Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Fakta Jerman Barat vs Jerman Timur di Piala Dunia 1974, Tensi Tinggi!

4 Fakta Jerman Barat vs Jerman Timur di Piala Dunia 1974, Tensi Tinggi!
ilustrasi sepak bola (unsplash.com/Wesley Tingrey)
Intinya Sih
  • Laga Jerman Barat vs Jerman Timur di Piala Dunia 1974 sarat tensi politik, terjadi setelah skandal spionase yang mengguncang pemerintahan Willy Brandt dan memperburuk hubungan kedua negara.
  • Kedua tim sudah memastikan lolos ke fase berikutnya, namun gengsi ideologis membuat pertandingan tetap panas; Jerman Timur bertekad membuktikan diri melawan rival yang lebih unggul secara teknis.
  • Gol tunggal Jurgen Sparwasser membawa Jerman Timur menang 1-0, memicu evaluasi besar di kubu Jerman Barat yang kemudian bangkit dan menjuarai Piala Dunia 1974.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sejak diselenggarakan pada 1930, Piala Dunia beberapa kali mementaskan pertandingan beraroma politis. Mulai dari Italia melawan Prancis pada 1938, Inggris versus Argentina pada 1986, dan Amerika Serikat kontra Iran pada 1998. Namun, yang paling menarik mungkin pertemuan Jerman Timur dan Jerman Barat di Piala Dunia 1974.

Dunia saat itu sedang terpecah menjadi dua kubu karena komunisme pimpinan Uni Soviet dan kapitalisme yang digawangi Amerika Serikat. Laga ini otomatis berubah menjadi sesuatu yang besar. Bukan lagi perebutan posisi juara grup, melainkan juga pembuktian ideologi di depan 60.200 pasang mata.

Sebelum saling jajal di Piala Dunia 1974, Jerman Barat dan Jerman Timur adalah "pemain" dalam Perang Dingin. Hanya saja, hubungan keduanya serbatanggung. Mereka masih bermusuhan, tetapi berharap ada hubungan resmi yang segera dijalin atas nama kesamaan bahasa dan budaya.

1. Tensi politik amat memengaruhi pertemuan Jerman Barat dan Jerman Timur di Piala Dunia 1974

Sejak Jerman dibagi menjadi dua pasca-Perang Dunia II, Jerman Barat awalnya menolak mengakui keberadaan Jerman Timur sebagai negara. Namun, pada akhir 1960-an, Kanselir Jerman Barat saat itu, Willy Brandt, memperkenalkan kebijakan Ostpolitik. Tujuannya bukan untuk menyatukan Jerman secara instan.

Encyclopedia Britannica menjelaskan, ini adalah upaya Jerman Barat membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara Eropa Timur dan Blok Soviet, termasuk Jerman Timur. Puncaknya adalah penandatanganan Grundlagenvertrag (Perjanjian Dasar) pada 1972. Kedua negara akhirnya mengakui kedaulatan masing-masing.

Beberapa bulan sebelum Piala Dunia 1974 dimulai, Jerman Barat diguncang skandal spionase. Gunter Guillaume, salah satu penasihat terdekat Kanselir Willy Brandt, ditangkap karena ternyata menjadi mata-mata Jerman Timur. Ini memaksa Brandt mengundurkan diri dari jabatan pada Mei 1974, tepat sebelum turnamen dimulai. Jadi, saat kedua tim bertemu di lapangan pada Juni, publik Jerman Barat sedang dalam kondisi marah dan terluka secara politik oleh spionase Jerman Timur.

2. Kedua tim sudah sama-sama mengantongi tiket ke fase grup kedua sebelum bertemu

Sebelum laga dimulai, perbedaan kualitas kedua tim sangat kentara. Jerman Barat adalah raksasa dengan pemain dunia seperti Franz Beckenbauer, Gerd Mueller, Wolfgang Overath, dan Uli Hoeness. Di sisi lain, pemain Jerman Timur sering dipandang sebelah mata sebagai tim berisi amatiran yang tidak terlalu unggul secara teknik.

"Pemain Jerman Barat yang glamor dan profesional melawan para pemain amatir dan kasar dari Jerman Timur, begitulah label dari khalayak umum. Tentu saja, kami ingin membuktikan bahwa anggapan itu salah," kenang bek Jerman Timur, Gerd Kische, seperti dikutip situs resmi FIFA.

Motivasi ini yang menjadi bahan bakar utama skuat asuhan Georg Buschner saat bertemu Jerman Barat pada partai terakhir fase grup pertama Piala Dunia 1974. Kedua tim saat itu sama-sama sudah mengamankan tiket ke fase grup kedua. Format knock out kebetulan baru kembali digunakan pada Piala Dunia 1982.

