Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Polytron Indonesia Open 2026: Ketika Generasi Baru Mengetuk Pintu Sejarah
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di 16 Besar Indonesia Open 2026, Kamis (04/07/2026). (IDN Times/Aditya Mustaqim

  • Victor Lai asal Kanada mencetak sejarah sebagai juara tunggal putra pertama dari negaranya di Polytron Indonesia Open 2026, menandai perubahan peta kekuatan bulu tangkis dunia.

  • Pasangan muda Indonesia Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin menembus final ganda putra serta masuk Top 10 dunia, menjadi simbol nyata proses regenerasi atlet nasional.

  • China dan An Se Young menunjukkan pentingnya sistem pembinaan dan mentalitas belajar berkelanjutan dalam menjaga dominasi serta kesinambungan prestasi lintas generasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Suara ribuan penonton masih menggema di Istora Senayan ketika Victor Lai berdiri beberapa saat di tengah lapangan. Ia tidak langsung merayakan kemenangan. Pandangannya berkeliling ke tribune yang sejak awal pertandingan lebih banyak mendukung lawannya, Jonatan Christie.

Malam itu, pemuda berusia 21 tahun asal Kanada tersebut baru saja melakukan sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dari negaranya.

Ia menjadi tunggal putra Kanada pertama yang menjuarai Indonesia Open.

Namun, kisah yang lahir di Istora pada pekan itu sesungguhnya lebih besar daripada kemenangan Victor Lai.

Di arena yang selama puluhan tahun melahirkan legenda-legenda bulu tangkis dunia, Polytron Indonesia Open 2026 memperlihatkan satu proses yang selalu menentukan masa depan olahraga: regenerasi.

Seorang juara baru lahir. Generasi muda Indonesia mulai menembus elite dunia. China kembali menunjukkan kekuatan sistem pembinaannya. Sementara para pemain terbaik dunia berusaha mempertahankan tempat mereka di puncak.

Semua terjadi dalam satu pekan yang sama.

Dan semuanya berbicara tentang satu hal yang sama: generasi tidak pernah berhenti.

Victor Lai, dari murid di Indonesia menjadi juara di Istora

Tunggal putra Kanada, Victor Lai usai semifinal Indonesia Open 2026 (IDN Times/Margith Damanik)

Bagi banyak penonton, Victor Lai mungkin terasa seperti nama baru. Namun, kemenangan yang diraihnya di Jakarta bukanlah keberhasilan yang datang secara tiba-tiba.

Jauh sebelum menjadi juara Indonesia Open, Victor pernah datang ke Indonesia untuk belajar.

Saat itu, ia hanyalah pemain muda yang mencari pengalaman dan menimba ilmu bersama pelatih Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke tempat yang sama sebagai juara.

Sebuah perjalanan yang terasa seperti lingkaran yang akhirnya lengkap.

“Rasanya luar biasa. Terakhir kali di All England saya gagal di semifinal, jadi kali ini saya sangat senang bisa mencapai final di tempat yang begitu legendaris,” kata Victor Lai di Istora Senayan.

Perjalanannya menuju gelar juara juga tidak berlangsung mudah.

Di final, ia menghadapi Jonatan Christie, salah satu pemain paling populer di Indonesia. Hampir setiap poin yang diraih Jonatan disambut gemuruh penonton.

Situasi itu menjadi ujian mental tersendiri bagi pemain muda Kanada tersebut.

“Aku rasa hal tersulit hari ini adalah mengatasi tekanan dari penonton. Sangat bising dan setiap kali dia (Jonathan) memenangkan poin, rasanya aku bahkan tidak bisa mendengar suaraku sendiri karena sangat, sangat bising. Tapi dia juga punya tekanan sebagai favorit tuan rumah. Jadi menurutku hal terpenting adalah tetap fokus dan mengabaikan kebisingan tersebut dan percaya bahwa aku bisa menang,” kata Victor.

Namun, yang membuat kisah Victor menarik bukan hanya gelarnya. Ia menjadi simbol perubahan peta persaingan bulu tangkis dunia.

Dulu, gelar-gelar besar hampir selalu didominasi negara-negara tradisional seperti Indonesia, China, Korea Selatan, Jepang, atau Denmark.

Kini, negara yang tidak masuk daftar kekuatan utama pun mampu melahirkan juara.

“Cerita lain yang ingin aku bagikan adalah pada 2016 aku datang ke Indonesia untuk berlatih dengan pelatih Jeffer Rosobin. Jadi aku punya semacam koneksi dengan Indonesia dan banyak pelatihku sebelumnya dan bahkan sekarang berasal dari Indonesia. Jadi sangat beruntung memiliki pelatih dari salah satu negara terbaik yang membantuku,” kata Victor usai memenangkan titel juara di POLYTRON Indonesia Open 2026.

Di balik trofi yang ia angkat, tersimpan cerita tentang bagaimana ilmu, pengalaman, dan pembinaan bisa melintasi batas negara.

Raymond/Joaquin dan harapan baru bulu tangkis Indonesia

Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di 16 Besar Indonesia Open 2026, Kamis (04/07/2026). (IDN Times/Aditya Mustaqim)

Jika Victor Lai mewakili lahirnya kekuatan baru dunia, Indonesia menemukan secercah harapan pada Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin.

Di tengah ekspektasi besar publik terhadap sektor ganda putra, pasangan muda tersebut berhasil menembus partai final.

Mereka memang belum menjadi juara. Namun, pencapaian itu memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan.

