Performa Ganda Campuran Indonesia di Kejuaraan Asia 2026, Keok Semua!

- Empat pasangan ganda campuran Indonesia tampil di Kejuaraan Asia 2026 namun seluruhnya gagal melangkah jauh, bahkan dua di antaranya langsung tersingkir pada babak pertama.
- Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta dan Amri Syahnawi/Nita Violina sempat mencapai babak kedua, tetapi keduanya kalah dari pasangan unggulan Korea Selatan dan tuan rumah China.
- Hasil tanpa medali ini menjadi sinyal perlunya evaluasi besar bagi sektor ganda campuran Indonesia agar mampu bersaing di level tertinggi turnamen Asia mendatang.
Tim bulu tangkis Indonesia kembali menurunkan kekuatan terbaiknya di sektor ganda campuran pada Kejuaraan Asia 2026. Sebanyak empat pasangan dikirim untuk bersaing di turnamen bergengsi yang memiliki level setara turnamen BWF Super 1000 tersebut. Keempat pasangan ini diharapkan mampu bersaing dengan para unggulan dari negara-negara kuat Asia lainnya, tapi hasil yang didapat justru jauh dari harapan setelah seluruh wakil Indonesia gagal melangkah jauh di turnamen ini.
Kegagalan ini bahkan sudah terlihat sejak babak pertama, di mana dua pasangan Indonesia langsung tersingkir pada laga pembuka. Sementara itu, dua pasangan lainnya juga tidak mampu melaju jauh setelah terhenti di babak-babak awal berikutnya. Catatan ini menjadi evaluasi penting bagi sektor ganda campuran Indonesia, lalu seperti apa detail perjalanan dan hasil yang diraih keempat pasangan tersebut di Kejuaraan Asia 2026?
1. Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil kalah dari pasangan Taiwan
Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil harus langsung mengakhiri langkah mereka di babak pertama Kejuaraan Asia 2026. Mereka kalah dari pasangan Taiwan, Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan, lewat dua gim langsung dengan skor 16-21 dan 14-21 dalam waktu 31 menit. Pertemuan ini menjadi yang pertama bagi kedua pasangan.
Sepanjang pertandingan, Adnan/Indah terlihat kesulitan mengimbangi pola permainan cepat dan rapat yang diterapkan lawan. Mereka beberapa kali tertinggal jauh dalam perolehan poin dan tidak mampu membalikkan momentum. Kekalahan ini sekaligus menunjukkan masih adanya PR, terutama dalam hal adaptasi strategi saat menghadapi pasangan yang belum pernah ditemui sebelumnya.
2. Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti gagal mengatasi perlawanan pasangan unggulan
Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti juga mengalami nasib serupa setelah tersingkir di babak pertama. Mereka harus mengakui keunggulan unggulan ketiga asal Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, dengan skor 9-21 dan 14-21 dalam durasi 28 menit. Ini menjadi pertemuan perdana bagi kedua pasangan di level internasional.
Perbedaan kualitas permainan terlihat cukup mencolok sepanjang laga berlangsung. Bobby/Melati kesulitan keluar dari tekanan dan kerap kehilangan poin akibat kesalahan sendiri. Di sisi lain, pasangan Thailand tampil solid dengan kombinasi serangan tajam dan pertahanan disiplin yang membuat wakil Indonesia sulit berkembang.
3. Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dikalahkan pasangan Korea Selatan
Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu menjadi salah satu wakil Indonesia yang mampu melangkah hingga babak kedua. Sebagai unggulan ketujuh, mereka menunjukkan perlawanan sengit sebelum akhirnya dikalahkan pasangan Korea Selatan, Kim Jae Hyeon/Jang Ha Jeong. Pertandingan berlangsung ketat selama tiga gim dengan skor 21-23, 22-20, dan 10-21 dalam waktu 1 jam 13 menit.
Laga ini memperlihatkan daya juang tinggi dari Jafar/Felisha, terutama saat mampu memaksakan rubber game setelah memenangkan gim kedua. Namun, mereka kehilangan konsistensi di gim penentuan dan tertinggal cukup jauh sejak awal. Hasil ini menjadi indikasi bahwa meski memiliki potensi, mereka masih perlu meningkatkan stabilitas permainan di momen krusial.
4. Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah dibekuk pasangan unggulan pertama tuan rumah
Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah juga terhenti di babak kedua setelah menghadapi lawan tangguh. Mereka kalah dari pasangan tuan rumah sekaligus unggulan pertama, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, dengan skor 10-21 dan 15-21 dalam durasi 43 menit. Kekalahan ini menambah catatan head to head menjadi 0-4 untuk keunggulan pasangan China.
Sejak awal pertandingan, Amri/Nita tampak berada di bawah tekanan permainan cepat dan agresif lawan. Mereka kesulitan mengembangkan pola serangan serta kerap dipaksa bertahan dalam reli panjang. Meski sempat memberikan perlawanan di gim kedua, dominasi pasangan China tetap terlalu kuat untuk dibendung.
Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa sektor ganda campuran Indonesia belum mampu bersaing optimal di level tertinggi seperti Kejuaraan Asia 2026. Kegagalan seluruh wakil melangkah jauh, termasuk dua pasangan yang langsung tersingkir di babak pertama, menjadi catatan penting bagi proses evaluasi dan pembinaan. Hasil ini sekaligus memastikan Indonesia tanpa medali dari sektor ganda campuran di Kejuaraan Asia 2026


















