Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Inspirasi dari Perjuangan Dashyat Tim Indonesia di Piala Thomas 1998

4 Inspirasi dari Perjuangan Dashyat Tim Indonesia di Piala Thomas 1998
AFP

Mulai 20 Mei nanti, ajang bulutangkis beregu paling bergengsi di dunia, Piala Thomas dan Piala Uber akan digelar di Bangkok, Thailand. Di Piala Thomas, Indonesia paling sering juara dengan sudah meraih 13 gelar.

Semuanya diraih lewat perjuangan ‘memeras keringat’ di lapangan. Namun, gelar tahun 1998 yang diraih di Hongkong, memiliki nilai lebih. Sebab, piala itu diraih lewat pergulatan batin dashyat.

Kala itu, 20 tahun lalu, pemain-pemain Indonesia bertanding di Piala Thomas dan Uber ketika kondisi negara tengah dirundung masalah. Turnamen dimulai 15 Mei tetapi beberapa hari sebelumnya, kemelut politik dalam negeri memuncak gonjang-ganjing ekonomi juga belum mereda.

Ditambah lagi terjadi sentimen anti-etnis Tionghoa yang membuat mereka menjadi sasaran amuk massa, pertokoan dibakar dan dijarah. Semua itu tentu saja memecah fokus pemain yang sebagian besar merupakan keturunan Tionghoa.

Namun, pada akhirnya, semua kesulitan itu menjadi akhir yang bahagia ketika pada 24 Mei 1998, tim Piala Thomas Indonesia berhasil mempertahankan gelar dengan mengalahkan tim putra Malaysia, 3-2 di final. Ada banyak insipirasi yang bisa kita teladani dari perjuangan heroik tim putra Indonesia di Piala Thomas 1998.

1. Semangat berjuang demi negara mengalahkan urusan pribadi dan keluarga

Youtube.com/Ikerina
Youtube.com/Ikerina

Bagaimana bisa, tim putra Indonesia menjadi juara di tengah kondisi yang sebenarnya sama sekali tidak mendukung untuk tampil di lapangan. Karena mereka juara sejati yang memberikan segalanya di lapangan untuk negeri ini.

Ya, seorang juara sejati tidak pernah berkecil hati meski sebelum pertandingan ada banyak hal yang mengkerdilkan semangat dan mengacaukan pikiran. Namun, ketika turun ke lapangan, yang ada di pikiran hanya satu, tekad meraih kemenangan dan membanggakan negeri.

Semangat berjuang demi negara menjadi energi tak terkira bagi tim Piala Thomas 1998 sehingga akhirnya bisa juara di tengah masalah. Menurut penuturan Rexy Mainaky kala itu suasana negara sedang genting karena ada kerusuhan 1998.

Saat bertanding, konsentrasi tim terpecah antara pertandingan dan memikirkan keluarga di Jakarta. Namun, hal ini menjadi semangat untuk membela negara Indonesia.

2. Jangan mudah menyerah karena situasi sulit

AFP/Toshifumi Kitamura
AFP/Toshifumi Kitamura

Kemenangan yang diraih Indonesia di Piala Thomas 1998 sama sekali tidak mudah. Tekanan yang muncul tak hanya sebelum pertandingan, tetapi juga ketika final dimulai. Meski sudah siap fisik dan mental, lawan yang dihadapi juga punya tekad yang sama.

Bahkan, di final beregu yang mempertandingkan lima pertandingan (tiga nomor tunggal dan dua nomor ganda tersebut), Indonesia sempat tertinggal setelah Hariyanto Arbi kalah di pertandingan pertama. 

Indonesia lalu bangkit di pertandingan kedua. Kemenangan pasangan Rexy Mainaky/Ricky Subagdja menyamakan skor 1-1. Di pertandingan ketiga, Hendrawan harus melakoni rubber game ketat sebelum akhirnya menang.

