Jalan Panjang Tim Lead Indonesia, dari Asian Games ke Olimpiade 2028

- Tim lead dan boulder Indonesia berhasil mengamankan kuota penuh untuk Asian Games 2026, menjadi langkah awal menuju impian tampil di Olimpiade Los Angeles 2028.
- Para atlet menunjukkan progres signifikan dalam teknik dan mental, meski masih harus mengejar dominasi Jepang, Korea Selatan, dan China di level Asia serta beradaptasi dengan kondisi latihan berbeda.
- Target utama tim adalah menembus peringkat 40 besar dunia agar lolos kualifikasi Olimpiade 2028, dengan Asian Games 2026 dijadikan batu loncatan penting untuk pembuktian kemampuan.
Jakarta, IDN Times - Tim lead dan boulder panjat tebing Indonesia sedang berada pada fase paling krusial dalam sejarahnya. Skuad Garuda tengah membangun dari nol, merintis, dan bermimpi tentang sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, membawa Indonesia untuk pertama kalinya main di nomor lead dan boulder dalam Olimpiade Los Angeles 2028.
Perjalanan ini bukan tentang satu kompetisi. Tapi tentang konsistensi dan impian besar yang dijaga dalam tiap babak dan laga menuju pesta olahraga terakbar dunia. Langkah mereka sudah dimulai dengan menyapu bersih kuota untuk tampil di Asian Games 2026 mendatang.
Raviandi Ramadhan dan Alma Ariella Tsany berhasil melengkapi kuota penuh Timnas panjat tebing usai mengikuti Kejuaraan Asia 2026. Sebelum mereka, Sukma Lintang Cahyani dan Putra Tri Ramadani lebih dulu mengantongi tiket ke Asian Games.
Kini, dengan kuota yang sudah penuh, Indonesia melangkah ke multi-event bergengsi Asia itu dengan skuad yang lengkap dan dengan ambisi yang jauh melampaui sekadar hadir. Ini jadi pijakan pertama untuk langkah besar lainnya menuju Olimpiade 2028 mendatang.
Di balik euforia lolos Asian Games dari Asian Championship, ada keringat panjang yang tidak terlihat oleh kamera. Tapi justru di situlah cerita ini menjadi menarik. Ketika sebuah tim tidak punya beban reputasi untuk dipertahankan, yang ada hanyalah ambisi untuk merangkak naik.
1. Secercah harapan perkembangan Lead Indonesia mulai terlihat

Beberapa tahun lalu, menyebut Indonesia sebagai kandidat serius di nomor lead rasanya terlalu optimistis. Kini, pelatih lead dan boulder tim nasional, Amri, melihat sesuatu yang berbeda di mata para atletnya.
"Melihat anak-anak itu, ekspektasinya sangat bagus. Manjatnya bagus semua, enggak ada mentalnya down. Benar-benar maksimal," kata Amri saat ditemui IDN Times di Pelatnas Panjat Tebing, Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Perkembangan itu bukan isapan jempol. Di beberapa ajang terakhir, beberapa atlet mampu menunjukkan performa maksimal. Meskipun bicara persaingan di level dunia, dua negara, yakni Jepang dan Korea Selatan, masih menjadi momok utama.
"Mungkin, di level dunia juga yang kami hadapi Jepang, Korea Selatan, levelnya sudah sangat tinggi. Sedangkan, kami di lead dan boulder masih merintis, tapi menuju ke sana," kata Amri.
Lintang, salah satu atlet putri andalan tim, merasakan sendiri akselerasi perkembangan yang dimaksud dari dalam. Lintang tak sekadar bicara statistik, tapi juga tentang rasa percaya diri yang tumbuh setiap kali berhasil melewati babak yang semula terasa mustahil.
"Progresnya sebenarnya lebih cepat ini, lebih cepat meningkat, dibandingkan tahun lalu-lalu. Dari segi peringkat juga waktu itu kan pada masuk semi, jadi kelihatan progresnya," kata Lintang ditemui pada waktu yang sama.
Hal senada diutarakan Ravianto. Secara teknis, Ravianto merasa skuad Garuda mulai mampu menunjukkan taring di level Asia.
"Kalau untuk Lead, kami merasa sudah mulai bisa bersaing di level Asia. Apalagi di beberapa momen terakhir di World Cup, beberapa teman-teman juga udah ada yang sempat merasakan final seperti apa," kata Ravianto.
Secara teknis, Ravianto juga menegaskan tim Indonesia bahkan sudah bisa bersaing dari sisi variasi gerak. Ini menunjukkan ekosistem lead dan boulder yang sudah semakin baik. Bukan hanya soal kapabilitas atlet dan pelatih, tetapi juga melibatkan route setter.
"Dan memang dari ragam variasi geraknya, kamus kami sudah lebih banyak untuk di Lead," kata Ravianto.
2. Membaca peta persaingan yang tidak mudah

