4 Atlet yang Meninggal dalam Sejarah Piala Dunia, Ada yang Dibunuh

- Empat tragedi mewarnai sejarah Piala Dunia: kematian Sam Okwaraji di lapangan, Marc-Vivien Foé saat bertanding, pembunuhan Andrés Escobar, dan kecelakaan pesawat yang menewaskan Timnas Zambia.
- Sam Okwaraji dan Marc-Vivien Foé meninggal akibat masalah jantung mendadak di tengah pertandingan penting yang disaksikan jutaan penonton dunia.
- Andrés Escobar tewas ditembak usai gol bunuh diri di Piala Dunia 1994, sementara seluruh skuad Zambia gugur dalam kecelakaan pesawat menuju laga kualifikasi.
Piala Dunia FIFA adalah ajang olahraga paling populer di dunia. Oke, jadi gini, Piala Dunia adalah serangkaian pertandingan sepak bola yang diikuti 48 negara di tahun 2026 (sebelumnya 32 negara) selama sebulan. Itu berarti, menurut FIFA, lebih dari 5 miliar orang (penduduk Bumi 8,2 miliar) di seluruh dunia akan menonton setidaknya sebagian dari satu pertandingan.
Nah, karena taruhannya sangat tinggi, terlebih lagi karena Piala Dunia hanya ditentukan setiap empat tahun sekali, kebanggaan nasional, keinginan untuk menyombongkan diri, dan kejayaan olahraga pun dipertaruhkan. Jadi, perebutan gelar juara ini terasa seperti pertaruhan hidup dan mati. Yap, memang demikian dalam sejarahnya. Sebab, dalam kejadian tragis selama beberapa dekade terakhir sejarah Piala Dunia, beberapa atlet meninggal menjelang pertandingan, saat pertandingan, atau atau setelah pertandingan dalam sejarah Piala Dunia. Siapa saja mereka?
1. Sam Okwaraji meninggal dunia di lapangan, dan semangat juang Nigeria untuk Piala Dunia pun ikut sirna
Sam Okwaraji meninggalkan Nigeria menuju Eropa untuk mengejar gelar PhD. Di sisi lain, ia juga berbakat di bidang atletik, sama seperti di bidang akademiknya. Okwaraji akhirnya bermain untuk berbagai klub Eropa sepanjang tahun 1980-an dan kembali ke Nigeria pada tahun 1988 untuk bermain di tim nasional sepak bola Nigeria.
Pada Agustus 1989, Sam Okwaraji dan timnya, yang dijuluki Green Eagles, menghadapi Angola dalam pertandingan yang merupakan bagian dari turnamen kualifikasi Piala Dunia. Tim-tim yang berada di posisi teratas akan melaju ke kejuaraan tahun 1990 di Italia. Sekitar tiga perempat pertandingan, seorang wasit memberikan kartu merah kepada seorang pemain Angola, yaitu pengusiran. Ia menolak untuk meninggalkan lapangan, dan rekan-rekan setimnya mengelilingi wasit untuk protes.
Sementara itu, beberapa meter jauhnya, Sam Okwaraji tiba-tiba jatuh dalam sekejap. Rekan-rekan setimnya berlari ke sisinya, tetapi laki-laki berusia 25 tahun itu sudah meninggal dunia sebelum ia dapat menerima bantuan medis. Penyebab kematiannya, yang disaksikan oleh jutaan warga Nigeria di televisi secara live, kemudian dipastikan sebagai pembesaran jantung yang disertai tekanan darah tinggi.
Meskipun Nigeria memenangkan pertandingan itu dengan skor 1—0, pemain gelandang Timnas Nigeria yang bernama Etim Esin kemudian mengungkapkan bahwa kematian Sam Okwaraji membuat Timnas mereka gagal dalam meraih Piala Dunia 1990. "Kami semua takut karena tidak ada yang ingin ada yang jatuh dan mati." Ketika mereka tiba di bandara untuk berangkat ke pertandingan berikutnya, Esin mengatakan 4 pemain kunci tetap tinggal. Dua minggu kemudian, Nigeria tersingkir dari pertandingan.
2. Marc-Vivien Foé meninggal dunia saat bertanding di lapangan
Piala Konfederasi FIFA diadakan setiap empat tahun sekali. Pemenang dari berbagai turnamen regional dan kontinental, dengan perwakilan dari Asia, Afrika, Amerika, Oseania, dan Eropa, berkompetisi, bersama dengan juara Piala Dunia sebelumnya dan negara tuan rumah Piala Dunia berikutnya. Ini adalah pemanasan menuju Piala Dunia untuk menghibur penggemar sepak bola hingga Piala Dunia berikutnya, sehingga sering disebut sebagai Piala Dunia Mini atau secara resmi dikenal sebagai WMF World Cup.
Pada Juni 2003, Timnas Kamerun mencapai semifinal Piala Konfederasi untuk pertama kalinya. Kamerun berhadapan dengan Kolombia dalam pertandingan di Lyon, Prancis. Kamerun mempertahankan keunggulan 1—0 hingga akhir pertandingan. Namun, pada menit ke-72 pertandingan, gelandang Timnas Kamerun, Marc-Vivien Foé, tiba-tiba terjatuh dan pingsan.
