Analisis 5 Laga Pertama MU bersama Michael Carrick pada 2025/2026

- Michael Carrick menekankan kontrol tempo dan penguasaan bola dalam skema 4-2-3-1, dengan struktur yang stabil dan pembagian peran gelandang yang jelas.
- Kekuatan MU bertumpu pada transisi, stabilitas lini tengah, dan set-piece sebagai senjata pragmatis, namun mengalami kebuntuan saat menghadapi pertahanan blok rendah.
- Laga kontra West Ham memperlihatkan kebuntuan MU dalam menciptakan peluang nyata, menimbulkan pertanyaan akan penyesuaian taktik dan profil pemain di masa depan.
Tren positif Manchester United dalam empat laga terakhir harus terhenti pada pekan ke-26 English Premier League (EPL) 2025/2026. Bertandang ke markas West Ham United, MU justru nyaris kalah ketika Benjamin Sesko akhirnya menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-96 waktu tambahan. Laga tersebut memberikan gambaran jelas periode awal kepemimpinan Michael Carrick belum sepenuhnya bebas dari persoalan struktural, terutama ketika tim harus mendominasi permainan tanpa ruang.
Hasil imbang di London Stadium juga menandai ujian paling kontekstual bagi Carrick sejauh ini. Setelah mengalahkan Manchester City, Arsenal, Fulham, dan Tottenham Hotspur, MU untuk pertama kalinya gagal memaksimalkan status sebagai tim unggulan di atas kertas. Lima laga awal ini bisa dinilai sebagai potret utuh tentang arah filosofi Carrick, kekuatan yang langsung terlihat, sekaligus batasan taktik yang masih membayangi tim.
1. Michael Carrick menekankan kontrol tempo dan penguasaan bola dalam skema 4-2-3-1
Michael Carrick membangun fase awal kepemimpinannya dengan menekankan kontrol tempo dan penguasaan bola dengan formasi 4-2-3-1. Pendekatan ini tampak jelas jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, ketika Manchester United kerap terjebak dalam permainan vertikal yang terburu-buru dan spekulatif. Carrick menempatkan struktur sebagai titik awal, bukan intensitas semata, sehingga progresi permainan lebih terukur meski tidak selalu agresif.
Dalam fase build-up, MU kerap memulai dengan back four yang fleksibel membentuk tiga bek situasional. Salah satu full-back lebih sering menahan posisi dan menyempit ke half-space, sementara full-back di sisi lain diberi kebebasan untuk naik lebih tinggi. Struktur ini memberi stabilitas sirkulasi awal sekaligus menyediakan jalur progresi yang aman sebelum bola memasuki sepertiga akhir.
Carrick juga konsisten menggunakan double pivot atau trio gelandang sebagai pusat kontrol permainan. Peran gelandang dibagi dengan jelas, di mana satu pemain bertugas sebagai pemutus serangan, satu sebagai penghubung progresi, dan satu lainnya berfungsi sebagai kreator di antara lini. Pembagian ini mencerminkan filosofi Carrick sebagai mantan gelandang kontrol yang mengutamakan keseimbangan sebelum risiko.
Pendekatan tersebut sejatinya bukan revolusi total, melainkan bentuk stabilisasi. Carrick membawa kesinambungan dari prinsip yang ia terapkan di Middlesbrough, terutama soal penguasaan bola yang terstruktur dan kesabaran dalam membangun serangan. Lima laga awal ini menunjukkan, Carrick lebih fokus merapikan fondasi permainan ketimbang mengubah identitas tim secara drastis dalam waktu singkat.
2. Kekuatan Manchester United di bawah Michael Carrick bertumpu pada transisi, stabilitas lini tengah, dan set-piece
Kekuatan paling menonjol dari Manchester United di bawah Michael Carrick terlihat saat menghadapi lawan dengan permainan terbuka. Dalam kemenangan atas Manchester City dan Arsenal, struktur defensif yang rapi memungkinkan MU memanfaatkan momen transisi dengan efisien. Tim tidak terburu-buru menekan tinggi, tetapi menunggu momentum yang tepat untuk menyerang ruang kosong di belakang garis pertahanan lawan.
