Sebelum menemukan stromatolit, para peneliti terlebih dahulu menganalisis jejak mineral di kawah tersebut. Hasilnya menunjukkan adanya campuran material meteorit dan batuan Bumi. Ini memungkinkan ilmuwan merekonstruksi bentuk kawah, menentukan usia pembentukannya melalui penanggalan radiokarbon, serta mengungkap bahwa cekungan itu pernah menampung badan air yang sangat besar.
Saat melakukan penggalian di bagian barat laut kawah, tim yang dipimpin Jaesoo Lim menemukan beberapa Stromatolite berdiameter sekitar 10 hingga 20 sentimeter. Penemuan ini menjadi petunjuk penting bahwa kehidupan mikroba pernah berkembang di lokasi tersebut.
Para ilmuwan sebelumnya telah mengetahui bahwa tumbukan asteroid dapat memecahkan dan memanaskan kerak Bumi, menciptakan sistem hidrotermal ketika air mengisi cekungan yang terbentuk. Panas sisa tumbukan kemudian menghangatkan air selama waktu yang cukup lama, membentuk danau hidrotermal.
Berdasarkan analisis mereka, stromatolit yang ditemukan kemungkinan besar tumbuh di lingkungan seperti ini, menunjukkan bahwa kawah asteroid dapat menjadi habitat yang mendukung kehidupan mikroba setelah peristiwa tumbukan terjadi.
Temuan ini menambah bukti bahwa tumbukan asteroid tidak selalu membawa kehancuran. Dalam kondisi tertentu, kawah yang ditinggalkannya justru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan dan memberikan petunjuk baru tentang bagaimana organisme pertama mungkin bertahan dan berkembang di Bumi purba.
Referensi
Lim, Jaesoo, Youngeun Kim, Sujeong Park, Sangheon Yi, So-Jeong Kim, Gyujun Park, Young Hong Shin, et al. “Discovery of Stromatolite Formation in Post-impact Hydrothermal Lacustrine Environments and Its Implications for Early Earth.” Communications Earth & Environment 7, no. 1 (April 14, 2026).