Performa dan Prestasi Chris Paul Selama Berkarier di NBA

Chris Paul memutuskan pensiun. Dia mengakhiri kariernya pada 2026. Pemain berjuluk CP3 itu mengumumkannya lewat Instagram pada 14 Februari 2026.
Paul sendiri telah berkarier selama 21 musim di NBA. Dia debut pada 2005. Sejak itu, Paul mampu memberikan dampak kepada tiap tim yang dibelanya. Begini rekap kariernya selama di NBA.
1. Menutup karier dengan rata-rata 16,8 poin
Chris Paul debut dengan mengesankan. Dia memulai kariernya bersama Charlotte Hornets pada 2005/2006 dengan rata-rata 16,1 poin. CP3 pun keluar sebagai Rookie of the Year.
Sejak debutnya, Paul kerap mencetak rata-rata belasan hingga puluhan poin per musim. Rata-rata tertingginya terjadi pada 2008/2009. Saat itu, dia mencetak 22,8 poin untuk Hornets.
Secara keseluruhan, selama membela Charlotte Hornets, Chris Paul mampu mengoleksi 18,7 poin per pertandingan dalam 6 musim. Itu menjadi rata-rata poin tertingginya untuk sebuah tim. Namun, angkanya tidak berbeda jauh dengan saat membela Los Angeles Clippers. Selama 7 musim di California, dia mencetak 18,2 poin.
Selain Hornets dan Clippers, Paul juga sempat membela Houston Rockets, Oklahoma City Thunder, Phoenix Suns, Golden State Warriors, San Antonio Spurs. Dalam 21 musim membela semua tim, rata-ratanya mencapai 16,8 poin. Pada 3 musim terakhir, CP3 tidak pernah mencetak lebih dari sepuluh poin per pertandingan sehingga rata-rata totalnya turun.
2. Menjadi salah satu raja assist dengan 12.552 assist
Chris Paul terkenal sebagai point guard papan atas. Beberapa menyebutnya sebagai Point God. Dia piawai mengatur permainan. Bahkan, menjadi salah satu raja assist dalam sejarah NBA.
Paul menutup kariernya dengan total 12.552 assist. Dengan catatan itu, dia bertengger di peringkat kedua pengirim assist terbanyak sepanjang masa. CP3 hanya kalah dari John Stockton (15.806 assist).
Rata-rata assist Chris Paul mencapai 9,2 assist. Namun, dalam 7 musim di antaranya, rata-ratanya bisa mencapai sepuluh assist atau lebih. Ini menunjukkan kemampuannya dalam mengirim operan secara terukur.
3. Bertengger di peringkat kedua dalam steal sepanjang masa
Chris Paul tidak hanya tajam secara ofensif. Dia juga keras dalam bertahan. Ini dibuktikan dari catatan steal-nya. CP3 telah mengumpulkan total 2.728 steal sepanjang kariernya.
Jumlah itu menempatkannya di peringkat kedua pencetak steal terbanyak sepanjang masa. Dia lagi-lagi hanya kalah dari John Stockton (3.265 steal). Kendati demikian, CP3 secara luas masih dianggap sebagai pemain bertahan individu yang lebih baik karena kekuatan, kecepatan, dan kelincahan lateralnya yang superior, yang memungkinkannya mendominasi pertahanan pada masa jayanya.
Sementara, Stockton lebih sering dipandang sebagai pemain bertahan sistemik, yang sangat tangguh dan elite dalam memegang rekor steal sepanjang masa. Secara sekilas, Paul boleh dibilang menawarkan kemampuan bertahan perimeter yang lebih baik saat Stockton mengkhususkan diri dalam mengganggu jalur operan.
4. Pensiun tanpa cincin, tetapi dengan lemari prestasi yang penuh
Chris Paul memang pensiun tanpa cincin. Dia tidak sempat menjadi juara NBA selama 21 tahun kariernya di sana. Namun, lemari prestasinya tidak akan kekurangan hiasan. Sebab, dia telah mengoleksi berbagai penghargaan.
Paul, misalnya, terpilih sebagai All-Star sebanyak 12 kali. Dia juga kerap masuk ke jajaran pemain bertahan terbaik dengan 9 kali All-Defensive dan 6 kali steal leader. Semua itu dilengkapi dengan capaian lain macam 5 kali assist leader, 11 kali All-NBA, dan 1 kali NBA All-Star Game Most Valuable Player (MVP).
Dalam beberapa musim, Chris Paul bahkan mampu bersaing di antara para MVP NBA. Dia 5 kali finis di 5 besar persaingan pemain terbaik. Salah satunya dengan berdiri di peringkat kedua MVP pada 2007/2008. Saat itu, dia kalah dari Kobe Bryant.
Meski mengakhiri karier tanpa cicin, Paul patut berbangga. Dia terbilang konsisten dan mampu memberikan dampak kepada tiap tim yang dibelanya. Prestasi-prestasi individu di atas membuktikan kualitasnya. Karier 21 musim di NBA juga menegaskan keberadaannya dalam persaingan keras di liga bola basket terbaik sedunia. Tidak mudah melewati puluhan musim dengan cara seperti itu.
















