Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Copernicus, Teknologi Satelit Canggih Uni Eropa
satelit sentinel 2 bagian dari Copernicus (dok. Copernicus)
  • Uni Eropa menyiapkan layanan satelit Copernicus untuk membantu pemetaan wilayah terdampak gempa di Indonesia.
  • Copernicus menyediakan data satelit terbuka, analisis geospasial, dan layanan pemetaan cepat untuk berbagai kebutuhan.
  • Indonesia pernah memakai layanan Copernicus setelah gempa dan tsunami Palu, serta saat gempa di Lombok dan Maluku.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2018

Setelah gempa dan tsunami melanda Palu, Uni Eropa mengaktifkan Copernicus Emergency Management Service beberapa jam setelah bencana. Layanan tersebut menghasilkan peta kerusakan di sejumlah wilayah terdampak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Uni Eropa menyiapkan pemanfaatan layanan satelit Copernicus untuk membantu pemetaan wilayah terdampak gempa.
  • Who?
    Uni Eropa, Indonesia, Copernicus, otoritas penanggulangan bencana, dan organisasi kemanusiaan terlibat dalam pemanfaatan layanan tersebut.
  • Where?
    Pemetaan ditujukan untuk wilayah terdampak gempa di Indonesia.
  • When?
    Dukungan disiapkan menyusul gempa bumi yang baru terjadi.
  • Why?
    Pemetaan dilakukan agar penanganan bencana dapat menggunakan informasi yang lebih cepat dan akurat.
  • How?
    Copernicus Emergency Management Service dapat diaktifkan untuk menghasilkan peta situasi berdasarkan citra satelit terbaru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Uni Eropa mau membantu Indonesia setelah gempa. Mereka memakai Copernicus, yaitu satelit yang bisa melihat keadaan Bumi. Satelit ini membuat peta tempat yang terkena gempa. Peta itu menunjukkan kerusakan, jalan, dan tempat yang perlu diperhatikan. Orang yang membantu bencana bisa melihat keadaan tempat yang sulit didatangi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemanfaatan Copernicus memberi akses pada data satelit dan informasi lingkungan yang terbuka bagi individu, organisasi, serta institusi. Kemampuan visualisasi, pemrosesan data, dan pemetaan cepat membantu menghadirkan gambaran awal wilayah terdampak. Kondisi ini mendukung pengumpulan informasi dan pengambilan keputusan saat penanganan bencana berlangsung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Uni Eropa menyatakan dukungannya terhadap Indonesia menyusul gempa bumi yang terjadi di NTT yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu. Salah satu bentuk dukungan yang disiapkan adalah pemanfaatan layanan satelit Copernicus untuk membantu pemetaan wilayah terdampak sehingga proses penanganan bencana dapat dilakukan dengan informasi yang lebih cepat dan akurat.

Bagi banyak orang, nama Copernicus mungkin masih terdengar asing. Padahal, sistem observasi Bumi milik Uni Eropa ini telah lama digunakan untuk memantau berbagai kondisi di planet kita, mulai dari perubahan iklim, kualitas udara, hingga bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan, dan gempa bumi.

Dalam konteks penanganan bencana, Copernicus bukan sekadar kumpulan satelit. Program ini menggabungkan data penginderaan jauh, analisis geospasial, dan layanan pemetaan cepat yang dapat membantu pemerintah maupun organisasi kemanusiaan memahami kondisi di lapangan hanya dalam waktu singkat setelah bencana terjadi.

Apa itu Copernicus?

tangkapan layar logo Copernicus (YouTube/EU Defense and Space)

Copernicus merupakan program observasi Bumi milik Uni Eropa yang dirancang untuk menyediakan data satelit dan informasi lingkungan secara terbuka. Data tersebut berasal dari konstelasi satelit Sentinel serta berbagai misi pengamatan lainnya yang kemudian diolah menjadi layanan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari lingkungan hingga keamanan.