Bicara tentang peta persaingan lead Asia berarti harus membahas tiga raksasa yang sudah lama mendominasi, yakni Jepang, Korea Selatan, dan China. Mereka bukan sekadar lawan, tetapi juga menjadi standar yang harus dikejar.
"Kalau untuk persaingan di Asia ya, memang jelas ada tiga sih, yang saat ini masih kuat. Ada Jepang, Korea, sama China," kata Raviandi.
Kabar baiknya, Raviandi yakin tim Indonesia hanya butuh jam terbang yang lebih banyak untuk bisa mengejar level permainan lawan. Tiap pertandingan bukan hanya soal menang atau kalah, tapi juga jadi tolak ukur kemampuan dan perkembangan para atlet.
"Karena, melihat di beberapa seri World Cup itu, apalagi di Lead, kami sudah bisa bersaing. Tapi kalau kesempatannya kurang, mungkin itu bisa menurun. Kalau semakin banyak kesempatan, kami bisa ikut World Cup. Itu bisa menjadi perkembangan lah, terutama untuk Lead dan Boulder. Jam terbangnya itu paling penting. Karena pada setiap kompetisi itu jadi pembelajaran juga. Misalnya, melatih ada jalur-jalur baru," kata Raviandi.
Di level dunia, tantangannya bahkan lebih berat. Eropa menjadi pesaing berat selanjutnya dengan kekuatan Prancis dan Italia sebagai kiblat. Kedua negara ini mendominasi ranking global. Selain itu, ada juga faktor yang sering luput dari perhatian publik, yakni soal perbedaan iklim latihan. Para atlet Indonesia berlatih dalam cuaca panas, sementara kompetisi besar sering berlangsung di negara dengan udara dingin.
"Perbedaannya di kami latihannya panas. Sedangkan, China dan Eropa daerahnya dingin. Adaptasi dari panas ke dingin, jarinya linu sehingga tak maksimal," kata Amri.
Di sinilah letak tantangan sesungguhnya. Bukan sekadar soal fisik dan teknik, melainkan adaptasi terhadap cuaca hingga pengalaman menghadapi jalur-jalur asing yang dirancang dengan filosofi berbeda dari apa yang biasa mereka temui di dalam negeri. Semakin sering bertemu dengan jalur-jalur baru, semakin kaya kamus gerakan yang dimiliki seorang pemanjat.
3. Mimpi menembus Olimpiade 2028

Para atlet Lead Indonesia punya mimpi besar. Ekspresi mereka berubah saat ditanya soal Olimpiade. Binar matanya menyala, determinasi tinggi bahkan terasa dari nada suara.
Olimpiade 2024 Paris lalu, nomor speed menjadi fokus utama Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Namun, sebagaimana yang federasi sudah ungkapkan sejak sebelum Paris 2024 berlangsung, Lead dan Boulder akan didorong untuk menyusul prestasi Speed di Olimpiade 2028 Los Angeles mendatang.
"Target untuk ke Olimpiade. Karena di Olimpiade belum pernah ada atlet Lead dan Boulder. Jadi, mau mengukir sejarah," kata Lintang.
Nomor Lead dan Boulder memang belum pernah mengantarkan atlet Indonesia ke panggung Olimpiade. Speed sudah berprestasi dengan gemilang usai meraih emas Olimpiade Paris 2024 lewat Veddriq Leonardo. Raviandi dan Ravianto menggambarkan keinginannya untuk tampil di Olimpiade secara sederhana dan gamblang.
"Keinginannya 100 persen. Semua akan kita lakukan. Ibaratnya memang mimpinya ya. Mimpinya itu yang dikejar. Memang itu yang dikejar. Unlimited sih. Lebih ke gimana caranya ya kami fight untuk masuk Olimpiade ," kata Raviandi.
Tampak jelas, Raviandi, Ravianto, hingga Lintang, bukan sekadar mau numpang lewat di Olimpiade. Mereka ingin berjuang, membawa nama baik Indonesia di panggung olahraga terbesar di dunia. Harapan tak hanya datang dari para atlet, tetapi juga dari pelatih.
"Ya, mungkin progresnya bagus ke depan," kata Amri.
Olimpiade bukan sekadar ajang olahraga untuk mereka. Tapi, menjadi refleksi dari peluh dan kerja keras bertahun-tahun yang penuh pengorbanan dan pilihan untuk terus naik meski jalurnya belum pernah ditaklukkan siapa pun sebelumnya.
4. Ada target tertentu yang harus dicapai sebelum menembus Olimpiade

