Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Bek Tengah Gagal Cetak Gol saat Adu Penalti di Final UCL per 2026

6 Bek Tengah Gagal Cetak Gol saat Adu Penalti di Final UCL per 2026
ilustrasi penalti (pixabay.com/zoellnerwillich)
Intinya Sih
  • Arsenal kalah dari PSG lewat adu penalti di final Liga Champions 2025/2026 setelah Gabriel Magalhaes gagal mengeksekusi tendangan penentu yang melambung tinggi.
  • Gabriel menjadi bek tengah keenam dalam sejarah final UCL yang gagal mencetak gol saat adu penalti, mengikuti jejak John Terry, Pellegrino, Andersson, Silooy, dan Alexanko.
  • Sejak 1955 terdapat 12 final UCL berakhir adu penalti, dengan lima bek tengah sebelumnya juga gagal menuntaskan tugas mereka meski posisi bukan faktor utama kegagalan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Arsenal kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) lewat adu penalti pada final Liga Champions Eropa (UCL) 2025/2026, Sabtu (30/5/2026). Gabriel Magalhaes menjadi pemain yang terkena sial. Penggawa dengan nomor punggung 6 tersebut maju sebagai penendang terakhir dan gagal mencetak gol.

Sebagai bek tengah, Magalhaes memang bukan pilihan populer untuk menjadi eksekutor. Namun, ia bukan bek tengah satu-satunya yang bernasib seperti itu. Pemain asal Brasil tersebut merupakan bek tengah keenam yang gagal mencetak gol dalam adu penalti sepanjang sejarah final UCL.

1. Eksekusi Gabriel Magalhaes meninggi

Arsenal beradu penalti dengan Paris Saint-Germain pada final Liga Champions 2025/2026 (30/5/2026) setelah imbang 1-1. Mereka tertekan usai Eberechi Eze yang maju sebagai eksekutor kedua gagal menjalankan tugasnya. Tembakan gelandang serang tersebut melebar. Beruntungnya, David Raya bisa menepis eksekusi penendang ketiga PSG, Nuno Mendes. Declan Rice, Achraf Hakimi, Gabriel Martinelli, dan Lucas Beraldo kemudian sama-sama berhasil mencetak gol.

Gabriel Magalhaes pun maju sebagai penendang penentu. Ia melepaskan tembakan kencang ke kanan. Sayangnya, laju bola terlalu deras sehingga meninggi. Menariknya, pelatih Arsenal, Mikel Arteta, mengungkapkan setelah pertandingan, Magalhaes sendiri yang meminta untuk menjadi eksekutor kelima. Itu tidak terlepas karena para penendang penalti utama Arsenal yang sudah digantikan, seperti Martin Odegaard, Bukayo Saka, atau Kai Havertz.

2. John Terry terpeleset pada 2007/2008

Sebelum Gabriel Magalhaes, John Terry merupakan bek tengah terakhir yang gagal mencetak gol saat beradu penalti pada final Liga Champions. Ini terjadi pada edisi 2007/2008 (21/5/2008). Terry dan Chelsea menghadapi sesama wakil Inggris, Manchester United (MU). Mereka imbang 1-1 dalam waktu normal. Terry sebetulnya bisa menjadi penentu kemenangan Chelsea. Kapten tim itu maju sebagai penendang kelima. Pada momen tersebut, skor imbang 4-4 usai kegagalan Cristiano Ronaldo sebagai eksekutor ketiga MU.

Nahas, Terry justru tidak mampu memaksimalkan peluang emas itu. Ia terpeleset sehingga bola hasil tembakannya meninggi. Ini ikut disebabkan kondisi lapangan Luzhniki Stadium, Rusia, yang licin akibat diguyur hujan. Setelah kegagalan Terry tersebut, adu penalti pun berlanjut ke sudden death. Anderson dan Salomon Kalou sebagai penendang keenam kedua tim sama-sama mencetak gol. Ryan Giggs kemudian menjadi eksekutor ketujuh MU. Ia juga mampu menjalankan tugasnya. Chelsea akhirnya kalah usai tembakan Nicolas Anelka ditepis Ediwn van der Sar.

3. Mauricio Pellegrino dan Patrik Andersson sama-sama gagal pada 2000/2001

Final Liga Champions 2000/2001 (23/5/2001) mempertemukan Bayern Muenchen dan Valencia. Laga tuntas 1-1 selama 120 menit. Kedua tim sama-sama mencetak gol lewat tendangan penalti. Bayern bahkan mendapat dua hadiah 12 pas. Namun, mereka gagal memaksimalkan kesempatan pertamanya usai Santiago Canizares menahan tendangan Mehmet Scholl dengan kakinya.

Bayern akhirnya keluar sebagai pemenang dalam adu penalti dengan skor 5-4. Oliver Kahn berhasil menebak tembakan Mauricio Pellegrino sebagai eksekutor ketujuh Valencia. Pellegrino bukan satu-satunya bek tengah yang gagal mencetak gol pada babak ini. Patrik Andersson lebih dulu mengalaminya karena maju sebagai eksekutor keempat Bayern.

4. Sonny Silooy tidak mampu menaklukkan Angelo Peruzzi pada 1995/1996

Ajax Amsterdam harus merelakan trofi Liga Champions 1995/1996 kepada Juventus. Mereka kalah lewat adu penalti setelah imbang 1-1 (22/5/1996). Ajax tertinggal dulu oleh gol Fabrizio Ravanelli pada menit 12 yang berasal dari miskomunikasi antara Edwin van der Sar dan Frank de Boer. Mereka lantas menyamakan kedudukan melalui aksi Jari Litmanen pada menit 41.

Ajax memulai adu penalti dengan buruk karena Edgar David sebagai penendang pertamanya gagal mencetak gol. Sonny Silooy maju sebagai eksekutor keempat mereka dan bernasib sama seperti Davids. Tembakan bek tengah itu ke kanan ditebak Angelo Peruzzi. Juventus lantas mengunci kemenangan melalui sepakan keras Vladimir Jugovic.

5. Jose Ramon Alexanko memulai nasib buruk Barcelona pada 1985/1986

Barcelona kalah adu penalti dari Steaua Bucharest pada final Liga Champions 1985/1986 (7/5/1986). Kedua tim sama-sama tidak mampu mencetak gol pada waktu normal. Nahas bagi Barca, kondisi tersebut bahkan berlanjut sampai adu penalti. Empat eksekutor mereka semuanya tidak mampu menaruh bola ke gawang. Ini diawali bek tengah sekaligus sang kapten, Jose Ramon Alexanko.

Tembakan Alexanko ke kiri bisa ditepis Helmut Duckadam. Mihail Majearu dan Ladislau Boloni sebagai dua penendang pertama Steaua juga sebetulnya gagal mencetak gol. Namun, mereka menang berkat gol dari dua eksekutor terakhirnya, Marius Lacatus dan Gavril Balint. Sementara, tiga penembak Barca lainnya adalah Angel Pedraza, Pichi Alonso, dan Marcos Alonso.

Sejak Liga Champions bergulir pada 1955, ada 12 final yang berakhir dengan adu penalti. Lima bek tengah di atas bernasib sial karena tidak mampu mencetak gol ketika terlibat dalam momen menegangkan tersebut. Posisi mereka mungkin saja berpengaruh kepada kegagalan, tetapi bukanlah faktor utama. Sebab, jika menelusuri edisi lain, terdapat banyak bek tengah yang terbukti bisa menjalankan tugasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More