Comscore Tracker

Fotografer Sampai Pekerja Media Center PON Papua Belum Dibayar

Enam tuntutan pekerja SDM PON XX Papua

Jakarta, IDN Times - Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua dinilai sukses digelar, baik secara administrasi maupun prestasi. Namun, siapa sangka, pesta olahraga terakbar di Indonesia itu masih menyisakan beberapa masalah.

Pekerja media center yang terdiri dari reporter, videografer, editor naskah, editor video, staf, serta tim fotografer, sampai saat ini belum menerima haknya. Mereka belum dibayar upahnya setelah 45 hari ajang tersebut ditutup oleh Wakil Presiden, Ma’ruf Amin.

Dinilai jadi garda terdepan untuk menyukseskan ajang tersebut, para pekerja ini pun membuat enam tuntutan kepada PB PON XX Papua untuk bisa menjelaskan masalah keterlambatan pembayaran honorarium.

1. Meminta kejelasan kapan bisa dibayar

Fotografer Sampai Pekerja Media Center PON Papua Belum DibayarPekerja bersiap memasang fasilitas penerangan di kawasan Venue PON XX Papua, Kampung Harapan, Jayapura, Papua, Selasa (22/6/2021). (ANTARA FOTO/Gusti Tanati)

Sebetulnya, pekerja SDM media center dan tim fotografer hanya ingin mendapat kejelasan terkait honor yang terlambat. Mereka meminta respons dari PB PON terkait kejelasan hak yang seharusnya sudah diterima. 

"Ketegasan dari kami, secepatnya harus direspons. Kami minta minimal orang-orang yang terlibat di dalamnya, entah itu bendahara umum, bendahara PON, atau Ketua Harian dan yang terlibat langsung untuk dihadirkan langsung, menjelaskan kepada kami, kapan akan dibayar, intinya itu," kata ketua Eko Paul Andhika Weriditi selaku Ketua Aksi, dalam rilis yang diterima IDN Times, Senin (29/11/2021).

Baca Juga: Jokowi Sanjung Papua Usai Sukses Gelar PON dan Peparnas

2. Keterlambatan pembayaran honor dinilai memalukan

Fotografer Sampai Pekerja Media Center PON Papua Belum DibayarAtlet sepatu roda putri Papua, Dhinda Salsabila (tengah), Raih Emas di kelas TT 200m Putri PON XX Papua. (ANTARA/Fauzan/wsj).

Dia menilai, masalah keterlambatan honorarium ini dinilai cukup memalukan. Terlebih, beberapa fotografer yang terlibat dalam PON edisi kali ini, didatangkan langsung dari luar Papua. Tak sedikit dari mereka yang punya pengalaman mentereng di ajang multievent internasional.

"Yang memalukan adalah banyak teman-teman fotografer dari Jawa memiliki track record bekerja di Asian Games, harus menanyakan haknya, kan memalukan. Mereka dari luar katanya dananya triliunan, tapi kok macet," ujar Eko. 

Mereka pun memberikan tenggat waktu kepada PB PON selama tujuh hari untuk segera merespons surat tersebut. Jika tak ada respons, para pekerja akan menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalah ini. 

"Bisa jadi kami akan buat laporan kepolisian, soal pasal-pasal yang akan kami tuntut nanti kami akan berikan informasi. Kami juga harus koordinasi dengan kuasa hukum, supaya nantinya tidak salah melangkah. Artinya, harus transparan dan jelas," ujar Eko.

3. Enam tuntutan pekerja kepada PB PON

Fotografer Sampai Pekerja Media Center PON Papua Belum DibayarMedali PON XX Papua 2021. Dok. PB PON

Enam tuntutan yang tertuang dalam surat menuntut kejelasan yang dilayangkan kepada Ketua Harian PB PON XX Papua per tanggal 28 November 2021 tersebut berisi:

1. Sejak kami mulai bertugas pada awal PON XX sampai dengan selesainya. Kontrak kerja yang dijanjikan tidak pernah diberikan. Secara Undang-Undang (UU) Tenaga Kerja, seharusnya salinan kontrak disepakati, disaksikan, ditandatangani, dan dipegang oleh kedua belah pihak yang bersepakat.

2. Official Photographer PON XX Papua yang berjumlah 67 orang sudah lengkap administrasi. Tapi hingga saat ini, bahkan belum juga menerima honor seperti yang tertera pada kontrak.

3. Tidak adanya transparansi berupa besaran jasa yang akan kami, apa saja indikator ukuran kinerja tersebut tidak pernah tersampaikan jelas. Hal ini dimungkinkan akan ada kekecewaan terkait besaran nilai tidak sesuai dengan beban kerja yang dilakukan.

4. Kapan pihak PB PON bisa menyelesaikan pembayaran hak kami semua, mengingat 43 hari telah berjalan sejak PON resmi ditutup. Dan saat ini telah memasuki triwulan ke-empat dalam penganggaran pemerintah.

5. Jika memang ada kendala/permasalahan yang dihadapi oleh PB PON, kenapa hal tersebut tidak pernah disampaikan secara transparan. Terkesan ada yang ditutupi dengan kalimat "harap bersabar."

6. Pada perkataan mana kami harus percaya, jika pada setiap kesempatan ada saja alasan berbeda yang disampaikan kepada kami, mulai "persoalan berkas, sedang pengajuan dana termin II sampai dengan kalimat kas kosong minta tambahan ke pemerintah."

Baca Juga: Kenangan Terakhir Menpora dengan Verawaty Fajrin: Nonton PON di RS

Topic:

  • Satria Permana

Berita Terkini Lainnya