Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sepak Terjang Cody Rhodes, Anak Legenda yang Jadi Bintang Utama WWE

Sepak Terjang Cody Rhodes, Anak Legenda yang Jadi Bintang Utama WWE
ilustrasi sebuah pertandingan gulat profesional (unsplash.com/Senad Palic)
  • Cody Rhodes, putra Dusty Rhodes, berawal sebagai juara gulat amatir SMA sebelum debut di WWE pada 2007, bergabung dengan Legacy, dan meraih gelar Intercontinental serta Tag Team.

  • Setelah keluar dari WWE pada 2016, Cody membangun persona The American Nightmare di arena independen, lalu ikut mendirikan AEW pada 2019 sebagai EVP dan juara TNT perdana.

  • Cody kembali ke WWE pada 2022, mengalahkan Roman Reigns di WrestleMania XL 2024, tiga kali menjadi Undisputed WWE Champion, dan kini berseteru dengan Randy Orton.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dalam industri gulat profesional, tak banyak yang berani keluar dari zona nyaman demi membuktikan kemampuan. Cody Rhodes mungkin salah satu dari segelintir pegulat yang melakukannya. Lahir dari dinasti gulat legendaris, putra dari Dusty Rhodes, ia tak sekadar menumpang nama besar sang ayah. Cody berhasil membangun kariernya sendiri hingga menjadi salah satu bintang utama promosi gulat World Wrestling Entertainment (WWE) saat ini.

  1. 1. Membangun kariernya sebagai pegulat amatir ketika duduk di bangku SMA

    Dilansir The SmackDown Hotel, Cody Rhodes lahir di Marietta, Georgia, pada 30 Juni 1985 dari pasangan Michelle Rubio dan pegulat legendaris era 1980-an, Dusty Rhodes. Ia tumbuh besar di keluarga pegulat, termasuk saudara tirinya, Dustin Rhodes, dan paman-pamannya, Fred Ottman dan Jerry Sags. Saat remaja, ia secara resmi mencantumkan "Rhodes", nama ring sang ayah, sebagai nama belakangnya.

    Di Lassiter High School, Georgia, Cody menorehkan prestasi sebagai juara gulat amatir tingkat negara bagian dua kali berturut-turut (2003 dan 2004). Meski sempat berencana melanjutkan karier gulat amatir ketika masuk ke perguruan tinggi Penn State University, ia memilih terjun ke gulat profesional. Dilansir Post and Courier, sang ayah mendorong Cody menjadi aktor atau penulis alih-alih mengikuti jejaknya. Cody pun manut keinginan Dusty dengan mendalami seni peran di Howard Fine Acting School, Los Angeles, selama 1 tahun (2005–2006).

  2. 2. Menjadi anggota faksi Legacy yang dipimpin Randy Orton pada masa-masa awal di WWE

    Dilansir situs resmi WWE, Cody Rhodes mengawali kariernya di unit pengembangan talenta WWE, Ohio Valley Wrestling (OVW), pada 2006. Di sana, ia sempat setim dengan Shawn Spears serta CM Punk. Cody akhirnya menembus panggung utama (main roster) pada 2007 dan diperkenalkan langsung oleh sang ayah. Namanya mencuat ketika menjadi anggota faksi Legacy bersama Randy Orton dan Ted DiBiase Jr.

    Sepanjang dekade pertamanya di WWE, Cody membuktikan dirinya sebagai pegulat serbabisa. Ia bergonta-ganti persona, mulai dari Dashing yang narsistik hingga karakter komikal Stardust yang sangat mirip Goldust. Meski berhasil merengkuh gelar juara Intercontinental Champion dan Tag Team Champion, Cody merasa potensinya terhalang pengembangan karakter yang terbatas. Pada Mei 2016, ia mengambil keputusan berani dengan meminta pemutusan kontrak dari WWE demi mencari kebebasan berkarya.

  3. 3. Membentuk persona The American Nightmare ketika menjadi pegulat independen

    Keputusannya hengkang dari WWE ternyata terbukti jitu. Dilansir Encyclopedia Britannica, Cody Rhodes kemudian menjelajahi berbagai arena gulat independen terkemuka untuk mengasah kemampuan, termasuk Ring of Honor (ROH) dan Impact Wrestling yang kini menjadi Total Nonstop Action (TNA). Namun, kariernya melesat saat menjadi bagian dari New Japan Pro-Wrestling (NJPW) pada 2016–2018. Tergabung dalam faksi Bullet Club, ia terlibat pertikaian dengan Kenny Omega yang berujung kepada storyline bertajuk Civil War.

