Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rahasia Taktik Late Sub Hajime Moriyasu di Piala Dunia 2026

Rahasia Taktik Late Sub Hajime Moriyasu di Piala Dunia 2026
ilustrasi suporter Timnas Jepang (commons.wikimedia.org/GoToVan)
Intinya Sih
  • Jepang menahan imbang Belanda 2-2 di laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 berkat strategi pergantian pemain telat Hajime Moriyasu yang langsung menghasilkan gol penyeimbang dari Daichi Kamada.
  • Formasi dasar 3-4-2-1 Jepang dirancang disiplin untuk menguras energi lawan sebelum Moriyasu memasukkan pemain pengganti dengan peran spesifik yang mengubah intensitas dan arah permainan secara drastis.
  • Kedalaman skuad berisi pemain berpengalaman di liga Eropa serta mental tangguh membuat strategi late sub Moriyasu efektif, memperkuat reputasi Jepang sebagai tim dengan taktik matang dan daya juang tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bagi pencinta sepak bola, melihat tim nasional Jepang bertanding di panggung sebesar Piala Dunia selalu menyajikan drama yang bikin geleng-geleng kepala. Baru-baru ini, di laga pembuka kontra Timnas Belanda di Grup F Piala Dunia 2026, Senin (15/6/2026), yang digelar di Dallas Stadium, Texas, Amerika Serikat, skuad Samurai Biru sukses menahan imbang sang raksasa Eropa dengan skor ketat 2-2.

Menariknya, laga ini kembali menjadi panggung kejeniusan taktis sang pelatih, Hajime Moriyasu. Saat Jepang tertinggal, Moriyasu melakukan triple substitution alias memasukkan tiga pemain segar sekaligus di 15 menit terakhir babak kedua. Hasilnya instan! Skema menit akhir (late substitution) tersebut sukses berujung gol penyeimbang kedudukan dari Daichi Kamada.

Lantas, bagaimana strategi late sub Moriyasu begitu mematikan? Yuk, kita analisis!

1. Fondasi struktur otomatisasi (3-4-2-1) yang super disiplin

Sebelum memahami mengapa pemain pengganti Jepang begitu efektif, kita harus melihat bagaimana cetak biru (blueprint) permainan awal Timnas Jepang. Di tangan Hajime Moriyasu, Jepang menggunakan formasi dasar 3-4-2-1 yang sangat cair.

  • Sistem Build-up 3-2-1: Saat membangun serangan dari bawah, Jepang sengaja memancing lawan untuk melakukan high pressing dengan menarik dua gelandang jangkar (double pivot) lebih dalam ke area pertahanan.
  • Membuka Ruang Vertikal: Ketika pemain lawan terpancing keluar dari posisinya untuk merebut bola, penyerang sayap atau wing-back Jepang yang memiliki kecepatan tinggi langsung mengeksploitasi ruang kosong tersebut lewat tusukan vertikal.

Sistem yang super rapat dan disiplin ini sengaja dipakai untuk menguras energi fisik serta fokus lini pertahanan lawan memasuki menit ke-60 atau ke-70 pertandingan.

2. Bukan sekadar ganti pemain, tapi mengubah dimensi taktik

Banyak pelatih melakukan pergantian pemain secara like-for-like (mengganti pemain dengan posisi dan gaya main yang sama) hanya demi menyegarkan stamina. Namun, Moriyasu menggunakan late sub untuk mengubah dimensi intensitas dan taktik pertandingan secara radikal. Ketika bek lawan mulai kelelahan akibat konstan mengejar bola, Moriyasu akan memasukkan pemain dengan atribut yang spesifik menghancurkan pertahanan lawan yang sedang drop.

Menurut Daichi Kamada, para pemain pengganti Jepang tahu persis peran mereka di lapangan buah hasil akumulasi kerja keras tim selama bertahun-tahun. Masuknya Junya Ito dan striker fisik Koki Ogawa di menit-menit krusial kontra Belanda terbukti membuat lini belakang lawan kalang kabut. Pergantian ini mengubah arah angin pertandingan dalam sekejap.

3. Kemewahan kedalaman skuad berstandar Eropa

Kemewahan skuad ini bukan sekadar klaim di atas kertas. Jika melihat data saat Jepang menahan imbang Belanda, terlihat jelas bagaimana efisiensinya serangan Samurai Biru. Meski kalah penguasaan bola yang hanya menyentuh 40 persen, Jepang sanggup menyamai jumlah tembakan Belanda, yaitu sebanyak 10 kali.

Mengapa bisa seefisien itu? Jawabannya ada pada pergantian pemain. Strategi late sub gak akan berjalan mematikan kalau kualitas pemain di bangku cadangan jomplang dengan pemain utama (starter). Di sinilah letak keunggulan generasi emas sepak bola Jepang saat ini.

Moriyasu sendiri pernah menekankan bahwa fondasi sepak bola Jepang telah bergeser masif sejak era J League berkembang. Saat ini, ada lebih dari 100 pemain Jepang yang berkompetisi di Eropa. Memiliki kedalaman skuad dengan pemain cadangan yang merumput di liga-liga top Eropa membuat Moriyasu memiliki kemewahan tak terbatas untuk mengubah jalannya laga kapan saja ia mau.

4. Kematangan mental dalam mengeksekusi skenario comeback

Di Piala Dunia 2022 Qatar lalu, dunia menyaksikan Jepang menumbangkan Jerman dan Spanyol dengan skenario serupa. Tertinggal di babak pertama, lalu membalikkan keadaan di babak kedua melalui gol para pemain pengganti. Di Piala Dunia 2026, mentalitas "Giant Killer" itu terbukti bukan kebetulan belaka. Melawan tim sekelas Belanda, mental mereka tidak goyah meski sempat tertinggal. Skuad Samurai Biru sudah sangat dewasa secara taktik dan mental karena mereka terbiasa mensimulasikan berbagai situasi sulit di sesi latihan.

Hajime Moriyasu adalah tipe pelatih yang pragmatis sekaligus visioner. Ia tidak keberatan jika timnya harus bermain defensif dan menderita di babak pertama. Baginya, sepak bola adalah pertandingan 90 menit penuh, di mana 20 menit terakhir adalah waktu paling krusial untuk menusuk jantung pertahanan lawan yang mulai lengah. Ditopang oleh struktur otomatisasi (3-4-2-1) yang disiplin, kejelian mengubah dimensi taktik, kedalaman skuad berstandar Eropa, serta kematangan mental dalam menghadapi berbagai situasi sulit, Hajime Moriyasu punya modal besar untuk terus membawa Jepang memberikan kejutan bagi tim-tim besar di sisa turnamen Piala Dunia 2026 ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More