Uni Eropa menyatakan dukungannya terhadap Indonesia menyusul gempa bumi yang terjadi di NTT yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu. Salah satu bentuk dukungan yang disiapkan adalah pemanfaatan layanan satelit Copernicus untuk membantu pemetaan wilayah terdampak sehingga proses penanganan bencana dapat dilakukan dengan informasi yang lebih cepat dan akurat.
Bagi banyak orang, nama Copernicus mungkin masih terdengar asing. Padahal, sistem observasi Bumi milik Uni Eropa ini telah lama digunakan untuk memantau berbagai kondisi di planet kita, mulai dari perubahan iklim, kualitas udara, hingga bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan, dan gempa bumi.
Dalam konteks penanganan bencana, Copernicus bukan sekadar kumpulan satelit. Program ini menggabungkan data penginderaan jauh, analisis geospasial, dan layanan pemetaan cepat yang dapat membantu pemerintah maupun organisasi kemanusiaan memahami kondisi di lapangan hanya dalam waktu singkat setelah bencana terjadi.