Jalan menuju Los Angeles 2028 tidak sesederhana latihan dan berangkat. Ada mekanisme kualifikasi yang kompleks dan tidak memberi ruang untuk lengah sedetik pun. Beberapa punya aturan spesifik. Termasuk soal posisi ranking yang bakal aman untuk mengunci satu tiket mentas di Olimpiade.
"Karena di 2027 itu akan ada kualifikasi ya. Nah, saya kalau masuk di 40 besar itu akan ada undangan untuk nanti masuk ke Olimpiadenya. Jadi, Olympic Qualifier Series kami harus berada di peringkat 40 (besar) dulu. Dan bagaimana cara kami tetap di peringkat 40 dunia? Walaupun mau lebih tinggi, tapi kalau kami lihat, kemungkinannya kita masuk ke top 40 dulu," kata Raviandi.
Raviandi menggambarkan ketatnya persaingan di level dunia. Menurut dia, tiap negara bisa saja punya lebih dari dua wakil di top 40 dunia. Padahal, setiap negara hanya boleh mengirimkan maksimal dua atlet per nomor ke Olimpiade.
Artinya, bahkan jika Jepang punya enam atlet di ranking atas, hanya dua yang bisa berangkat. Sementara, tempat kosong lainnya akan diperebutkan oleh negara lain.
Raviandi tak mau bergantung pada capaian ranking atlet negara lainnya. Maka dari itu, Raviandi bertekad untuk mengamankan tempat di 40 besar sehingga bisa memastikan diri untuk mentas di Olimpiade, terlepas dari bagaimana pun nasib para wakil dari negara-negara unggulan lainnya.
"Jadi yang make sense-nya, kami masuk dulu di (ranking) 40 besar, biar ada undangannya (ke Olimpiade) dulu. Posisinya aman dulu," kata Raviandi.
Raviandi dan Ravianto berharap tim Lead panjat tebing Indonesia diberikan kesempatan untuk berlaga secara utuh di tiap seri World Cup yang digelar musim ini untuk bisa mengumpulkan poin untuk lolos kualifikasi ke Olimpiade 2028 Los Angeles mendatang.
5. Asian Games jadi batu loncatan dan panggung pembuktian