Salah satu komponen penting dalam ekosistem ini adalah Copernicus Data Space Ecosystem. Platform tersebut menjadi pusat akses berbagai data satelit Copernicus, lengkap dengan kemampuan visualisasi, pemrosesan data, hingga lingkungan komputasi berbasis cloud sehingga peneliti, pemerintah, maupun masyarakat dapat memanfaatkan data tersebut secara lebih mudah.

Keunggulan lain dari Copernicus adalah kebijakan data yang bersifat terbuka. Uni Eropa memungkinkan siapa pun, baik individu, organisasi, maupun institusi, mengakses dan memanfaatkan sebagian besar data Copernicus secara gratis untuk berbagai kebutuhan penelitian maupun pengembangan aplikasi.

Bagaimana Copernicus membantu saat terjadi gempa?

Saat terjadi gempa bumi atau bencana besar lainnya, layanan Copernicus Emergency Management Service dapat diaktifkan untuk menghasilkan peta situasi berdasarkan citra satelit terbaru. Produk pemetaan ini membantu menunjukkan tingkat kerusakan, area terdampak, kondisi infrastruktur, hingga lokasi yang memerlukan perhatian lebih cepat.

Informasi tersebut sangat penting bagi otoritas penanggulangan bencana dan organisasi kemanusiaan. Dengan memanfaatkan citra satelit, tim di lapangan dapat memperoleh gambaran awal mengenai kondisi wilayah yang sulit dijangkau sehingga proses distribusi bantuan maupun penilaian dampak dapat dilakukan secara lebih efektif.

Layanan pemetaan cepat seperti ini bukanlah hal baru bagi Copernicus. Program tersebut telah beberapa kali digunakan untuk mendukung respons terhadap berbagai bencana alam di berbagai negara, termasuk gempa bumi yang terjadi di Indonesia pada tahun tahun sebelumnya.

Indonesia pernah beberapa kali memanfaatkan Copernicus

Indonesia bukan pertama kalinya memperoleh dukungan dari layanan Copernicus. Berdasarkan informasi dari BRIN dan laman resmi Copernicus, setelah gempa dan tsunami yang melanda Palu pada 2018, Uni Eropa mengaktifkan Copernicus Emergency Management Service hanya beberapa jam setelah bencana terjadi untuk menghasilkan peta kerusakan di sejumlah wilayah terdampak.

Layanan serupa juga pernah digunakan ketika gempa besar mengguncang Lombok serta saat gempa di Maluku. Dalam kedua peristiwa tersebut, Copernicus menyediakan produk pemetaan berbasis citra satelit yang membantu proses penilaian dampak bencana.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa data satelit kini menjadi bagian penting dalam penanganan bencana modern. Selain mempercepat pengumpulan informasi, teknologi observasi Bumi juga membantu pengambil keputusan memperoleh gambaran kondisi lapangan tanpa harus menunggu seluruh laporan dari lokasi terdampak.

Teknologi observasi Bumi semakin penting untuk mitigasi bencana

gambar kerusakan akibat terjadinya gempa bumi (unsplash.com/Jose Antonio Gallego Vázquez)

Perkembangan Copernicus memperlihatkan bagaimana teknologi satelit kini memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar memotret permukaan Bumi. Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memantau perubahan lingkungan, mendukung penelitian ilmiah, hingga membantu respons terhadap berbagai bencana alam.

Seiring meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim maupun aktivitas geologi, kebutuhan terhadap data yang cepat dan akurat juga semakin besar. Platform seperti Copernicus Data Space Ecosystem menjadi salah satu fondasi penting karena memungkinkan data satelit diproses dan dianalisis dalam waktu yang relatif singkat.

Dukungan Uni Eropa terhadap Indonesia melalui pemanfaatan Copernicus memperlihatkan bahwa teknologi antariksa kini memiliki peran nyata dalam membantu penanganan bencana. Di balik citra satelit yang dihasilkan, terdapat informasi yang dapat mendukung proses pengambilan keputusan dan mempercepat upaya kemanusiaan ketika bencana terjadi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article