    Pada periode inilah lahir persona The American Nightmare sebagai bentuk penghormatan sekaligus pembeda dengan sang ayah. Cody mengubah karakternya secara drastis menjadi heel (karakter antagonis) dengan sikap arogan dan manipulatif. Berkat rambut pirang, setelan jas rapi, dan performa yang makin matang, ia berhasil melepas citra pegulat medioker. Perubahan ini sukses mengubahnya menjadi salah satu pegulat independen paling dicari di kancah global.

  4. 4. Ikut melahirkan All Elite Wrestling (AEW), promosi gulat pesaing WWE, pada 2019

    Puncak karier Cody Rhodes sebagai pegulat independen terjadi pada 2018 bersama The Young Bucks (Matt Jackson dan Nick Jackson) mengguncang kancah gulat profesional Negeri Paman Sam. Dilansir CBS Sports, ketiganya tertantang membuktikan komentar jurnalis gulat terkemuka, Dave Meltzer, pada Mei 2017 yang mengatakan bahwa acara gulat independen tidak akan sanggup menjual habis tiket di arena berkapasitas 10.000 kursi di Amerika Serikat. Pada Mei 2018, setelah melalui masa perencanaan, ketiganya mengumumkan acara bertajuk All In.

    Tak butuh waktu lama, saat penjualan dibuka pada 13 Mei 2018, tiket All In ludes terjual hanya dalam waktu 30 menit. Di puncak acara pada 1 September 2018, Cody mengalahkan Nick Aldis untuk merebut gelar juara NWA World Heavyweight Champion. Kesuksesan tersebut menjadi cikal bakal berdirinya promosi gulat All Elite Wrestling (AEW) pada 2019. Cody bertindak sebagai salah satu pendiri sekaligus executive vice president (EVP). Di AEW, Cody tak hanya bertarung di atas ring dan menjadi juara TNT Champion pertama, tetapi juga berperan penting di balik layar untuk membangun reputasi promosi gulat tersebut hingga menjadi pesaing WWE.

  5. 5. Kembali ke WWE pada 2022 dan langsung menjadi rival Roman Reigns

    Secara mengejutkan, Cody Rhodes memutuskan tidak memperpanjang kontraknya dengan AEW dan kembali ke WWE dalam WrestleMania 38 pada April 2022. Kembalinya Cody disambut bagai pahlawan. Mengusung misi emosional untuk memenangkan gelar demi sang ayah yang sudah wafat pada 2015, upayanya dipenuhi momen-momen ikonis. Salah satunya Hell in a Cell di Backlash 2022 melawan Seth Rollins dengan kondisi otot dada terputus.

    Puncak perjalanannya terjadi saat ia menjuarai Royal Rumble dua kali berturut-turut (2023 dan 2024), yang membawanya pada perseteruan dengan Roman Reigns. Cody sempat menantang Reigns di WrestleMania 39 (2023), tetapi harus mengakui keunggulan lawan saat itu. Lewat kegigihan, Cody baru sukses menuntaskan perjalanannya dengan menekuk Reigns di WrestleMania XL (2024) lewat pertandingan sengit selama 33 menit.

  6. 6. Sempat tiga kali memegang gelar juara Undisputed WWE Champion sebelum pindah kepada CM Punk

    Sebagai pemegang gelar juara Undisputed WWE Champion, Cody Rhodes mempertahankan titel tersebut dengan melawan AJ Styles, Logan Paul, Solo Sikoa, hingga Kevin Owens. Ia juga menjadi juara perdana WWE Crown Jewel Champion yang mempertemukannya dengan Gunther, juara World Heavyweight Championship. Rekor 378 hari sebagai Undisputed WWE Champion berakhir di WrestleMania 41 (2025) lantaran takluk dari John Cena.

    Dilansir Internet Wrestling Database, Cody kemudian bangkit dengan menjuarai King of the Ring 2025 dan merebut kembali gelar dari Cena di SummerSlam 2025. Meski sempat hilang dari tangannya selepas dibekuk Drew McIntyre, Cody memenanginya lagi untuk ketiga kali di Monday Night Raw episode 6 Maret 2026. Namun, ia ditumbangkan Sami Zayn di Night of the Champions 2026 pada 27 Juni 2026. Terakhir, upayanya merebut kembali gelar juara Undisputed WWE Champion di SummerSlam 2026 dari tangan CM Punk kandas akibat gangguan Randy Orton.

    Meski sedang tidak memegang gelar juara, Cody Rhodes tetap menjadi face of the company alias bintang utama WWE. Namun, ia sedang terlibat pertikaian dengan Randy Orton, mantan pemimpin faksi Legacy dengan Cody dulu sebagai salah satu anggotanya. Kedua akan bertarung dalam Sunday Night's Main Event pada 6 September 2026 mendatang. Siapa yang berhasil menjadi pemenang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More