Sebelum berbicara soal Olimpiade, ada satu event yang harus ditaklukkan terlebih dulu, yakni Asian Games 2026. Ajang ini rencananya akan bergulir di Jepang pada 19 September hingga 4 Oktober 2026 mendatang.
Bagi Raviandi dan Ravianto, ini bukan kompetisi biasa karena menjadi debut di Asian Games. Keduanya menyadari persaingan melawan negara-negara raksasa Asia tidak akan mudah. Namun, Raviandi dan Ravianto sepakat ingin memberikan perlawanan yang sulit
"Pasti yang jelas podium sih. Tapi kan kalau melihat persaingan, untuk sampai final pun pasti sudah cukup senang sih," kata Raviandi saat ditanya soal targetnya di Olimpiade.
Tim panjat tebing Indonesia akan menghadapi sederet World Cup Series jelang Asian Games 2026. Raviandi semangat untuk memaksimalkan segala daya upaya untuk bisa mentas dengan cemerlang di turnamen-turnamen tersebut. Terlebih karena Raviandi akan mentas di dua nomor, Lead putra dan Boulder putra.
"Kalau saya pribadi, karena mungkin di tahun lalu itu kesempatannya juga belum banyak di series World Cup. Kalau ada setiap kesempatan, pasti saya usahakan semaksimal mungkin. Entah itu World Cup atau itu Asian Games. Kalau namanya udah bertanding, ya kita perang habis-habisan. Enggak ada namanya setengah-setengah," ujar Raviandi
Sementara itu, Ravianto punya pendekatan yang lebih strategis. Ravianto menyusun strategi untuk bisa tampil maksimal. Termasuk dalam sederet turnamen yang akan berlangsung sebelum Asian Games 2026 mendatang.
"Mungkin saya sudah mempersiapkan bagaimana caranya saya mengonsep semua jalurnya untuk bisa saya selesaikan,” kata Ravianto.
Padangan berbeda muncul dari Lintang. Memastikan diri untuk berlaga di Asian Games 2026, Lintang ingin ajang ini menjadi batu loncatan untuk persiapannya menatap Olimpiade 2028 Los Angeles mendatang.
"Kalau di World Cup Series, inginnya saya bisa meningkatkan peringkat. Jadi lebih konsistenlah. Jadi, Asian Games ini menjadi batu loncatan. Karena di ujungnya Olimpiade," kata Lintang.
Sementara, Amri menetapkan target besar untuk anak-anak asuhnya. Amri ingin tim Lead Indonesia wajib podium di Asian Games 2026 mendatang.
"Wajib medali, karena kuota Asian Games tidak banyak. Setiap negara cuma (maksimal) dua. Lawan terberatnya, Jepang sih," ujar Amri.
6. Kendala soal manajemen gerak

Salah satu aspek yang sering luput dari perhatian publik, namun sebenarnya krusial untuk atlet, adalah soal manajemen gerak. Mulai dari efisiensi waktu hingga adaptasi lingkungan. Cara mengelola tenaga selama durasi enam menit pemanjatan menjadi krusial. Kerap kali, hal ini masih menjadi penghambat bagi para atlet Indonesia untuk mencapai puncak.
"Gerakannya kan tergantung jalur yang disediakan. Rata-rata, jalur kompetisi itu jalur strength, power. Nah, kadang-kadang, anak-anak ini, kekurangannya itu gerakannya. Manajemen gerak harus ditingkatkan. Kadang-kadang mereka mengejar waktu. Sedangkan, semakin kita merintis ke atas, tenaga tangan semakin habis. Kalau kami memanjat pelan, maka tenaga tangan semakin habis. Sedangkan waktu cuma enam menit," kata Amri.
Hal ini diakui oleh para atlet. Alma, misalnya. Atlet muda Indonesia ini mengakui masih kesulitan membaca jalur dan mengatur waktu.
"Saya itu kurang pintar membaca jalur, karena waktu memanjat agak lama, membuang waktu lah karena memikirkan jalur itu. Jadi, habis waktu di sana. Lalu faktor cuaca juga, di sana dingin," kata Alma.
Dari sudut pandang atlet, ini terjadi karena kurangnya pengalaman. Raviandi percaya tim Indonesia bisa mentas dan meraih hasil yang lebih baik jika mendapatkan kesempatan dan pengalaman yang lebih banyak.
"Kalau yang saya lihat, sejauh ini sudah pada jalur yang seharusnya (menuju Olimpiade). Jadi memang yang saya lihat, Indonesia hanya kurang experience dan jam terbang sih," kata Raviandi.
Perjalanan dari Asian Games ke Olimpiade memang panjang. Tapi, di antara jari-jari yang menggenggam hold dengan sekuat tenaga, di antara keringat yang menetes di lintasan latihan yang panas, dan di antara malam-malam ketika tubuh lelah tapi pikiran masih merencanakan gerakan berikutnya, di situlah sejarah sedang ditulis, perlahan namun pasti.
Tim Indonesia menatap ke depan. Mungkin bukan sebagai yang paling disegani atau paling diunggulkan. Tapi dengan harapan dan semangat penuh untuk membawa Merah Putih bersinar sekali lagi di Olimpiade.



















