2 Tahun Prabowo-Gibran: Efisiensi Anggaran dan Prestasi Olahraga

- Erick Thohir menggantikan Dito Ariotedjo sebagai Menpora pada September 2025 dan mendapat izin FIFA untuk tetap merangkap jabatan sebagai Ketua Umum PSSI.
- Indonesia menjadi runner-up SEA Games 2025 dengan 91 emas dan melampaui target Asian Games 2026 lewat lima emas, meski finis peringkat ke-16.
- Efisiensi anggaran Kemenpora memangkas pelatnas sejumlah cabang, tetapi pemerintah tetap menyalurkan bonus Rp465,25 miliar untuk peraih medali SEA Games 2025.
Jakarta, IDN Times - Perjalanan olahraga Indonesia era Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka diwarnai catatan beragam. Dinamika ini dipengaruhi pergantian Menpora, efisiensi anggaran lewat penentuan cabor prioritas, hingga pergantian pelatih timnas usai kegagalan melaju ke Piala Dunia 2026.
Di tengah penghematan, atlet Indonesia tak cuma beradaptasi, tetapi juga bertahan dan berprestasi. Usaha keras mereka pun tetap berbuah manis lewat bonus apresiasi dari negara.
1. Pergantian Menteri: Dari Dito ke Erick

Erick Thohir bersama dua perwakilan Ajax Amsterdam. (IDN Times/Tino). Dito Ariotedjo tak menuntaskan jabatannya sebagai Menpora. Ia digantikan Erick Thohir yang resmi dilantik pada 17 September 2025 lewat reshuffle jilid ketiga Kabinet Merah Putih.
Erick menjadi Menpora ke-15 sekaligus sosok non-partai politik pertama di posisi tersebut, seusai diberhentikan dari Menteri BUMN.
Rekam jejak Erick di olahraga cukup panjang, mulai dari Ketua Panitia Asian Games 2018 hingga Ketum PSSI sejak 2023. Rangkap jabatan ini sempat memicu perdebatan publik.
Erick menyerahkan keputusan penuh kepada FIFA. Federasi sepak bola dunia itu pun memberikan izin.
“Selamat sekali lagi kepada Erick Thohir, yang baru saja dilantik sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga yang baru. Sebagai Ketum PSSI, dia sudah melakukan pekerjaan luar biasa dan saya yakin dia akan membawa jiwa kepemimpinan dan visi yang baik di posisi barunya ini (sebagai Menpora),” ujar Presiden FIFA, Gianni Infantino, pada Kamis, 18 September 2026.
Restu Infantino menjadi sinyal hijau bagi Erick untuk mengemban dua peran sekaligus. Ujian pertamanya langsung hadir di SEA Games Thailand kurang dari tiga bulan setelah pelantikan.
2. SEA Games 2025: Runner-up terbaik dalam tiga dekade

Presiden Prabowo Subianto berikan bonus Peraih Medali SEA Games 2025. (IDN Times/Ilman Nafi'an) Kabar membanggakan datang dari SEA Games 2025 Thailand. Tim Indonesia mengemas 333 medali—91 emas, 112 perak, dan 130 perunggu, hingga sukses mengunci posisi runner-up di bawah tuan rumah.
Capaian ini melampaui target awal 90 emas.
“Realitanya kemarin seperti yang sudah disampaikan, untuk SEA Games sendiri, itu kalau kita bisa mendapatkan emas 82–90 kita di ranking tiga. Itu sejalan dengan yang sudah sebelum-sebelumnya. Nah, ini yang terus kita gali potensinya,” kata Erick di Kantor Kemenpora, Jakarta, Senin, 10 November 2025.
Hasil di Thailand menjadi raihan runner-up luar kandang terbaik Indonesia sejak SEA Games 1995. Atletik menyumbang emas terbanyak, sementara menembak mendominasi raihan total lewat 23 medali.
Indonesia juga mencetak rekor emas perdana di cabor ice hockey, basket 3x3 putri, petanque, kabaddi, dan futsal putra. Hal ini membuktikan prestasi nasional tak lagi bergantung pada cabor tertentu.
Sektor anggaran tetap menjadi tantangan besar. Kebijakan efisiensi memaksa Kemenpora memaksimalkan dana terbatasi.
Pemerintah lantas memprioritaskan cabor proyeksi Asian Games dan Olimpiade, dengan mengutus 1.021 atlet.
Meski demikian, pemerintah tetap mengucurkan apresiasi bernilai total Rp465,25 miliar. Peraih emas tunggal memperoleh Rp1 miliar, perak Rp315 juta, dan perunggu Rp157 juta.
"Kami dari Kemenpora langsung mentransfer seluruh bonus kepada masing-masing atlet dan pelatih langsung melalui BRI. Total dananya Rp465,25 miliar. Ini angka yang luar biasa. Terima kasih, Bapak Presiden," ujar Erick di Istana Negara pada Kamis, 8 Januari 2026 lalu.
Nominal bonus SEA Games 2025 ini melonjak dua kali lipat ketimbang edisi 2023 yang hanya Rp289 miliar.
3. Prestasi Timnas Indonesia dan Rolex ikonik dari Presiden