Tergabung di Grup 1, Jerman Barat sebelumnya mengalahkan Chile 1-0 dan menghajar Australia dengan skor 3-0. Sedangkan, Jerman Timur membungkam Australia 2-0, tetapi ditahan imbang Chile dengan skor 1-1. Di atas kertas, kedua tim sebenarnya dipastikan melaju ke babak selanjutnya. Hanya saja, harga diri dan konteks ketegangan era Perang Dingin tak membolehkan mereka bersantai saat bertemu.

3. Jerman Timur memenangkan Derbi Jerman dengan skor tipis 1-0

Kedua tim akhirnya saling jajal pada 22 Juni 1974 di Volksparkstadion, Hamburg. Tensi Perang Dingin membuat suasana cukup tegang. Helikopter berputar-putar di langit dan sniper disiagakan di beberapa titik sekitar arena. Seperti yang diperkirakan, Jerman Barat tampil dominan sejak menit pertama. Gerd Mueller hampir mencetak gol pada menit ke-40, tetapi bola sepakannya hanya membentur tiang gawang.

Jerman Timur tidak gentar. Mereka bermain sangat rapi dan defensif. Menariknya, Wasit Ramon Barreto asal Uruguay hanya mengeluarkan tiga kartu kuning sepanjang laga. Semuanya untuk pemain Jerman Timur. Ini menunjukkan mereka sanggup menjaga disiplin sembari sesekali mengirim serangan balik cepat.

Momen mengejutkan dalam sejarah Piala Dunia terjadi lewat skema serangan balik sempurna pada menit ke-77. Kiper Jerman Timur, Jurgen Croy, menangkap bola, lalu segera melemparnya kepada gelandang, Erich Hamann, pemain pengganti yang baru merumput selama 10 menit. Hamann yang berlari di sisi kanan melihat celah dan mengirimkan umpan silang akurat.

Penyerang, Jurgen Sparwasser, muncul dari belakang. Ia menerima bola dengan dada sambil melewati adangan bek Jerman Barat, Berti Vogts. Lolos dari sana, Sparwasser langsung menjebloskan bola ke gawang Sepp Maier dari sudut sempit.

Sebanyak 60 ribu orang yang menyaksikan pertandingan tersebut seketika terdiam. Namun, 1.500 penduduk Jerman Timur yang diizinkan menyeberang ke Barat untuk menonton langsung, di bawah pengawasan ketat polisi rahasia Stasi agar tidak ada yang membelot, bersorak penuh girang. Mereka merayakan satu gol yang baru saja bersarang.

4. Kekalahan ini membuat Jerman Barat melakukan evaluasi dan berujung kepada gelar juara Piala Dunia 1974

Sebelum gol Jurgen Sparwasser tercipta, pertahanan Jerman Barat sebenarnya sangat kokoh. Mereka mencatatkan rekor luar biasa dengan tidak kebobolan selama 481 menit atau 4 pertandingan beruntun. Namun, satu serangan balik efektif Jerman Timur sudah cukup untuk meruntuhkan tembok pertahanan yang dipimpin Franz Beckenbauer.

Kendati berusaha mencari gol penyeimbang pada sisa waktu normal, skor 1-0 untuk Jerman Timur tak berubah hingga peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan. Bagi Jerman Barat, kekalahan ini adalah tamparan keras. Mereka digadang-gadang bisa menang mudah, tetapi Franz Beckenbauer justru harus menyebut gol Sparwasser sebagai berkah tersembunyi. "Gol Sparwasser adalah alarm peringatan. Tanpa itu, kami tidak akan pernah dinobatkan sebagai juara dunia," ujarnya beberapa tahun kemudian seperti dikutip FIFA.

Kekalahan dari Jerman Timur memaksa anak asuh Helmut Schon melakukan evaluasi dan mengubah taktik. Perubahan ini akhirnya membawa mereka menyapu bersih kemenangan pada fase berikutnya. Jerman Barat pun menjadi juara dengan menekuk Belanda pada final. Sementara itu, langkah Jerman Timur terhenti pada fase grup kedua.

Lebih jauh, situasi politis saat itu yang sangat sensitif membuat para pemain dilarang bertukar jersey di lapangan. Namun, sportivitas tetap menang. Dikutip The Independent, para pemain tetap bertukar seragam secara sembunyi-sembunyi di lorong menuju ruang ganti. Menariknya, pada 2002, Paul Breitner dan Jurgen Sparwasser melelang jersey bersejarah hasil barter mereka untuk kegiatan amal bagi korban banjir di Jerman. Ini membuktikan sepak bola sejatinya mampu melampaui batas politik dan waktu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More