Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menguak Alasan BMW Tidak Tertarik Kembali ke Formula 1
Robert Kubica saat memperkuat BMW Sauber pada balapan GP Inggris 2007. (commons.wikimedia.org/Colin_Eric)

Popularitas Formula 1 kian meningkat dalam beberapa musim terakhir. Daya tarik ajang balap jet darat itu tidak hanya menggugah minat penggemar baru, tetapi juga produsen mobil untuk ambil bagian dalam kejuaraan. Cadillac dan Ford menjadi contoh masuknya merek besar ke Formula 1 pada 2026.

Di sisi lain, BMW masih teguh pada pendirian dengan tidak tertarik kembali ke Formula 1. Padahal, pabrikan asal Jerman itu punya pengalaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata selama berkiprah di kejuaraan tersebut. Lantas, apa yang menyebabkan BMW enggan terjun kembali ke Formula 1?

1. BMW telah absen dari Formula 1 sejak balapan terakhir mereka sebagai pemasok mesin di GP Abu Dhabi 2009

BMW telah absen dari Formula 1 selama 17 tahun. GP Abu Dhabi 2009 merupakan balapan pemungkas mereka sebagai pemasok mesin di kejuaraan. Mereka juga menjual saham mayoritas di Sauber pada tahun yang sama. Namun, nama BMW masih tersemat sebagai nama tim pada 2010.

Sky Sports melansir, BMW Sauber telah menandatangani Concorde Agreement untuk komitmen mereka terhadap Formula 1 hingga 2012. Hal ini menyebabkan nama BMW Sauber muncul dalam daftar entri resmi FIA meski tim menggunakan mobil bermesin Ferrari. Sauber benar-benar menanggalkan nama BMW pada 2011.

BMW telah meraih 20 kemenangan dan 86 podium selama menjadi pemasok mesin di Formula 1. Selain itu, BMW juga meraih gelar juara pembalap melalui Nelson Piquet pada 1983. Ketika itu, Piquet menyabet titel prestisius saat memperkuat tim Brabham.

Kemenangan terakhir BMW di Formula 1 terjadi pada balapan GP Kanada 2008. Robert Kubica berhasil finis di depan rekan setimnya, Nick Heidfeld, dengan jarak 16,495 detik. Itu juga menjadi satu-satunya kemenangan Kubica selama berkarier di Formula 1.

2. BMW tak berminat masuk ke Formula 1 karena kurangnya kesempatan transfer teknologi ke mobil produksi massal

Popularitas Formula 1 yang menanjak ditambah dengan perubahan regulasi pada 2026 berhasil memikat merek otomotif terkemuka untuk masuk kejuaraan. Cadillac hadir sebagai tim kesebelas dengan Sergio Perez dan Valtteri Bottas mengisi susunan pembalap. Di sisi lain, Ford kembali ke Formula 1 setelah lebih dari 2 dekade sebagai mitra strategis Red Bull dalam pengembangan mesin hybrid generasi baru.

Selain itu, Audi juga masuk setelah mengambil alih Sauber. Merek berlogo empat lingkaran tersebut juga mengikuti jejak Mercedes sebagai pemasok mesin. Sementara itu, BMW tidak menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dengan Audi dan Mercedes sebagai merek Jerman lainnya di Formula 1. Kurangnya kesempatan transfer teknologi dari mobil balap ke mobil produksi massal menjadi alasan utama.

"Formula 1 terlalu jauh dari jangkauan kami. Itu terlalu bersifat laboratorium dan tidak terlalu berhubungan dengan mobil produksi massal. Ini akan menjadi pusat teknologi yang sepenuhnya terpisah dari yang lain," kata Frank van Meel selaku bos BMW M dilansir Motorsport.

Meel tidak menampik pelanggan serta penggemar BMW menyukai Formula 1. Namun, ia juga melihat ketertarikan penggemar BMW terhadap ajang balap lain yang memiliki kedekatan teknologi dengan mobil produksi massal. Kondisi tersebut sejalan dengan filosofi perusahaan, terutama untuk mobil BMW M yang dijual secara umum.

3. Eksistensi BMW di luar Formula 1 mampu dongkrak popularitas serta transfer teknologi ke mobil produksi massal

BMW memang tidak lagi bergelut di Formula 1. Meski begitu, popularitas mereka dalam ranah motorsport tak sepenuhnya hilang. Mereka justru aktif dalam kompetisi balap lainnya, khususnya ajang balap sportscar. World Endurance Championship (WEC) dan IMSA SportsCar Championship adalah dua kompetisi yang BWM ikuti saat ini.

BMW M Hybrid V8 menjadi mobil andalan BMW di IMSA sejak 2023. Mobil ini juga dipakai saat BMW kembali ke WEC pada 2024. Tim pabrikan mereka, Team WRT, memakai BMW M Hybrid V8 dalam dua ajang tersebut.

BMW M Hybrid V8 telah meraih tiga kemenangan di kelas GTP IMSA, yaitu pada 6 Hours of the Glen 2023, Battle on The Bricks Indianapolis 2024, dan SportsCar Grand Prix Road America 2025. Selain itu, mobil berkapasitas 3.999cc 8 silinder tersebut juga finis terdepan di 6 Hours of Spa-Francorchamps dan 6 Hours of Sao Paulo dalam ajang WEC. BMW M Hybrid V8 berpeluang menambah kemenangan pada musim ini mengingat IMSA dan WEC masih menyisakan sejumlah seri balap.

Frank van Meel menyebut, IMSA dan WEC menjadi program balap yang sejalan dengan filosofi BMW. Keterlibatan pada dua ajang balap tersebut mendongkrak popularitas mereka, khususnya di pasar otomotif Amerika Serikat. Selain itu, BMW juga bisa melakukan transfer teknologi secara ke mobil produksi massal yang dijual kepada publik.

BMW M Concept Neue Klasse (New Class) adalah salah satu transfer teknologi dari mobil balap ke mobil produksi massal. Mobil tersebut mengadopsi kap mesin dan diffuser dari mobil M4 GT3 yang dipakai dalam ajang balap. Grafik pencahayaan mobil bersumber dari mobil balap tipe LMDh.

"Selain itu, ada juga transfer teknologi kepada aspek mesin. Kami menggunakan mesin V8 hybrid di motorsport dan juga pada mobil M5 serta XM. Dalam beberapa hal, insinyur yang sama mengerjakan mesin ini. Kami bisa menguji aspek tertentu dengan lebih cepat dan melalui cara yang lebih siap produksi melalui seri balap ini," papar Frank van Meel dikutip Motorsport.

Keterlibatan BMW dalam ajang WEC dan IMSA telah menghasilkan teknologi yang dapat diaplikasikan dalam mobil produksi massal mereka. Itu bisa terjadi karena keputusan mereka untuk terjun ke ajang balap yang lebih dekat dengan filosofi perusahaan. Tidak mengherankan apabila BMW belum memiliki minat kembali berkompetisi di Formula 1 dalam waktu dekat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article