Timnas Indonesia merayakan kemenangan sebagai juara perdana FIFA ASEAN Cup 2026 (instagram.com/timnasindonesia) Dua tahun Prabowo-Gibran turut menjadi fase dinamis sepak bola nasional. Sorotan tertuju pada kiprah Skuad Garuda di kancah internasional hingga kado jam tangan mewah Rolex dari Presiden Prabowo usai laga Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Indonesia menekuk China 1-0 di SUGBK lewat penalti Ole Romeny, yang membawa tim melenggang ke putaran keempat.
Sehari usai laga, Presiden Prabowo mengundang pemain dan ofisial makan siang di kediamannya, lalu membagikan jam tangan Rolex.
Mensesneg Prasetyo Hadi memastikan kado tersebut bersumber dari dana pribadi Prabowo, bukan APBN. Menpora Dito Ariotedjo turut menegaskan pemberian itu sebagai bentuk apresiasi personal presiden.
Prestasi puncak lalu terukir pada 5 Oktober 2026. Indonesia menjuarai edisi perdana FIFA ASEAN Cup setelah bermain 2-2 hingga extra time dan menang adu penalti 4-2 atas Thailand di SUGBK.
4. Efisiensi Anggaran: Pelatnas dikurangi, bahkan dihentikan

Defile tim Indonesia dalam upacara pembukaan Asian Games 2026 Aichi-Nagoya di Jepang (dok.NOC Indonesia/Naif Muhammad Al As) Kebijakan efisiensi menekan anggaran Kemenpora sejak awal 2025. Pagu anggaran merosot dari Rp2,3 triliun menjadi Rp1,034 triliun, atau terpangkas Rp1,29 triliun, yang berdampak pada pemangkasan kuota atlet luar negeri.
"Dengan adanya efisiensi ini, pastinya kita ada penyesuaian dan kita akan fokus kepada cabor prioritas yang akan dipertandingkan di SEA Games 2025,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo di Cibubur, Kamis (13/2/2025) lalu.
Imbasnya felt hingga ke pelatnas. FORKI membubarkan pelatnas karate, PASI memulangkan atlet dari Pangalengan, dan Percasi sempat menghentikan pelatnas SEA Games 2025.
PB PASI mengonfirmasi pemulangan atlet Pangalengan akibat pemangkasan anggaran. "Pada 31 Januari 2025 kami dikabarkan bahwa para atlet harus dipulangkan semuanya dengan alasan efisiensi anggaran," kata Anggota Komisi Humas Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), Singgih Widiyastono dalam acara pembukaan Running Summit 2025 di Pangalengan, dilansir ANTARA, Sabtu (15/2/2025).
Tekanan berlanjut pada 2026, terutama bagi cabor non-prioritas yang pembiayaannya diperketat per atlet. Pelatnas akuatik bahkan dibubarkan pada April 2026, hanya sebulan setelah berjalan.
"Persiapannya, jujur, agak, bagaimana ya bilangnya? Kami kan juga tiba-tiba kemarin Pelatnas sempat dibubarin ya," kata Flairene saat ditemui di Stadion Akuatik GBK, Selasa (28/4/2026) malam WIB.
Flairene menyebut pemotongan anggaran menjadi alasan utama pemulangan atlet.
"Gak ada anggaran, katanya. Aku juga kurang tahu. Cuma katanya gak ada anggaran. Karena anggarannya dipotong, ya kami semua terpaksa dipulangkan,” kata Flairene.
5. Asian Games 2026: Target terlampaui, tapi peringkat turun

Defile tim Indonesia dalam upacara pembukaan Asian Games 2026 Aichi-Nagoya di Jepang (dok.NOC Indonesia/Naif Muhammad Al As) Kabar gembira datang dari Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Pemerintah sengaja mematok target realistis empat emas, lebih rendah dari edisi sebelumnya.
Awal kompetisi berlangsung ketat hingga Indonesia baru mengoleksi satu perak dan 12 perunggu per 23 September. Emas pertama akhirnya pecah dari tim beregu putra bulu tangkis usai membungkam China 3-2, disusul Rahmat Erwin Abdullah (angkat besi 75 kg), Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin (bulu tangkis), serta rekor emas pertama sepanjang sejarah dari cabor panahan.
Indonesia menutup turnamen di peringkat ke-16 dengan 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu (total 39 medali). Hasil ini melampaui target emas dan menjadi yang terbaik ketiga di ASEAN, meski peringkatnya turun dibanding edisi Hangzhou (peringkat 13; 7 emas, 11 perak, 18 perunggu).
Sejumlah catatan minor turut mewarnai, seperti tersingkirnya Veddriq Leonardo di semifinal speed panjat tebing serta kegagalan Aditya meraih medali di final.
Atas capaian ini, Presiden Prabowo menjanjikan bonus Rp3 miliar bagi peraih emas perorangan, naik signifikan dibanding bonus SEA Games. Bonus perak dan perunggu masih menunggu pengumuman resmi.
6. Rapor yang belum selesai

Defile tim Indonesia dalam upacara pembukaan Asian Games 2026 Aichi-Nagoya di Jepang (dok.NOC Indonesia/Tetuko Mediantoro) Dua tahun ini membuktikan olahraga Indonesia tetap kompetitif meski dengan anggaran terbatas. Strategi prioritas dan seleksi ketat terbukti mampu menghasilkan runner-up SEA Games serta lima emas Asian Games.
Namun, penghentian pelatnas menjadi harga mahal yang harus dibayar. Pekerjaan rumah besar kini menanti para atlet menuju kualifikasi Olimpiade 2028.























