Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Studi: Bukti Kehidupan Purba Ditemukan di Bawah Kawah Asteroid
ilustrasi asteroid Irene 14 (unsplash.com/Javier Miranda)
  • Tim ilmuwan Korea menemukan stromatolit di bawah kawah asteroid berusia sekitar 42.000 tahun, menandakan adanya aktivitas mikroba purba di lingkungan pascatumbukan.
  • Stromatolit dianggap sebagai bukti tertua kehidupan di Bumi, terbentuk dari koloni mikroorganisme yang meninggalkan jejak biologis sejak miliaran tahun lalu.
  • Analisis menunjukkan kawah tersebut pernah menjadi danau hidrotermal hangat yang mendukung pertumbuhan mikroba, memperkuat teori bahwa tumbukan asteroid bisa menciptakan habitat bagi kehidupan awal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama ini, sebagian ilmuwan menduga bahwa hujan asteroid besar yang menghantam Bumi sekitar 4 miliar tahun lalu mungkin berperan dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan kehidupan muncul. Tanpa tabrakan benda-benda langit tersebut, kehidupan seperti yang kita kenal saat ini mungkin tidak akan pernah berkembang.

Kini, sebuah temuan baru di South Korea menunjukkan bahwa hubungan antara asteroid dan kehidupan mungkin jauh lebih kompleks. Tim yang dipimpin oleh Jaesoo Lim dari Korea Institute of Geoscience and Mineral Resources menemukan beberapa stromatolit yang terkubur di bawah kawah tumbukan asteroid yang terbentuk sekitar 42.000 tahun lalu.

Stromatolit merupakan struktur berlapis yang dibangun oleh koloni mikroba dan dianggap sebagai salah satu bukti paling awal keberadaan kehidupan di Bumi.

1. Kawah asteroid mungkin pernah menjadi rumah kehidupan purba

Penemuan stromatolit di bawah kawah tumbukan ini mengindikasikan bahwa panas yang dihasilkan saat asteroid menghantam Bumi mungkin menciptakan lingkungan hidrotermal jangka panjang, mirip dengan mata air panas. Kondisi seperti ini dikenal kaya akan energi dan nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan komunitas mikroba.

Temuan tersebut memunculkan kemungkinan menarik bahwa pada masa hujan asteroid besar miliaran tahun lalu, kawah-kawah tumbukan di seluruh Bumi muda dapat berfungsi sebagai tempat perlindungan sementara bagi kehidupan awal. Alih-alih hanya menjadi peristiwa destruktif, tumbukan asteroid mungkin juga menciptakan habitat yang mendukung kelangsungan organisme sederhana.

Hingga kini, asal-usul kehidupan masih menjadi misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan. Para ilmuwan belum mengetahui secara pasti kapan dan bagaimana komponen tak hidup pertama kali bergabung hingga memicu proses biologis. Dalam upaya menjawab pertanyaan itu, Stromatolite menjadi salah satu petunjuk terpenting karena menyimpan jejak aktivitas mikroba yang sangat kuno dalam sejarah Bumi.

2. Stromatolit menyimpan jejak kehidupan tertua di Bumi

ilustrasi solstis, belahan bumi utara mendekati matahari, dan bagian selatan menjauhi matahari (pixabay.com/PIRO4D)

Di berbagai lokasi di dunia, para ilmuwan telah menemukan Stromatolite yang berusia hingga sekitar 3,5 miliar tahun. Struktur berlapis ini terbentuk dari aktivitas mikroorganisme seperti sianobakteri yang secara bertahap membangun lapisan mineral, mirip dengan cara karang membentuk kerangka kalsium karbonatnya.

Karena usianya yang sangat tua, stromatolit dianggap sebagai salah satu bukti paling awal keberadaan kehidupan di Bumi. Fosil-fosil ini memberikan gambaran tentang bagaimana mikroba purba pernah hidup dan mengubah lingkungan planet pada masa ketika organisme kompleks belum ada.

Meski demikian, banyak aspek mengenai asal-usul dan penyebaran komunitas mikroba tersebut yang masih menjadi misteri. Para peneliti menggambarkan upaya memahami sejarah awal kehidupan seperti mencoba menyusun teka-teki berisi 1.000 keping, tetapi hanya memiliki segelintir keping yang tersedia.

Setiap penemuan stromatolit baru karena itu menjadi petunjuk berharga untuk melengkapi gambaran besar tentang awal kehidupan di Bumi.

3. Stromatolit ditemukan di danau bekas tumbukan asteroid

Sebelum menemukan stromatolit, para peneliti terlebih dahulu menganalisis jejak mineral di kawah tersebut. Hasilnya menunjukkan adanya campuran material meteorit dan batuan Bumi. Ini memungkinkan ilmuwan merekonstruksi bentuk kawah, menentukan usia pembentukannya melalui penanggalan radiokarbon, serta mengungkap bahwa cekungan itu pernah menampung badan air yang sangat besar.

Saat melakukan penggalian di bagian barat laut kawah, tim yang dipimpin Jaesoo Lim menemukan beberapa Stromatolite berdiameter sekitar 10 hingga 20 sentimeter. Penemuan ini menjadi petunjuk penting bahwa kehidupan mikroba pernah berkembang di lokasi tersebut.

Para ilmuwan sebelumnya telah mengetahui bahwa tumbukan asteroid dapat memecahkan dan memanaskan kerak Bumi, menciptakan sistem hidrotermal ketika air mengisi cekungan yang terbentuk. Panas sisa tumbukan kemudian menghangatkan air selama waktu yang cukup lama, membentuk danau hidrotermal.

Berdasarkan analisis mereka, stromatolit yang ditemukan kemungkinan besar tumbuh di lingkungan seperti ini, menunjukkan bahwa kawah asteroid dapat menjadi habitat yang mendukung kehidupan mikroba setelah peristiwa tumbukan terjadi.

Temuan ini menambah bukti bahwa tumbukan asteroid tidak selalu membawa kehancuran. Dalam kondisi tertentu, kawah yang ditinggalkannya justru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan dan memberikan petunjuk baru tentang bagaimana organisme pertama mungkin bertahan dan berkembang di Bumi purba.

Referensi

Lim, Jaesoo, Youngeun Kim, Sujeong Park, Sangheon Yi, So-Jeong Kim, Gyujun Park, Young Hong Shin, et al. “Discovery of Stromatolite Formation in Post-impact Hydrothermal Lacustrine Environments and Its Implications for Early Earth.” Communications Earth & Environment 7, no. 1 (April 14, 2026).

Editorial Team

Related Article