Staf medis segera memberikan pertolongan sebelum membawa Vivien Foé keluar lapangan dengan tandu. Ia menerima resusitasi mulut ke mulut dan oksigen. Adapun, petugas medis mencoba menghidupkan kembali jantungnya yang berhenti selama 45 menit, tetapi gak berhasil. Foé meninggal di pusat medis stadion. Sementara itu, rekan satu tim dan rekan senegaranya menyelesaikan pertandingan. Saat mereka sedang merayakan kemenangan di ruang ganti, kapten tim Rigobert Song dengan berlinang air mata menyampaikan kabar duka tersebut.
Meskipun autopsi pertama yang dilakukan pada Vivien Foé gak memberikan kesimpulan yang jelas, autopsi kedua mengungkapkan bahwa ia menderita kardiomiopati hipertrofik yang gak terdiagnosis. Ini adalah suatu penyakit jantung yang ditandai dengan pembesaran otot sel jantung dan menyebabkan penebalan dinding ventrikel. Foé sendiri meninggal dunia di usia 28 tahun.
3. Andrés Escobar dibunuh setelah kekalahan Kolombia di pertandingan Piala Dunia 1994
Andres Escobar gak meninggal di lapangan Piala Dunia. Tapi, apa yang dilakukannya selama pertandingan Piala Dunia secara langsung menyebabkan kematiannya yang mengejutkan dan tragis. Apa yang sebenarnya terjadi?
Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia pertamanya pada tahun 1994, tetapi Timnas AS gak diharapkan melaju jauh, terutama karena mereka menghadapi Timnas kuat internasional Kolombia di babak penyisihan grup. Pertandingan Juni 1994 antara kedua tim seharusnya hanya formalitas, tapi semua terjadi di luar dugaan. Nah, dengan skor imbang 0—0 beberapa menit sebelum jeda, bek dari Timnas Kolombia Andrés Escobar mencoba memblokir tendangan ke gawang Kolombia. Tapi, ia gagal dan bola meleset melewati kiper. Dengan kata lain, Escobar mencetak gol bunuh diri, memberi Amerika keunggulan 1—0. Skor akhir pertandingan antara AS dan Kolombia adalah 2—0. Kolombia pun tersingkir dari Piala Dunia.
Para anggota Timnas Kolombia harus kembali ke rumah, termasuk Andrés Escobar yang pulang ke kota kelahirannya di Medellin. Kurang dari dua minggu setelah kesalahannya di lapangan, Escobar meninggalkan sebuah restoran bersama seorang teman perempuan pada pukul 3:30 pagi. Saat itulah ia didekati oleh tiga laki-laki yang menembakkan 12 peluru ke pemain sepak bola berusia 27 tahun itu. Polisi yakin kalau pembunuhan itu akibat dari fanatisme dan nasionalisme yang kebablasan. Di sisi lain, beberapa dari banyaknya mafia Kolombia yang berpengaruh mempertaruhkan banyak uangnya untuk kemenangan Kolombia.
4. Timnas Zambia tewas dalam kecelakaan pesawat untuk menuju ke pertandingan kualifikasi Piala Dunia
Timnas Zambia pasti sangat gembira pada 28 April 1993. Pasalnya, mereka sedang dalam perjalanan untuk melakukan pertandingan Kualifikasi Piala Dunia melawan Senegal, dan tentu saja mengharapkan perjalanan yang lancar. Namun, dikutip BBC, pesawat mereka jatuh di Samudra Atlantik, menewaskan 30 orang, termasuk 18 anggota tim sepak bola.
Butuh 10 tahun sebelum laporan resminya keluar dan menjelaskan apa yang terjadi. Pilot yang mengemudikan pesawat ternyata sempat melakukan penerbangan panjang sehari sebelumnya dan hal itu tentunya sangat melelahkan. Di samping itu, pesawat Angkatan Udara yang diberikan pemerintah Zambia kepada tim tersebut dalam keadaan rusak. Jadi ketika terjadi kerusakan mekanis pada mesin kiri, hal itu menyebabkan reaksi berantai yang akhirnya menewaskan banyak orang.
Pilot yang kelelahan itu menyadari adanya masalah pada mesin, tetapi ada yang salah dengan lampu indikator. Alih-alih mematikan mesin yang rusak, ia malah mematikan mesin yang lain, satu-satunya yang masih berfungsi. Ketika ia melakukan itu, pesawat kehilangan daya dan jatuh.
Adapun, para pemain dimakamkan di luar stadion mereka di Lusaka, di tempat yang sekarang disebut Heroes' Acre. Rakyat Zambia sendiri gak suka ketika laporan itu dirilis. Seorang pengacara untuk keluarga korban menuduh pemerintah melakukan kelalaian berat. Dan seorang anggota parlemen menuntut permintaan maaf serta peningkatan kompensasi kepada keluarga korban.
Memang gak ada yang tahu nasib atau takdir kematian seseorang. Hal ini pun menimpa para pemain sepak bola yang akan mengikuti pertandingan, saat bertanding, atau bahkan setelah pertandingan Piala Dunia. Semoga Piala Dunia 2026 ini berjalan dengan lancar dan aman, ya!


















