Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Opsi Max Verstappen setelah Ditinggal Gianpiero Lambiase
Max Verstappen di Formula 1 Grand Prix China 2026 (commons.wikimedia.org/Liauzh)
  • Red Bull mengalami eksodus besar setelah kepergian tokoh penting seperti Christian Horner, Adrian Newey, dan Jonathan Wheatley, yang mengguncang stabilitas tim serta memengaruhi lingkaran dekat Max Verstappen.
  • McLaren muncul sebagai kandidat kuat bagi Max Verstappen setelah merekrut Gianpiero Lambiase, meski sang pembalap masih menimbang masa depannya di Red Bull dan kemungkinan pensiun dini.
  • Mercedes turut memantau situasi kontrak Max Verstappen di tengah negosiasi George Russell, memperlihatkan potensi perebutan besar antar tim papan atas menjelang musim Formula 1 berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kepergian Gianpiero Lambiase dari Red Bull memicu keraguan besar tentang masa depan Max Verstappen di Formula 1. Pembalap Belanda itu mulai mempertimbangkan peluang kepindahan setelah 2026. Berbagai tim rival langsung memanfaatkan momentum berharga itu untuk mendetikanya.

Dalam sebuah manuver mengejutkan, McLaren mengambil langkah strategis dengan merekrut Gianpiero Lambiase, tangan kanan Max Verstappen, sebagai chief racing officer. Keputusan itu menjadikan mereka kandidat utama untuk mendapatkan hati Verstappen pada masa mendatang. Publik pun menantikan langkah karier Verstappen selanjutnya dalam bursa transfer Formula 1.

1. Dinasti Red Bull runtuh seiring eksodus tokoh kunci ke Aston Martin dan tim rival

Red Bull mengalami keruntuhan setelah meraih empat gelar juara dunia Formula 1 pada 2021—2024. Keruntuhan dinasti itu makin terasa emosional saat kepala tim, Christian Horner, angkat koper lebih awal pada Juli 2025. Kejadian itu mendorong desainer legendaris, Adrian Newey, dan direktur olahraga, Jonathan Wheatley, pindah ke Aston Martin dan Audi.

Berbagai tim rival langsung memanfaatkan momentum buruk Red Bull untuk menarik para staf ahli. McLaren dengan cerdik memboyong desainer, Rob Marshall, dan kepala strategi, Will Courtenay. Selain itu, penasihat, Helmut Marko, juga diam-diam pergi pada akhir 2025.

Gelombang eksodus Red Bull menggerus lingkaran terdekat Max Verstappen. Pil pahit kembali ditelannya saat Matt Caller, kepala mekanik andalannya, memilih bergabung dengan Audi. Sementara, kepala desainer, Craig Skinner, dan teknisi penting lainnya kompak pergi pada 2026.

2. McLaren menjadi kandidat terkuat bagi destinasi Max Verstappen

Max Verstappen sudah bekerja 10 tahun bersama Gianpiero Lambiase. Pada 2021, dirinya mengaitkan kelanjutan karier balapnya dengan keberadaan sang teknisi. Sebagai bukti kedekatan, mantan petinggi Red Bull sering menyebut mereka sebagai pasangan karena intensitas perdebatan lewat radio tim.

Setelah merekrut Gianpiero Lambiase, McLaren berpotensi menyediakan kursi kosong bagi Max Verstappen di Formula 1 2028. Mengingat, mereka hanya mengikat Lando Norris dan Oscar Piastri masing-masing sampai 2027 dan 2028. Selain itu, adanya klausul performa dalam kontrak membuka peluang kepergian lebih awal bagi Norris dan Piastri.

Meski begitu, Max Verstappen tidak akan mengikuti jejak Gianpiero Lambiase secara buta ke McLaren. Pembalap Formula 1 dengan empat gelar juara dunia itu masih ingin melihat perkembangan situasi Red Bull. Tak lupa, dia turut mempertimbangkan opsi pensiun dini karena tidak puas terhadap rancangan mobil balap.

3. Mercedes mengincar Max Verstappen di tengah negosiasi kontrak George Russell

Di tengah bayang-bayang nama besar Max Verstappen, George Russell berusaha mati-matian untuk mempertahankan kursi Mercedes. Sebelumnya, mereka merahasiakan durasi pasti kesepakatan dari hadapan publik. Namun, Russell membocorkan keberadaan klausul performa di tengah pusaran kabar tentang Max Verstappen.

Masa depan George Russell sempat digantung saat petinggi Mercedes sengaja mengulur waktu perpanjangan kontrak pada 2025. Mereka baru mengumumkan kesepakatan resmi setelah Russell meraih kemenangan di Formula 1 Grand Prix Singapura 2025. Status kontrak lantas kembali memancing perhatian saat Mercedes mendominasi awal musim 2026 dan mereka memantau kondisi Max Verstappen.

Tantangan George Russell tidak hanya datang dari luar lintasan karena harus menghadapi persaingan internal dengan Kimi Antonelli. Antonelli memastikan keutuhan hubungan mereka di tengah pertarungan sengit perebutan gelar juara dunia. Sementara, publik terus mengaitkan Max Verstappen dengan Mercedes dalam situasi kontrak yang belum pasti.

4. Hengkangnya Gianpiero Lambiase mengisyaratkan akhir perjalanan Max Verstappen

Dengan penuh kedewasaan, Max Verstappen membuka suara untuk merelakan hengkangnya Gianpiero Lambiase. Sang teknisi balap rupanya meminta persetujuan Verstappen sebelum menerima tawaran ini. Pembalap asal Belanda itu secara tegas menyuruh rekannya mengambil kesempatan fantastis ini untuk keamanan masa depan keluarganya.

Max Verstappen dan Gianpiero Lambiase membangun salah satu kemitraan paling sukses dalam sejarah Formula 1 sejak 2016. Verstappen pernah menyatakan syarat utama tentang kelanjutan masa depannya di Red Bull. Dirinya hanya mau melanjutkan perjalanan kariernya bersama tim selama Lambiase tetap tangan kanannya.

Memahami beban Max Verstappen, Jos Verstappen akhirnya angkat bicara. Tanpa kehadiran teknisi andalan mereka, dia memperkirakan anaknya sekadar melanjutkan jadwal Formula 1 tanpa ambisi yang jelas. Pembalap juara dunia itu juga sedang menghadapi musim Formula 1 yang sangat sulit.

Max Verstappen menghadapi kondisi yang sukar. Dirinya harus merelakan kepergian teknisi andalannya dalam situasi Formula 1 yang berat. Keputusan hengkang pun menawarkan pilihan logis bagi masa depan Max Verstappen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team