Indonesia selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu kerajaan ganda putra dunia. Dari era Ricky Subagja/Rexy Mainaky, Candra Wijaya/Tony Gunawan, Markis Kido/Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

Pertanyaannya selalu sama setiap kali sebuah generasi mulai menua: Siapa penerusnya?

Polytron Indonesia Open 2026 mungkin belum memberikan jawaban final. Namun, turnamen ini memberi petunjuk regenerasi itu sedang berjalan.

Keberhasilan menembus final sekaligus mengantar Raymond/Joaquin masuk jajaran 10 besar dunia.

“Memang target kita di tahun ini Top 10, dan puji Tuhan, minggu depan, ya, udah resmi Top 10. Sekarang ganti lagi targetnya, Top 7 atau Top 8. Ganti lagi targetnya sekarang,” ujar Joaquin usai laga semifinal di Istora.

Target itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan mentalitas yang selalu dimiliki para pemain besar, yakni tak pernah berhenti setelah mencapai satu tujuan.

China dan rahasia menjaga kejayaan lintas generasi

Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping di Indonesia Open 2026 (IDN Times/Margith Damanik)

Di banyak negara, melahirkan satu generasi emas merupakan pencapaian besar. Namun, China memilih standar yang berbeda.

Mereka tak hanya berusaha menciptakan satu generasi hebat. Mereka berusaha memastikan generasi berikutnya selalu siap ketika era sebelumnya berakhir.

Hal itu terlihat jelas di sektor ganda campuran Polytron Indonesia Open 2026. Empat pasangan China tampil dalam turnamen ini. Mereka bahkan saling bertemu pada fase-fase krusial.

Bagi negara lain, kondisi seperti itu mungkin menjadi kemewahan. Untuk China, itu merupakan hasil dari sistem yang bekerja selama bertahun-tahun.

“Saya rasa, ganda campuran China memiliki keunggulan yang dibangun dari sejarah yang panjang. Karena kami memiliki pasangan-pasangan hebat seperti Zhang Nan/Zhao Yunlei, Xu Chen/Ma Jin, Zheng Siwei/Huang Yaqiong, lalu juga sebelumnya ada Wang Yilyu. Saya merasa setelah keunggulan kelompok generasi sebelumnya itu terbentuk, kami kemudian memiliki sistem latihan yang sangat baik. Kami memiliki suasana latihan yang sangat baik dan materi latihan yang sangat baik,” kata Huang Dong Ping di Istora Senayan.

Pernyataan itu menjelaskan sesuatu yang sering luput dari perhatian.

Publik biasanya melihat juara. Namun, yang sesungguhnya menentukan masa depan olahraga adalah proses yang melahirkan juara berikutnya.

“Semua orang ingin mengejar tujuan yang sama, yaitu menjadi yang terbaik. Keinginan untuk menjadi yang terkuat itulah yang menjadi motivasi dalam cara kami berlatih. Karena itu, dalam latihan kami mungkin lebih disiplin, lebih teliti, dan selalu memberikan segalanya dengan sepenuh hati,” beber dia.

Dalam olahraga modern, sistem sering kali lebih penting daripada bakat.

Karena bakat bisa muncul sekali, sistem memungkinkan prestasi muncul berulang kali.

An Se Young dan pelajaran tentang seorang juara

Potret An Se Young usai mengamankan tiket ke 16 besar Indonesia Open 2026, Rabu (3/6/2026). (IDN Times/Tino).

Jika Victor Lai mewakili masa depan, maka An Se Young menunjukkan bagaimana mempertahankan masa kini.

Peraih medali emas Olimpiade 2024 itu kembali menjuarai Indonesia Open dan mempertegas posisinya sebagai salah satu pemain terbaik dunia.

Yang menarik bukanlah gelarnya, tapi caranya memandang dirinya sendiri.

Di saat banyak pemain bermimpi mencapai level yang telah ia raih, An justru masih berbicara tentang belajar.

"Seluruh pemain bulutangkis zaman sekarang itu sangat-sangat jago. Dan untuk bisa memenangkan game ini juga tidak mudah. Karena setiap pemain akan selalu level up di setiap saat. Termasuk pemain Indonesia yang memiliki energi kuat sehingga tak mudah untuk bisa mengalahkan mereka. Jadi saya tetap harus banyak belajar, dilatih, dan harus banyak berlatih untuk bisa melawan mereka," kata An Se Young.

An Se Young menyiratkan mengapa bisa terus menang. Juara besar tidak hidup dari prestasi kemarin. Mereka hidup dari kesadaran jika pesaing berikutnya selalu datang.

Baginya, ketika generasi baru datang, satu-satunya pilihan adalah berkembang atau tergeser.

Ketika lampu-lampu Istora mulai padam pada Minggu malam, para juara memang membawa pulang trofi mereka masing-masing.

Namun, Indonesia Open 2026 meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar daftar pemenang.

Victor Lai menunjukkan mimpi bisa datang dari tempat yang tidak pernah diperhitungkan.

Raymond dan Joaquin memperlihatkan bahwa Indonesia masih memiliki generasi penerus.

China membuktikan diri jika kejayaan tidak dibangun oleh satu nama, melainkan oleh sistem yang terus bekerja.

Sementara An Se Young mengingatkan kita jika seorang juara dunia pun tidak pernah berhenti belajar.

Pada akhirnya, regenerasi bukanlah tentang menggantikan generasi lama. Regenerasi adalah memastikan ketika satu era berakhir, olahraga ini tetap memiliki orang-orang yang siap menulis sejarah berikutnya.

Dan selama sepekan di Istora Senayan, sejarah itu terlihat sedang lahir di depan mata.

Editorial Team

Related Article