Ultra Cyclist Malang Ukir Sejarah di Lintang Flores 2026

- Juney Hanafi, ultra cyclist asal Malang, mencetak sejarah sebagai juara pertama Indonesia di ajang ekstrem internasional Lintang Flores 2026 setelah menaklukkan rute 1.034 kilometer.
- Dengan waktu tempuh 79 jam lima menit, Juney menyelesaikan rute Labuan Bajo–Maumere bermodal kurma dan nasi kuning, bahkan sempat menuntun sepeda akibat gear yang kurang memadai.
- Ajang Lintang Flores juga mengusung misi sosial dengan donasi untuk renovasi sekolah di Ende, sekaligus menandai dominasi penuh pesepeda Indonesia di podium tahun ini.
Jakarta, IDN Times - Sejarah baru tercipta dalam ajang balap sepeda ekstrem internasional, Lintang Flores 2026. Untuk pertama kalinya dalam tiga edisi penyelenggaraan, podium juara berhasil direbut oleh atlet asli Indonesia.
Ultra cyclist asal Malang, Juney Hanafi, naik podium pertama usai menaklukkan rute neraka sepanjang 1.034 kilometer. Ia sukses menyingkirkan dominasi pesepeda asing dari Inggris dan Australia yang merajai dua edisi sebelumnya.
1. Selesaikan rute neraka dalam 79 jam

Juney sukses melahap rute bolak-balik Labuan Bajo-Maumere dengan total elevasi mencapai 19.000 meter. Ia menyentuh garis finis di Ta'aktana Resort Labuan Bajo dengan catatan waktu fantastis, yakni hanya 79 jam lima menit.
Posisi kedua dan ketiga juga disapu bersih oleh pesepeda lokal, yakni Muhammad Ghanez Athoriq serta Muhammad Irwan. Sementara, di kategori wanita, atlet asal Belanda, Charlotte Troost, menjadi pemenang dengan waktu tempuh 87 jam 48 menit.
2. Bekal kurma, nasi kuning, dan harus menuntun sepeda

Juney membagikan kisah perjuangan brutalnya menembus ratusan tanjakan gunung dan pesisir pantai untuk mencapai garis finis. Ia mengaku sempat kehabisan tenaga dan terpaksa menuntun sepedanya saat memasuki kilometer ke-800 akibat gear sepeda yang kurang memadai.
Menariknya, rahasia staminanya menaklukkan Pulau Flores hanyalah berbekal sekantung kurma dan nasi kuning. Kondisi fisiknya tak perlu dipertanyakan lagi, mengingat ia bersepeda dari Malang ke Surabaya, lalu menempuh 30 jam perjalanan laut menuju Labuan Bajo untuk mengikuti lomba.
"Rutenya luar biasa—naik turun gunung dan pantai ratusan kali. Untuk yang akan ikut, siap-siap nanjak. Saya merasa gear saya kurang, jadi di beberapa tanjakan cadence mulai drop. Pada KM 800 ke atas, saya bahkan sempat mendorong sepeda," kata Juney dalam keterangan resminya.
3. Solidaritas dan donasi untuk pendidikan Flores

Penggagas Lintang Flores, Renaldus Iwan Sumarta, merasa bangga melihat atlet tanah air menyapu bersih podium pada tahun ini. Selain ajang adu ketahanan fisik, ajang ini juga mengusung misi kemanusiaan lewat penyaluran donasi. Tahun ini, dana yang terkumpul akan digunakan untuk merenovasi ruang belajar SMAK St. Yosef Freinademetz Mukusaki, di Ende, yang rusak akibat longsor.
"Tahun ini istimewa, karena podium pertama hingga ketiga diraih pesepeda Indonesia. Ini menegaskan semangat ultra cycling yang kian tumbuh di tanah air. Kemenangan mereka membuktikan bahwa ajang ini terbuka bagi siapa saja yang berani menguji batas diri," ujar Iwan.


















