Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jafar Hidayatullah Kritik Undian Swiss Open 2026
Ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu saat menjalani laga perempat final Indonesia Masters 2026. (IDN Times/Aditya Mustaqim)
  • Jafar Hidayatullah menilai hasil drawing Swiss Open 2026 merugikan karena seluruh ganda campuran Indonesia ditempatkan di pool bawah, mengurangi peluang terciptanya All Indonesian Final.
  • Perang saudara antarwakil Indonesia sudah terjadi sejak babak 32 besar, dengan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil menyingkirkan Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindiya Wardana.
  • Ganda campuran Indonesia terakhir kali juara Swiss Open pada 2012 lewat Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, sementara capaian terbaik berikutnya adalah runner up tahun 2019 oleh Rinov/Pitha.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Atlet ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah, menyayangkan hasil undian wakil Garuda di Swiss Open 2026. Ini karena sederet wakil Indonesia berkumpul di pool bawah.

Artinya, dengan situasi itu, seluruh wakil Indonesia bisa jumpa lebih awal. Tak ada peluang untuk All-Indonesian Final, bahkan sudah tercipta perang saudara sejak babak 32 besar.

1. Jadinya cuma satu yang lolos

Ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu saat menjalani laga perempat final Indonesia Masters 2026. (IDN Times/Aditya Mustaqim)

Menurut Jafar, hasil undian Swiss Open 2026 untuk sektor ganda campuran Indonesia terbilang merugikan. Sebab, penumpukan nama skuad Garuda di pool bawah memastikan hanya ada maksimal satu wakil Indonesia yang akan melaju jika menembus final Super 300 tersebut.

"Memang, cukup merugikan ketika semua ganda campuran Indonesia berada di pool bawah.  Harusnya ada yang di atas juga daripada numpuk di bawah, sayang kan. Jadi siapa tahu bisa all-final. Tapi, ini cuma satu yang bisa masuk final," kata Jafar usai menjalani laga 32 besar Swiss Open 2026.

2. Perang saudara sudah dimulai

Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil di Indonesia Open 2025 (IDN Times/Aditya Mustaqim)

Ganda campuran Indonesia bahkan sudah menjalani perang saudara sejak babak 32 besar. Pasangan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil memenangkan duel melawan rekan sepelatnasnya, Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindiya Wardana dengan skor 21-18, 21-14.

Derby Indonesia lainnya berpeluang tercipta di perempat final Swiss Open 2026. Ini akan bergulir jika Adnan/Indah mampu mengalahkan wakil Taiwan, Yang Po-Hsuan/Hu Ling Fang, dan Amri Syahnawi/Nita Violona Marwah bisa menumbangkan wakil Taiwan lainnya, Liu Kuang Heng/Jheng Yu Chieh, di babak 16 besar.

3. Sudah lama tak juara

Tontowi Ahmad saat memberi kejutan ulang tahun untuk legenda ganda campuran Indonesia, Liliyana Natsir (dok.PB Djarum)

Ganda campuran Indonesia sudah lama tak memetik gelar dari Swiss Open. Ganda campuran Merah-Putih terakhir kali menjuarai Swiss Open pada edisi 2012, lewat pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Sementara itu, pencapaian terbaik terakhir ganda campuran Indonesia di ajang tersebut tercipta pada edisi 2019. Kala itu, pasangan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari menjadi runner-up usai kalah dengan wakil Denmark, Mathias Bay-Smidt/Rikke Soby, dengan skor 18-21, 21-12, 16-21.

Editorial Team