Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Fakta Unik Korea Utara di Piala Dunia 1966, Didukung Orang Inggris!

4 Fakta Unik Korea Utara di Piala Dunia 1966, Didukung Orang Inggris!
ilustrasi Piala Dunia (unsplash.com/myprofittutor)
Intinya Sih
  • Korea Utara lolos ke Piala Dunia 1966 setelah banyak negara mundur dari kualifikasi, lalu menyingkirkan Australia dengan agregat 9-2 untuk mewakili Asia di turnamen tersebut.
  • Warga Middlesbrough jatuh hati pada semangat dan sikap rendah hati pemain Korea Utara, hingga mendukung penuh mereka selama fase grup meski berasal dari latar budaya berbeda.
  • Kemenangan sensasional 1-0 atas Italia membawa Korea Utara ke perempat final, menjadikannya tim Asia pertama yang mencapai tahap itu dan menginspirasi generasi berikutnya di sepak bola Asia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

"Mereka tidak pernah bersorak seperti ini untuk Middlesbrough!", kata komentator BBC, Frank Bough. Saat itu, Bough bertugas pada laga terakhir Grup 4 Piala Dunia 1966 karena Inggris bertindak sebagai tuan rumah. Ia terkejut mendengar seisi Ayresome Park di Middlesbrough, North Yorkshire, Inggris, merayakan gol Korea Utara ke gawang Italia.

Piala Dunia memang selalu menyajikan hal yang membuat penikmat sepak bola terperangah. Salah satunya kisah Korea Utara, debutan yang sebenarnya dipandang sebagai penggembira pada 1966. Datang sebagai tim yang sama sekali tidak diunggulkan, mereka justru menciptakan kejutan paling layak diingat saat menyingkirkan raksasa sepak bola dunia.

Korea Utara yang sama sekali tak diunggulkan justru menarik simpati penduduk Middlesbrough. Padahal, jika berkaca dari situasi Perang Dingin saat itu, Korea Utara berada di kubu komunisme pimpinan Uni Soviet. Sementara itu, Inggris–dan tentu saja Middlesbrough–menjadi salah satu pemimpin dari faksi pengusung kapitalisme bersama Amerika Serikat.

1. Korea Utara mendapat tiket ke Piala Dunia 1966 mewakili Asia dengan cara yang cukup mudah

Perjalanan Korea Utara ke Piala Dunia 1966 sebenarnya cukup unik karena merupakan durian runtuh dari berbagai masalah. Banyak negara yang mundur dari kualifikasi zona Afrika-Asia-Oseania yang saat itu memang masih disatukan. Bahkan, 15 tim Afrika yang mestinya terjun ke putaran pertama kompak menarik dari atas alasan ketidakadilan yang dilakukan FIFA karena membatasi kuota tiket zona Afrika-Asia-Oseania di Piala Dunia 1966 menjadi hanya satu.

Masuk putaran kualifikasi yang mempertemukan jagoan putaran pertama zona Afrika, dua tim kembali dicoret. Afrika Selatan didiskualifikasi FIFA lantaran kebrutalan rezim apartheid saat itu dikecam dunia internasional. Sementara itu, Korea Selatan urung bertolak ke Kamboja yang menjadi tuan rumah kualifikasi atas alasan logistik.

Akhirnya, tiket ke Piala Dunia hanya diperebutkan dua negara: Australia dan Korea Utara. Dalam laga dua leg yang berlangsung di Olympic Stadium, Phnom Penh, Kambjoa, Korea Utara tampil beringas dan menang agregat telak 9-2. Tim berjuluk Chollima, kuda bersayap dalam mitologi Korea, tersebut lantas terbang ke Inggris. Mereka siap membuktikan diri di panggung dunia untuk pertama kali.

2. Datang sebagai tim nonunggulan, penduduk Middlesbrough jatuh hati kepada Timnas Korea Utara

Tiba di Inggris, ada fenomena aneh terjadi. Timnas Korea Utara bermarkas di kota pelabuhan, Middlesbrough, lantaran menjadi tuan rumah tiga pertandingan fase grup. Namun, penduduk lokal jatuh hati kepada kegigihan para pemain Korea Utara yang tidak diunggulkan. Kendati bahasa dan budaya mereka bertolak belakang, ribuan penduduk Middlesbrough setia mendukung pada tiap laga penyisihan.

