Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Tanda Tubuh Harus Berhenti saat Maraton, Jangan Dipaksa Lari!

3 Tanda Tubuh Harus Berhenti saat Maraton, Jangan Dipaksa Lari!
ilustrasi maraton (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
Intinya Sih
  • Maraton tanpa persiapan bisa membebani tubuh, dan sinyal kelelahan sering diabaikan demi menyelesaikan lomba.
  • Pusing, nyeri dada, atau napas tidak normal jadi tanda serius tubuh harus berhenti berlari.
  • Kram parah menandakan otot sudah mencapai batas, dan memaksakan diri bisa sebabkan cedera berat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Maraton kerap jadi tren olahraga populer yang sering diikuti karena dorongan ikut-ikutan atau sekadar ingin mencoba pengalaman baru. Tak jarang, sebagian orang mengikuti ajang ini tanpa persiapan dan latihan khusus yang benar. Padahal, lari jarak jauh seperti ini memberi beban besar pada tubuh, terutama jika dipaksakan tanpa kesiapan.

Di tengah perjalanan, tubuh sebenarnya bisa memberikan sinyal ketika sudah mulai kewalahan. Sayangnya, sinyal ini sering diabaikan demi target atau gengsi menyelesaikan maraton. Lalu, apa saja tanda yang menunjukkan tubuh harus segera berhenti saat lari maraton?

1. Pusing atau kepala terasa ringan

ilustrasi maraton
ilustrasi maraton (pexels.com/Eddson Lens)

Pusing atau kepala terasa ringan merupakan salah satu tanda awal tubuh mengalami kelelahan saat maraton. Mengutip dari Mayo Clinic, gejala ini bisa muncul selama atau setelah aktivitas fisik berat seperti lari jarak jauh. Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan aliran darah dan tekanan dalam tubuh saat olahraga intens.

Saat tubuh dipaksa bekerja terlalu keras, suplai oksigen ke otak juga dapat berkurang sementara. Hal ini bisa diperparah oleh dehidrasi dan suhu panas selama maraton berlangsung. Karena itu, rasa pusing saat maraton tidak boleh diabaikan dan bisa menjadi sinyal untuk segera berhenti.

2. Nyeri dada atau napas tidak normal

ilustrasi nyeri dada saat maraton
ilustrasi nyeri dada saat maraton (unsplash.com/RETRATO DEPORTIVO)

Nyeri dada atau napas yang tidak normal merupakan tanda serius yang bisa muncul saat maraton. Gejala ini tidak boleh dianggap sebagai kelelahan biasa karena dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan yang lebih fatal. Dilansir Cleveland Clinic, nyeri dada saat aktivitas fisik bisa jadi tanda aliran darah ke jantung berkurang (angina), yaitu kondisi saat jantung tidak mendapat cukup oksigen.

Gejala tersebut sering disertai rasa sesak, tekanan di dada, atau ketidaknyamanan yang tidak biasa. Saat muncul, kondisi ini menunjukkan bahwa tubuh sedang mengalami beban yang berlebihan. Oleh sebab itu, pelari disarankan segera berhenti jika mengalami nyeri dada atau napas tidak normal.

3. Kram parah atau tubuh kehilangan kontrol

ilustrasi kram otot saat maraton
ilustrasi kram otot saat maraton (unsplash.com/Steward Masweneng)

Kram parah atau tubuh kehilangan kontrol merupakan tanda serius yang bisa terjadi saat pelari sedang maraton. Kondisi ini sering muncul ketika otot sudah bekerja terlalu lama dan mengalami kelelahan ekstrem. Berdasarkan penelitian yang terbit di Journal of Strength and Conditioning Research pada tahun 2022, kram pada pelari maraton berkaitan dengan kelelahan otot yang tinggi selama mereka berlari.

Saat otot terlalu lelah, sinyal dari sistem saraf ke otot bisa terganggu sehingga terjadi kontraksi tiba-tiba yang tidak terkontrol. Hal ini dapat membuat pelari sulit bergerak atau bahkan berhenti total karena rasa sakit yang intens. Karena itu, kram parah menjadi tanda kuat bahwa tubuh sudah mencapai batas kemampuannya.

Tanda-tanda di atas bukan sekadar rasa tidak nyaman biasa saat berlari, tetapi sinyal penting bahwa tubuh sedang berada di batas kemampuannya. Mengabaikannya bisa meningkatkan risiko cedera serius hingga gangguan kesehatan yang lebih berbahaya. Menurutmu, apakah semua pelari sudah cukup peka dengan sinyal tubuh mereka saat maraton?

Referensi

"Exercise headaches". Mayo Clinic. Diakses pada April 2026.

"Chest Pain". Cleveland Clinic. Diakses pada April 2026.

"Muscle Cramping in the Marathon: Dehydration and Electrolyte Depletion vs. Muscle Damage". Journal of Strength and Conditioning Research (2022). Diakses pada April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Related Articles

See More