asal-usul kehidupan di Bumi. Temuan tersebut lebih menunjukkan bahwa jalur pengiriman hidrogen sianida melalui tumbukan komet menghadapi hambatan yang jauh lebih besar daripada yang sebelumnya diperkirakan.

5. Mars justru lebih memungkinkan daripada Bumi

gambar penampakan Mars yang muncul di dekat Bulan (nasa.gov)

Salah satu hasil paling menarik dari penelitian ini adalah perbandingan kondisi Bumi dengan planet lain di Tata Surya. Para ilmuwan menemukan bahwa Mars memiliki karakteristik yang lebih mendukung keberhasilan pengiriman bahan kimia melalui tumbukan komet. Penyebabnya berkaitan dengan atmosfer dan kecepatan tumbukan yang berbeda.

Mars memiliki atmosfer lebih tipis dibandingkan Bumi. Kondisi tersebut membuat komet memiliki peluang lebih besar untuk mencapai permukaan tanpa kehilangan seluruh kandungan kimianya selama memasuki atmosfer. Kecepatan tumbukan yang lebih rendah juga membantu mengurangi kemungkinan hancurnya bahan kimia akibat panas ekstrem.

Berdasarkan simulasi, jumlah keberhasilan pengiriman hidrogen sianida di Mars mencapai lebih dari lima kali lipat dibandingkan Bumi. Temuan ini menunjukkan bahwa mekanisme pengiriman bahan kimia melalui komet mungkin lebih memungkinkan terjadi di Mars, meskipun tidak secara otomatis membuktikan bahwa kehidupan pernah terbentuk di planet tersebut.

Sebaliknya, Venus menunjukkan kondisi yang jauh lebih sulit. Atmosfernya yang sangat tebal diperkirakan dapat menghancurkan sebagian besar komet sebelum mencapai permukaan. Bahkan, komet berdiameter beberapa kilometer pun berpotensi kehilangan sebagian besar materialnya ketika melewati atmosfer Venus.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pengiriman bahan kimia dari luar angkasa sangat dipengaruhi karakteristik planet tujuan. Komposisi dan ketebalan atmosfer, kecepatan tumbukan, serta kondisi permukaan dapat menentukan apakah senyawa yang dibawa komet mampu bertahan.

6. Apa artinya bagi penelitian asal-usul kehidupan?

Penelitian ini memberikan perspektif baru terhadap teori bahwa komet berperan dalam membawa bahan kimia pembentuk kehidupan ke Bumi. Selama ini, keberadaan molekul organik pada komet menjadi salah satu alasan yang mendukung kemungkinan tersebut. Namun, simulasi terbaru menunjukkan bahwa perjalanan dari luar angkasa menuju permukaan planet merupakan tantangan besar bagi kelangsungan bahan kimia tersebut.

Temuan ini juga memperlihatkan pentingnya membedakan antara keberadaan bahan pembentuk kehidupan dan proses terbentuknya kehidupan itu sendiri. Sekalipun sebuah komet berhasil mengantarkan hidrogen sianida ke Bumi, masih diperlukan serangkaian reaksi kimia berikutnya agar senyawa tersebut dapat berkontribusi pada pembentukan komponen kehidupan.

Para peneliti tidak menyatakan bahwa komet sama sekali tidak memiliki peran dalam sejarah kimia Bumi. Mereka hanya menemukan bahwa mekanisme pengiriman hidrogen sianida melalui tumbukan komet kemungkinan jauh lebih jarang berhasil daripada yang dibayangkan sebelumnya. Hasil tersebut sekaligus menunjukkan bahwa teori asal-usul kehidupan masih menyimpan banyak pertanyaan.

Menariknya, kondisi yang lebih mendukung di Mars membuka kemungkinan bahwa proses pengiriman bahan kimia melalui komet memiliki peluang berbeda pada setiap planet. Meski belum menjawab bagaimana kehidupan pertama kali terbentuk, penelitian ini membantu memperjelas salah satu hambatan penting dalam perjalanan bahan kimia dari luar angkasa menuju lingkungan yang memungkinkan terbentuknya kehidupan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article