Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Fakta Argentina Lawan Inggris di Piala Dunia 1998, Penuh Drama!

4 Fakta Argentina Lawan Inggris di Piala Dunia 1998, Penuh Drama!
ilustrasi pertandingan sepak bola (pexels.com/BOOM Photography)
Intinya Sih
  • Laga Argentina vs Inggris di Piala Dunia 1998 sarat emosi dan sejarah, dipicu rivalitas lama akibat Perang Falklands serta pertemuan panas di Piala Dunia 1986.
  • Pertandingan berlangsung dramatis dengan empat gol di babak pertama, aksi brilian Michael Owen, serta skor imbang 2-2 hingga adu penalti yang dimenangkan Argentina.
  • Kartu merah David Beckham akibat provokasi Diego Simeone memicu kemarahan publik Inggris, membuatnya jadi sasaran hujatan sebelum akhirnya menebus kesalahan di Piala Dunia 2002.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Beberapa pertandingan sepak bola merangkum segala aspek, mulai dari teknik tinggi, emosi meluap, hingga beban sejarah politik. Salah satunya terjadi pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 yang mempertemukan Argentina dengan Inggris. Pertemuan di Stade Geoffroy-Guichard, Saint-Etienne, Prancis, pada 30 Juni 1998 ini bukan sekadar perebutan tiket perempat final, melainkan juga medan pertempuran harga diri.

Selama 90 menit, semua penonton di stadion dan pemirsa di layar televisi menyaksikan deretan momen penguras emosi. Apa yang membuat laga ini begitu legendaris? Mari ulas satu per satu!

1. Dipengaruhi sentimen setelah Perang Falklands pada 1982

Rivalitas Inggris dan Argentina tidak lahir dari lapangan hijau, melainkan dari sengketa di dunia nyata. Pada 1982, kedua negara terlibat dalam Perang Falklands (Perang Malvinas) memperebutkan kepulauan di Atlantik Selatan. Perang selama 10 minggu yang dimenangkan Inggris itu meninggalkan luka mendalam dan permusuhan yang terbawa hingga ke sepak bola.

Empat tahun setelah perang, Argentina dan Inggris bertemu pada perempat final Piala Dunia 1986. Diego Maradona menjadi pahlawan Argentina sekaligus aktor antagonis bagi Inggris sebab membawa timnya menang dengan skor 2-1. Maradona mencetak gol Tangan Tuhan pada menit ke-51 sebagai bentuk balas dendam simbolis. Empat menit berselang, aksinya berlari menggiring bola dari tengah lapangan sambil melewati empat pemain Inggris diakhiri dengan menjebloskan bola ke gawang Peter Shilton.

Masuk 1998, tensi tersebut belum sepenuhnya reda. Bagi rakyat kedua negara, kalah dari rival di Piala Dunia sama pahitnya dengan kalah di medan perang. Itu yang dirasakan 30 ribu penonton yang menyaksikan dari tribun.

2. Ada empat gol yang tercipta pada babak pertama

Hanya dalam 45 menit pertama, dunia disuguhi drama luar biasa. Laga baru berjalan 6 menit, kedua tim sudah berbagi skor 1-1 melalui dua tendangan penalti. Argentina mencetak gol lewat Gabriel Batistuta dan Inggris menyamakan kedudukan berkat Alan Shearer.

Kemudian, muncul momen ajaib dari bocah berusia 18 tahun, Michael Owen, yang baru 2 musim memperkuat tim utama Liverpool. Ia berlari sendiri dari tengah lapangan, melewati dua bek Argentina, Roberto Ayala dan Jose Chamot. Tanpa kesulitan, Owen menjebloskan bola ke pojok gawang Carlos Roa dan membuat ribuan suporter Inggris bersorak.

Sesaat sebelum babak pertama usai, Argentina menyamakan kedudukan lewat skema tendangan bebas genius. Saat semua pemain Inggris mengira Batistuta akan mengeksekusi sendiri tendangan bebas, bola justru dioper kepada Javier Zanetti yang bersembunyi di balik pagar betis. Bek kanan Inter Milan itu tak menyia-nyiakan bola dengan menjebol gawang David Seaman. Skor 2-2 pada babak pertama sudah membuat jantung penonton berdebar kencang.

3. Diwarnai kartu merah David Beckham yang termakan provokasi Diego Simeone

Drama mencapai puncaknya pada awal babak kedua. David Beckham, bintang muda Inggris dan Manchester United saat itu, didorong hingga terjatuh oleh gelandang Argentina, Diego Simeone. Masih terbaring dalam posisi tersungkur, Beckham secara emosional dan impulsif menendang tumit Simeone.

Simeone bereaksi berlebihan meski tendangan Beckham cukup ringan. Ini juga diakuinya beberapa tahun kemudian. Namun, hal tersebut dilihat langsung sang pengadil. Wasit, Kim Milton Nielsen, mengeluarkan kartu kuning kedua tanpa ampun untuk Beckham pada menit ke-47, yang membuatnya harus mandi lebih cepat. Inggris pun terpaksa bermain dengan sepuluh orang selama sisa pertandingan.

Inggris sebenarnya sempat mencetak gol lewat sundulan Sol Campbell pada menit-menit akhir. Para pemain Inggris sudah berselebrasi, tetapi wasit menganulir karena menganggap Alan Shearer lebih dulu melakukan pelanggaran terhadap kiper Argentina, Carlos Roa. Drama ini membuat frustrasi The Three Lions memuncak.

Setelah skor tetap 2-2 hingga babak tambahan, pemenang harus ditentukan lewat adu penalti. Carlos Roa menjadi pahlawan setelah menepis tendangan Paul Ince dan David Batty. Inggris tersingkir secara menyakitkan, sementara Argentina melenggang ke perempat final.

4. David Beckham menjadi sasaran kemarahan media dan suporter Inggris

Kartu merah melawan Argentina mengubah hidup David Beckham. Sehari setelah pertandingan, ia dihujat habis-habisan oleh media massa dan suporter. Beckham dianggap terlalu kekanak-kanakan. Mereka menyebutnya terlalu dini bersaing di level internasional. The Daily Mirror bahkan memasang judul berita yang sangat menohok: 10 Singa Pahlawan, 1 Bocah Bodoh.

Saking bencinya publik saat itu, sebuah boneka yang menyerupai Beckham digantung di luar sebuah bar di London sebagai bentuk protes. Sepanjang musim berikutnya, ia terus-menerus disoraki suporter lawan. Bahkan, bus Manchester United dilempari berbagai benda oleh massa yang marah.

Dalam film dokumenter Netflix pada 2023, Beckham curhat dirinya merasa sangat rapuh dan sendirian saat itu. Ia sampai tidak bisa makan atau tidur dan merasa seolah-olah seluruh negara membencinya. Sang istri, Victoria, bahkan menyebut Beckham terlihat mengalami depresi. Seperti dilansir situs resmi FIFA, Beckham juga kecewa karena merasa kurang didukung beberapa rekan setimnya, sekaligus sakit hati dengan kritik pelatih Timnas Inggris saat itu, Glenn Hoddle.

Namun, 4 tahun kemudian, David Beckham berhasil menebus dosanya dengan mencetak gol penalti kemenangan melawan Argentina pada fase grup Piala Dunia 2002. Momen itu mengubah statusnya dari musuh masyarakat menjadi pahlawan. Ia dan Simeone pun akhirnya berdamai. Keduanya bersalaman saat babak pertama usai sebagai bentuk rasa hormat. Saat diwawancarai BBC, gestur tersebut dan gol penalti ke gawang Argentina menghapus beban Piala Dunia 1998 dari pundaknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More