Optimalisasi transisi menyerang menjadi kunci utama pendekatan ini. Timing progresi bola dijaga agar tetap sinkron dengan pergerakan pemain depan, sementara pemain sayap dan second striker diberi kebebasan untuk bertukar posisi. Gelandang double pivot berperan sebagai penghubung untuk memastikan bola dapat berpindah dari fase bertahan ke menyerang tanpa kehilangan stabilitas.
Lini tengah menjadi poros keseimbangan taktik Carrick. Dalam beberapa laga, kombinasi Casemiro, Bruno Fernandes, dan Kobbie Mainoo memberikan pembagian tugas yang relatif jelas. Casemiro berperan sebagai ball-winner yang dominan dalam intersepsi dan duel udara, Fernandes menjadi sumber progresi dan kreativitas, sementara Mainoo berfungsi sebagai penghubung yang menjaga ritme dan alur permainan.
Set-piece juga menjadi senjata pragmatis yang signifikan. Gol dari situasi bola mati, seperti gol Bryan Mbeumo yang berawal dari sepak pojok kala melawan Tottenham Hotspur, menunjukkan MU memiliki solusi alternatif ketika permainan terbuka menemui kebuntuan. Dalam konteks lima laga awal, set-piece bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari manajemen pertandingan Carrick.
Secara defensif, MU tampil lebih kompak dan kalkulatif. Tim lebih sering bertahan dalam blok menengah, menutup jalur sentral, dan memancing lawan menguasai bola di area yang relatif aman. Pendekatan ini membuat MU lebih siap menghadapi transisi negatif, kendati di sisi lain menuntut konsentrasi tinggi dari lini belakang.
3. Laga kontra West Ham United memperlihatkan kebuntuan Manchester United saat menghadapi pertahanan blok rendah
Masalah paling konsisten dalam lima laga awal Michael Carrick muncul ketika Manchester United harus menghadapi blok pertahanan rendah. Laga melawan West Ham United menjadi contoh paling gamblang, ketika dominasi penguasaan bola tidak dibarengi dengan kualitas peluang. Menurut Opta Analyst, MU hanya mencatatkan total expected goals (xG) 0,63 sepanjang pertandingan dan bahkan hanya 0,23 xG pada babak pertama.
Sirkulasi bola MU cenderung terlalu horizontal dalam situasi tersebut. Pergerakan bola dari sisi ke sisi memang menjaga kontrol, tetapi minim progresi vertikal yang memecah struktur lawan. Kurangnya pergerakan tanpa bola pemain ketiga saat umpan 1-2 di area sentral membuat blok pertahanan lawan tetap kompak dan jarang terpaksa keluar dari posisinya.
Variasi progresi juga masih terbatas. Crossing yang dilepaskan kerap mudah dibaca karena tidak didahului manipulasi ruang yang memadai. Penetrasi melalui half-space relatif jarang, sementara pergerakan tanpa bola di sepertiga akhir sering bersifat reaktif, bukan proaktif.
Kondisi ini membuat MU kerap bergantung pada momen individual atau situasi bola mati. Gol penyama kedudukan Benjamin Sesko pada menit ke-96 melawan West Ham lahir dari kualitas penyelesaian akhir individu, bukan hasil konstruksi serangan yang berulang dan konsisten. Ketergantungan semacam ini menyelamatkan hasil jangka pendek, tetapi berisiko dalam konteks keberlanjutan performa.
Pertanyaan besar pun muncul dari lima laga awal ini. Apakah keterbatasan tersebut merupakan konsekuensi logis dari filosofi Carrick yang mengutamakan kontrol dan stabilitas, atau justru sinyal bahwa diperlukan penyesuaian taktik dan profil pemain untuk menghadapi skenario blok pertahanan rendah lawan. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan sejauh mana Carrick mampu membawa MU melampaui fase stabilisasi awal.
Lima laga pertama Michael Carrick bersama Manchester United memperlihatkan arah yang jelas, tetapi belum sepenuhnya komplet. Fondasi kontrol dan struktur telah terbentuk, tetapi tantangan terbesar Carrick justru terletak pada bagaimana mengubah dominasi menjadi peluang nyata tanpa mengorbankan keseimbangan yang telah ia bangun.


















