Selama puluhan tahun, komunitas lari dunia menganggap target full marathon di bawah 2 jam sebagai mitos yang mustahil untuk ditembus. Banyak atlet dan pakar olahraga meyakini, keterbatasan fisik manusia tidak akan sanggup menanggung beban kecepatan ekstrem sepanjang 42,195 kilometer. Namun, seiring berjalannya waktu, keraguan tersebut mulai goyah ketika para pelari terbaik dunia mulai mendekati ambang batas yang paling menantang ini.
Pada Oktober 2019, momen bersejarah akhirnya datang dari Eliud Kipchoge yang berhasil mencatat waktu 1 jam 59 menit 40 detik melalui proyek khusus bertajuk INEOS 1:59 Challenge. Walaupun tidak diakui sebagai rekor dunia resmi karena menggunakan bantuan pacer (pemandu kecepatan) dan kondisi rute yang sangat diatur, catatan sub-2 jam dalam full marathon ternyata bisa dicapai. Kipchoge menunjukkan kepada dunia bahwa hambatan biologis yang paling sulit sekalipun dapat diatasi manusia.
Kemajuan ini juga didorong pemahaman mendalam tentang teknik drafting yang mampu meminimalkan hambatan angin, sehingga energi pelari tetap terjaga dengan efisien. Inovasi pada alas kaki super yang sangat ringan dan responsif juga memberikan dorongan tambahan bagi setiap langkah kaki untuk menghasilkan daya dorong yang lebih besar. Sejak pencapaian itu, segala riset teknis dan pengujian di lapangan ini telah mengubah paradigma lama tentang cara mengelola cadangan energi saat berlari dengan intensitas tinggi.
Puncaknya, Sabastian Sawe berhasil mengukir sejarah sebagai orang pertama yang menembus batas 2 jam di lomba resmi di London Marathon 2026. Keberhasilan ini tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi semata, tetapi juga merupakan buah dari disiplin latihan yang sangat keras dan konsisten. Kini, rekor tersebut menjadi simbol baru potensi manusia akan terus berkembang melampaui segala batasan yang pernah diprediksi sebelumnya.