Tunggal putra Kanada, Victor Lai usai semifinal Indonesia Open 2026 (IDN Times/Margith Damanik)
Bagi banyak penonton, Victor Lai mungkin terasa seperti nama baru. Namun, kemenangan yang diraihnya di Jakarta bukanlah keberhasilan yang datang secara tiba-tiba.
Jauh sebelum menjadi juara Indonesia Open, Victor pernah datang ke Indonesia untuk belajar.
Saat itu, ia hanyalah pemain muda yang mencari pengalaman dan menimba ilmu bersama pelatih Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke tempat yang sama sebagai juara.
Sebuah perjalanan yang terasa seperti lingkaran yang akhirnya lengkap.
“Rasanya luar biasa. Terakhir kali di All England saya gagal di semifinal, jadi kali ini saya sangat senang bisa mencapai final di tempat yang begitu legendaris,” kata Victor Lai di Istora Senayan.
Perjalanannya menuju gelar juara juga tidak berlangsung mudah.
Di final, ia menghadapi Jonatan Christie, salah satu pemain paling populer di Indonesia. Hampir setiap poin yang diraih Jonatan disambut gemuruh penonton.
Situasi itu menjadi ujian mental tersendiri bagi pemain muda Kanada tersebut.
“Aku rasa hal tersulit hari ini adalah mengatasi tekanan dari penonton. Sangat bising dan setiap kali dia (Jonathan) memenangkan poin, rasanya aku bahkan tidak bisa mendengar suaraku sendiri karena sangat, sangat bising. Tapi dia juga punya tekanan sebagai favorit tuan rumah. Jadi menurutku hal terpenting adalah tetap fokus dan mengabaikan kebisingan tersebut dan percaya bahwa aku bisa menang,” kata Victor.
Namun, yang membuat kisah Victor menarik bukan hanya gelarnya. Ia menjadi simbol perubahan peta persaingan bulu tangkis dunia.
Dulu, gelar-gelar besar hampir selalu didominasi negara-negara tradisional seperti Indonesia, China, Korea Selatan, Jepang, atau Denmark.
Kini, negara yang tidak masuk daftar kekuatan utama pun mampu melahirkan juara.
“Cerita lain yang ingin aku bagikan adalah pada 2016 aku datang ke Indonesia untuk berlatih dengan pelatih Jeffer Rosobin. Jadi aku punya semacam koneksi dengan Indonesia dan banyak pelatihku sebelumnya dan bahkan sekarang berasal dari Indonesia. Jadi sangat beruntung memiliki pelatih dari salah satu negara terbaik yang membantuku,” kata Victor usai memenangkan titel juara di POLYTRON Indonesia Open 2026.
Di balik trofi yang ia angkat, tersimpan cerita tentang bagaimana ilmu, pengalaman, dan pembinaan bisa melintasi batas negara.