Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Absennya Honey Shot Selama Penyelenggaraan Piala Dunia 2026
ilustrasi suporter sepak bola (pexels.com/Geancarlo Peruzzolo)

Terlepas dari segala kontroversi dan polemiknya, ada satu hal yang patut diapresiasi di Piala Dunia 2026 beberapa waktu lalu, yakni absennya honey shot, sebuah istilah informal dalam dunia penyiaran yang merujuk kepada kesengajaan menyorot perempuan yang dianggap menarik. Honey shot sering ditemukan dalam siaran pertandingan olahraga, targetnya penonton bahkan atlet perempuan. Masih ingat kasus suporter Kroasia Ivana Knoll di Piala Dunia 2018? Viralnya Knoll mungkin dianggap positif, tetapi sebenarnya tanpa kita sadari cukup problematik. Mengapa?

1. Honey shot dilakukan tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan

Dilansir Slate, “penemu” honey shot adalah Andy Sidaris, produser yang bekerja untuk kanal televisi ABC Sports di Amerika Serikat. Selama menjabat, tayangan olahraga ABC kerap memperlihatkan perempuan-perempuan di dalam venue pertandingan yang dianggap menarik sebagai intermeso alias hiburan selingan. Tak hanya penonton, tetapi juga pemandu sorak.

Semua memang terlihat normal beberapa dekade lalu. Namun, kalau kamu perhatikan sekarang, fenomena ini sarat pelanggaran. Pertama, tidak ada persetujuan dari subjek yang disorot mengingat honey shot biasanya diambil saat siaran langsung. Perlu diingat, tentu tidak semua subjek honey shot nyaman dengan perhatian yang mereka dapat. Ini turut melanggengkan anggapan kolot bahwa perempuan tampil di publik demi dapat validasi pria.

Terlepas dari beberapa testimoni yang bilang beberapa dari mereka justru kebanjiran tawaran kerja gara-gara viral, termasuk Ivana Knoll di Piala Dunia 2018 dan Natalia Betancourt di Piala Dunia 2014. Pamela Anderson bahkan disebut naik daun setelah jadi subjek honey shot saat menonton sebuah laga di Canadian Football League (CFL) pada 1989. Namun, jangan lupakan risiko yang bisa mereka dapat. Diwawancarai BBC, Betancourt mengaku, selain dapat tawaran kerja, juga tetap kerap dapat komentar tak menyenangkan di media sosial.

2. Honey shot bisa dilihat sebagai pelanggengan male gaze

Masalah lainnya adalah pelontaran komentar seksis saat kamera menyorot subjek honey shot yang seringnya perempuan. Masih ingat kasus dari negeri sendiri beberapa tahun lalu? Dalam salah satu momen pertandingan Liga 1 Indonesia antara Persita Tangerang melawan PSM Makassar pada 6 Maret 2020 yang disiarkan di sebuah saluran televisi nasional, kamera mengarah kepada tiga sosok suporter perempuan. Rama Soegianto, salah satu komentator yang bertugas saat itu kemudian mengucapkan kalimat gurauan yang mengarah kepada objektifikasi perempuan.

Rekaman siaran itu diunggah ke media sosial oleh seorang pengguna dan viral. Kabar baiknya, kali ini warganet tak tinggal diam, apalagi menormalisasi gurauan seksis tersebut. Soegianto dicecar dan akhirnya meminta maaf kepada publik atas ucapannya. Itu bukan kasus tunggal, di luar negeri, komentator olahraga ESPN, Brent Musberger, juga pernah menuai kontroversi saat mengomentari pacar salah satu atlet football Amerika, AJ McCarron, pada 2013.

Kasus ini menyadarkan kita betapa lekatnya honey shot dengan male gaze, kecenderungan industri mengakomodasi kepentingan konsumen pria dengan memotret perempuan sesuai fantasi dan selera pria heteroseksual. Merujuk tulisan Natalie Elser dari University of South Carolina dalam tesisnya yang berjudul "The Female Sports Fan Experience: How Women Consume Sports and How Sports Are Marketed to Women", honey shot bisa dilihat sebagai pelanggengan hegemoni pria heteroseksual dalam skena olahraga. Honey shot seolah memberikan persetujuan bagi pria heteroseksual menyertakan unsur seksual ke dalam olahraga. Sebaliknya, selain kaum mereka, seksualisasi olahraga haram hukumnya.

Parahnya, seksualisasi terhadap suporter perempuan ini juga berkembang kepada stigma-stigma tertentu. Suporter olahraga pria cenderung berasumsi bahwa motivasi penonton perempuan di venue olahraga adalah penampilan fisik pemain belaka. Mereka tak percaya kalau ada suporter perempuan yang murni menikmati pertandingan tanpa melihat fisik pemain seperti mereka. Asumsi yang melekat itu kemudian mendorong suporter pria mengetes pengetahuan suporter perempuan. Tujuannya membuktikan bahwa mereka murni penggemar olahraga, bukan suporter karbitan yang hanya tergiur ketampanan atlet. Pernah mengalaminya atau justru kamu pelakunya?

3. FIFA melarang honey shot sejak 2018

Kabar baiknya, isu honey shot sampai ke telinga petinggi FIFA. Dilansir BBC, setelah organisasi nonprofit, Fare Network, mendokumentasikan puluhan kasus honey shot di Piala Dunia 2018, FIFA akhirnya menetapkan larangan praktik tersebut. Getty Images yang memegang lisensi fotografi untuk Piala Dunia pun menghapus galeri berjudul "World Cup 2018: The Sexiest Fans".

Regulasi ini berhasil. Sepanjang Piala Dunia 2022 dan Piala Dunia 2026, honey shot tak lagi terlihat. Tak ada lagi suporter perempuan yang viral karena jadi objek male gaze penggemar sepak bola yang mayoritas pria. Ini bisa dilihat sebagai salah satu gebrakan yang patut diapresiasi dari FIFA. Setidaknya, proteksi ini bisa membuat penonton perempuan merasa lebih aman dan nyaman di ruang publik yang masih didominasi pria tersebut.

Pertanyaannya, apakah hanya FIFA yang menerapkan larangan honey shot? Bagaimana nasib penonton perempuan di cabor lain? Bagaimana pula nasib atlet perempuan yang masih jadi target honey shot? Perlu rasanya untuk terus memantau isu ini dan terus berbenah untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan dalam olahraga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article