Jawabannya adalah ya, Michael Carrick harus berani mengambil keputusan taktikal yang tegas demi mengembalikan performa tim. Memaksa struktur permainan hanya demi mengakomodasi Marcus Rashford dan Matheus Cunha secara bersamaan terbukti memicu kompromi yang merusak keseimbangan. Kehadiran Benjamin Sesko sangat dibutuhkan sebagai penyerang tengah untuk menjadi titik acuan di dalam kotak penalti lawan.
Profil Sesko sebagai penyerang murni terbukti ampuh saat ia masuk sebagai pemain pengganti melawan Everton dan mencetak gol sundulan pada menit ke-88. Ancaman konstan Sesko di belakang garis pertahanan lawan akan memaksa bek musuh mundur sekaligus membuka ruang area paruh lapangan bagi Bruno Fernandes dan pemain sayap. Kondisi ini berbanding terbalik dengan peran false-nine Matheus Cunha yang justru membuat area tengah kian padat karena sang pemain sering turun mendekati bola.
Mengembalikan Cunha ke peran aslinya sebagai penyerang kiri akan mengembalikan ledakan performanya. Dari posisi asal tersebut, Cunha dapat melakukan akselerasi berbahaya ke dalam kotak penalti serta melepaskan tembakan jarak jauh yang menjadi keunggulannya. Langkah ini akan meningkatkan efektivitas lini serang secara keseluruhan tanpa harus mengorbankan potensi individu sang pemain.
Formasi lini depan ideal MU secara taktis harus menempatkan Sesko di tengah, Mbeumo di kanan, serta membiarkan posisi kiri diperebutkan secara objektif oleh Cunha dan Rashford. Susunan pemain utama tidak boleh diperlakukan sebagai area khusus bintang yang wajib menampung seluruh nama besar tanpa memperhatikan kebutuhan strategi. Penerapan rotasi yang sehat juga menjadi solusi tepat mengingat Sesko sempat mengalami masalah kebugaran.
Secara taktikal, Marcus Rashford bukanlah penyebab tunggal masalah, melainkan keberanian Michael Carrick dalam menyusun komposisi tim yang menjadi kunci utama. Mengembalikan Benjamin Sesko sebagai penyerang nomor sembilan murni dan merotasi lini depan secara objektif akan menjadi langkah vital untuk mengembalikan ketajaman Setan Merah.