Saking berkesannya hubungan ini, para pemain Timnas Korea Utara 1966 yang masih hidup diundang kembali ke Middlesbrough untuk menghadiri reuni pada 2002. Salah satu pemain, Rim Jung Sun, bahkan mengaku masih garuk-garuk kepala jika memikirkan kenapa mereka begitu dicintai penduduk di sana saat diwawancarai BBC. Berbicara kepada The Guardian, Daniel Gordon, sutradara film dokumenter tentang hubungan janggal Middlesbrough dan Timnas Korea Utara, punya hipotesis menarik. "Fakta bahwa Korea Utara adalah tim yang tidak diunggulkan dan minim peluang menarik perhatian penduduk Middlesbrough. Mereka bersimpati kepada mereka. Namun, saya juga berpikir cara para pemain Korea Utara bersikap membuat semua orang menyukai mereka," kata Gordon.

3. Korea Utara lolos ke perempat final setelah mengalahkan Italia pada fase penyisihan grup

Pertandingan melawan Italia berlangsung di Ayresome Park pada 19 Juli 1966. Gli Azzuri asuhan Edmondo Fabbri saat itu sangat percaya diri karena hanya butuh hasil imbang untuk lolos, sehingga cenderung meremehkan Korea Utara. Namun, petaka muncul pada awal pertandingan. Kapten Italia, Giacomo Bulgarelli, mengalami cedera ringan, tetapi dipaksa bermain dan akhirnya mengalami cedera lutut saat menghalau tusukan Pak Sung Zin. Italia pun bermain dengan sepuluh orang.

Kejutan yang menampar Italia lahir pada menit ke-41. Gelandang Korea Utara, Pak Doo Ik, melepas tendangan mendatar yang gagal dihalau kiper Italia, Enrico Albertosi. Gol itu menjadi satu-satunya yang tercipta pada laga tersebut.

Kemenangan 1-0 ini dicapai bukan hanya karena gol Pak Doo Ik, melainkan juga ketangguhan kiper, Ri Chan Myong. Rekaman pertandingan menunjukkan, para penonton di Ayresome Park selalu bertepuk tangan ketika Chan Myong sukses menghalau tendangan para pemain Italia. Media-media lokal menyebut ia kesurupan menyelamatkan gawang dari gempuran pemain bintang Italia, seperti Gianni Rivera, Sandro Mazzola, dan Paolo Barison. "Di belakangku ada gawang yang kecil, tetapi di belakang gawang itu ada negaraku. Jika kebobolan, reputasi negaraku akan jatuh. Jadi, aku menjaga gawang itu dengan nyawaku," kenang sang kiper bertahun-tahun kemudian seperti dilansir situs resmi FIFA.

4. Tim dari Asia yang tidak diunggulkan bisa membuat para raksasa gentar

Pada dua pertandingan sebelumnya, Korea Utara kalah 0-3 dari Uni Soviet dan imbang 1-1 saat berjumpa Chile. Namun, kemenangan sensasional 1-0 atas Italia membawa mereka ke perempat final Piala Dunia sebagai runner-up grup. Capaian ini menahbiskan mereka sebagai negara Asia pertama yang melakukannya sejak kejuaraan diselenggarakan pada 1930.

Kejutan Korea Utara hampir berlanjut pada perempat final melawan Portugal. Hanya dalam waktu 25 menit, anak asuh Myung Rye Hyun sudah unggul 3-0. Mereka tiga kali menjebol gawang Jose Pereira. Seisi Goodison Park di Liverpool, Inggris, yang menjadi tempat pertandingan berlangsung bersiap melihat sejarah lain tercipta.

Sayang, keajaiban itu terhenti karena Eusebio, legenda Timnas Portugal, mencetak empat gol sekaligus membalikkan skor menjadi 5-3. Kendati kalah, Korea Utara tetap pulang dengan kepala tegak. Mereka membuktikan, tim dari Asia bisa membuat raksasa Eropa gentar. Warisan Korea Utara ini kemudian diteruskan Arab Saudi (16 besar Piala Dunia 1994), Korea Selatan (semifinal Piala Dunia 2002), dan Jepang (16 besar Piala Dunia 2022).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More