Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menilik Transfer Ambisius Tottenham Hotspur pada Musim Panas 2026

Menilik Transfer Ambisius Tottenham Hotspur pada Musim Panas 2026
potret tribun Tottenham Hotspur Stadium (unsplash.com/Sung Jin Cho)
Intinya Sih
  • Tottenham memecahkan rekor transfer dua kali untuk Mateus Fernandes dan Sandro Tonali, merekrut Jan Paul van Hecke serta pemain gratis, sambil membidik Savinho untuk mengatasi krisis lini depan.
  • Roberto De Zerbi mengubah kebijakan Spurs dari fokus talenta muda menjadi pemain matang siap pakai, dengan belanja melampaui 237 juta pound sterling setelah klub finis ke-17 Premier League 2025/2026.
  • Untuk menyeimbangkan keuangan, Spurs menjual Luka Vuskovic dan melepas sejumlah pemain; Vicario, Romero, Spence, Richarlison, serta talenta muda seperti Bergvall dan Gray menghadapi ketidakpastian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tottenham Hotspur langsung tancap gas pada bursa transfer musim panas 2026 dengan mendatangkan beberapa pemain demi merekonstruksi tim. Klub asal London Utara ini secara mengejutkan mengubah kebijakan finansial secara drastis untuk membiayai perombakan skuad secara besar-besaran. Ini dilakukan demi memenuhi ambisi Pelatih Roberto De Zerbi yang mengusung filosofi permainan baru yang jauh lebih agresif dan berani.

Langkah ambisius yang diambil Spurs menjadi sinyal kuat untuk menyudahi masa kelam pada musim sebelumnya. Perubahan orientasi rekrutmen pemain secara masif menandai dimulainya babak baru di bawah komando sang juru taktik asal Italia itu. Artikel ini akan mengulas secara mendalam dinamika belanja pemain, strategi taktis De Zerbi, hingga perombakan total komposisi skuad utama.

1. Tottenham datangkan nama-nama tenar Premier League hingga pecahkan 2 rekor transfer klub

Tottenham Hotspur bergerak sangat agresif dengan memecahkan rekor transfer klub dua kali berturut-turut demi mengamankan jasa Mateus Fernandes senilai 85 juta pound sterling (Rp2,051 triliun) dari West Ham United serta Sandro Tonali seharga 100 juta pound sterling (Rp2,413 triliun) dari Newcastle United. Lini pertahanan juga mendapat suntikan tenaga baru dengan kedatangan Jan Paul van Hecke dari Brighton & Hove Albion dengan biaya 52 juta pound sterling (Rp1,254 triliun). Selain pengeluaran besar tersebut, Spurs sukses merekrut tiga pemain berpengalaman secara gratis, yakni Marcos Senesi, Andrew Robertson, dan penjaga gawang veteran Martin Dubravka.

Perekrutan deretan pemain ini didasari oleh kebutuhan taktis Roberto De Zerbi untuk memperbaiki sirkulasi bola yang lambat dan terbiasa mengalir ke samping atau ke belakang pada era Thomas Frank. Marcos Senesi yang mencatatkan progressive passes terbanyak di English Premier League (EPL) 2025/2026 bersama Van Hecke selaku pemimpin line-breaking passes dihadirkan untuk membelah garis pertahanan lawan langsung dari area belakang. Di sektor tengah, Mateus Fernandes menjanjikan perlindungan terhadap tekanan lawan, sedangkan Sandro Tonali menyumbang mobilitas, kualitas teknis, dan daya tarung fisik sebagai mitra idealnya.

Kehadiran sosok senior seperti Robertson dan Dubravka menambah kedalaman skuad sekaligus menyuntikkan kedewasaan serta mentalitas pemenang ke ruang ganti Spurs. Sementara itu, De Zerbi kini harus membenahi lini serang akibat badai cedera yang menimpa Dejan Kulusevski, Wilson Odobert, dan Xavi Simons. Klub tengah merampungkan kesepakatan bernilai sekitar 60 juta pound sterling untuk memboyong penyerang sayap Manchester City, Savinho, guna menutupi kekosongan di lini depan.

Tak berhenti di situ, De Zerbi secara terbuka berburu rekrutmen bernilai fantastis yang ia sebut sebagai penyerang berprofil bomba. Radar transfer Tottenham kini mengarah kepada deretan penyerang beken seperti Bradley Barcola dari Paris Saint-Germain (PSG), Amine Gouiri dari Olympique Marseille, serta Ferran Torres dari FC Barcelona. Pelatih Italia itu dikabarkan juga memantau bakat muda meliputi Can Uzun dari Eintracht Frankfurt, Christian Kofane dari Bayer Leverkusen, Nico Paz dari Como, hingga Abde Ezzalzouli dari Real Betis.