Dan, kemenangan pasangan ganda Sigit Budiarto/ Candra Wijaya membuat Indonesia unggul 3-1 sehingga pertandingan kelima yang memainkan Joko Supriyanto, tidak lagi berpengaruh. Ketua Umum KONI Pusat kala itu, Wismoyo Arismunandar juga menegaskan, keberhasilan ini pantas menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia bahwa persatuan merupakan kekuatan untuk menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin.

3. Jangan meratapi kegagalan yang sudah lewat, kejar apa yang ada di depanmu

pbdjarum.org
pbdjarum.org

Meski datang sebagai juara bertahan, tetapi Indonesia sejatinya tampil di Piala Thomas 1998 tidak dengan kondisi terbaik. Terlepas dari kondisi dalam negeri yang tengah tidak kondusif, pemain-pemain Indonesia kala itu juga tidak berada dalam puncak permainan.  

Parameternya, pemain-pemain Indonesia gagal dalam beberapa turnamen yang digelar sebelum Piala Thomas dimulai. Salah satu yang menyesakkan, Indonesia gagal total di All England yang digelar di bulan Maret 1998.

Dua pemain andalan tunggal putra, Hariyanto Arbi dan Hendrawan, dihentikan pemain Malaysia, Ong Ewe Hock di perempat final dan semifinal. Satu-satunya harapan untuk meraih gelar lewat ganda Candra Wijaya, ternyata juga kalah di final dari ganda Korea, Lee Dong -soo/Yoo Yong-sung.

Pemain-pemain Indonesia juga gagal merebut satu pun gelar di Jepang Terbuka dan Swiss Terbuka sebagai pemanasan terakhir. Yang terjadi, pemain-pemain Indonesia ternyata berhasil merebut Piala Thomas untuk kali ketiga berturut-turut.

Menjadi juara di tengah keterpurukan penampilan dan kondisi negeri itu menjadi bukti betapa kuatnya mental tanding pemain juga soliditas tim (pemain, pelatih dan ofisial). Mereka tidak baper dengan kegagalan yang sudah terjadi. Namun, bisa menjadikan kegagalan sebagai motivasi untuk mengejar target yang lebih besar yang bukan hanya untuk individu, tetapi demi bangsa.

4. Menjadi pemersatu dan penjaga nama baik bangsa lewat olahraga

AFP
AFP

Prestasi tim Piala Thomas 1998 muncul di waktu yang tepat ketika Indonesia tengah jadi sorotan dunia karena kondisi dalam negeri yang tengah kacau. Bulutangkis muncul sebagai “penyelamat” nama baik bangsa.

Di tengah keprihatinan yang melanda negeri ini, atlet-atlet bulutangkis mampu mengangkat harkat bangsa yang membuat kita masih bisa berjalan tegak. Bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan bangsa kuat yang dibangun dari perbedaan-perbedaan yang menjadi kekuatan besar.

Dikutip dari artikel Harian Kompas, manajer Tim Indonesia kala itu, Agus Wirahadikusumah mengatakan keberhasilan tim Piala Thomas Indonesia merupakan obat penawar bagi bangsa yang sedang menghadapi masa-masa sulit. Proses keberhasilan ini bisa menjadi contoh bahwa persatuan dari semua suku dan agama apa pun merupakan kekuatan.

"Jangan mengkotak-kotak-kan bangsa dengan batasan suku dan agama," tegas manajer tim Agus Wirahadikusumah seperti dikutip dari seasite.niu.edu

Semoga saja, inspirasi dashyat juara tim Piala Thomas 1998 bisa memotivasi tim putra dan putri untuk juga melakukan pencapaian hebat di Piala Thomas dan Uber tahun ini.

Share
Topics
Editorial Team
Hadi Santoso
EditorHadi Santoso
Follow Us

Latest in Sport

See More

Real Madrid vs Bayern Munchen Live di TV Mana? Ini Link Streamingnya

08 Apr 2026, 00:40 WIBSport