2. Kedatangan Roberto De Zerbi turut mengubah arah transfer dari pemain muda ke pemain siap pakai

Tottenham Hotspur di bawah kepemimpinan Daniel Levy dikenal pelit, pasif, dan penuh keraguan-raguan dalam berburu pemain hingga berujung kegagalan. Target-target utama klub pada musim lalu, seperti Eberechi Eze, Morgan Gibbs-White, hingga Bryan Mbeumo gagal didatangkan akibat sikap setengah-setengah dalam proses negosiasi. Kebijakan rekrutmen pasif dan gaya permainan monoton itu membuat Spurs terperosok hingga finis di peringkat ke-17 Premier League 2025/2026 dengan koleksi 48 gol, terburuk sejak 2008/2009.

Roberto De Zerbi datang membawa perubahan radikal melalui pendekatan agresif bak singa kelaparan dalam memburu pemain idamannya pada bursa transfer. Kegigihan pelatih berusia 47 tahun ini terbukti saat ia melakukan pendekatan personal secara intensif kepada Sandro Tonali, bahkan sebelum Spurs memastikan diri lolos dari ancaman degradasi. De Zerbi dengan tegas menepis tekanan publik terkait besarnya dana belanja klub yang telah menembus angka 237 juta pound sterling lebih per Juli 2026.

Sang kepala pelatih menegaskan, investasi besar pada pemain kelas atas merupakan syarat mutlak jika Tottenham ingin bersaing di papan atas Premier League. Langkah berani ini menandai pergeseran filosofi klub secara fundamental yang sebelumnya mengandalkan kumpulan talenta muda untuk proyek jangka panjang. Proyek pembinaan jangka panjang seperti Archie Gray, Lucas Bergvall, Luka Vuskovic, dan Souza kini pelan-pelan ditinggalkan oleh manajemen Spurs.

De Zerbi mengalihkan haluan klub secara drastis menuju rekrutmen pemain matang berusia 22 hingga 32 tahun yang siap tempur. Para pemain berprofil matang ini diharapkan mampu memberikan dampak instan bagi hasil pertandingan di lapangan. Rekonstruksi taktis ini membuktikan komitmen penuh klub untuk menyingkirkan tabu kegagalan masa lalu demi meraih kejayaan secara cepat.

3. Kebijakan transfer yang agresif mengorbankan beberapa pemain utama dan pemain muda Spurs

Ambisi belanja besar-besaran menuntut manajemen Tottenham Hotspur untuk menjaga keseimbangan finansial dengan melepas sejumlah pemain ke klub lain. Mereka telah menjual bek muda Luka Vuskovic ke Brighton & Hove Albion dengan nilai rekor penjualan klub mencapai 50 juta pound terling (Rp1,207 triliun). Sementara itu, Radu Dragusin resmi dilepas kepada Fiorentina melalui status pinjaman dengan kewajiban beli senilai 21,4 juta pound sterling (Rp516,7 miliar).

Cuci gudang skuad berlanjut saat Will Lankshear dilego kepada Middlesbrough, Alfie Devine kepada Preston North End, dan Alejo Veliz kepada klub Brasil, Esporte Clube Bahia. Selain penjualan pemain muda, Yves Bissouma juga dipastikan angkat kaki dari London Utara dengan status bebas transfer. Perombakan ini turut mengancam posisi para pemain senior yang selama ini menghuni skuad utama Spurs.

Guglielmo Vicario kehilangan posisi penjaga gawang utama usai tersingkir oleh penampilan impresif Antonin Kinsky, sehingga kini Vicario berpotensi dijual atau dipinjamkan kepada klub Serie A Italia seperti Juventus atau Napoli. Cristian Romero dan Djed Spence, yang tampil apik di Piala Dunia 2026, tak luput dari kabar kepindahan karena diminati klub-klub raksasa seperti Inter Milan serta Atletico Madrid. Richarlison, yang memasuki 12 bulan terakhir dalam masa kontraknya, siap dilepas jika ada penawaran menarik sebelum masa baktinya habis.

Perubahan filosofi ini berdampak pahit bagi talenta muda seperti Lucas Bergvall dan Archie Gray yang tidak lagi mendapatkan jaminan menit bermain dari De Zerbi. Bergvall kini menjadi buruan serius Nottingham Forest dan Newcastle United akibat minimnya kesempatan tampil di skuad utama. Terpinggirkannya pemain muda seperti Gray dan Pape Sarr memperlihatkan skema De Zerbi yang memprioritaskan pemain siap pakai membawa risiko jangka panjang apabila proyek ini gagal menghasilkan trofi juara.

Ambisi besar Tottenham Hotspur pada bursa transfer 2026 menjadi perjudian tingkat tinggi bagi masa depan klub di bawah komando Roberto De Zerbi. Perombakan skuad secara instan ini akan menentukan apakah Spurs mampu bangkit menjadi kekuatan utama Premier League atau justru terjebak dalam krisis baru jika target manajemen gagal diraih.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More