Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Faktor Apa Saja yang Membuat Tottenham Memecat Thomas Frank?

Logo Tottenham Hotspur
potret logo Tottenham Hotspur (unsplash.com/Winston Tjia)
Intinya sih...
  • Pendekatan taktik pragmatis dan reaktif tidak sesuai dengan identitas klub besar
  • Kurangnya dukungan pemain dan manajemen melemahkan otoritas Thomas Frank
  • Cara komunikasi Thomas Frank di ruang publik membuat fans gerah dan kehilangan kepercayaan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Habis sudah kesabaran Tottenham Hotspur kepada Thomas Frank. Pelatih asal Denmark itu dipecat setelah 8 bulan penuh drama yang menyeret klub mendekati jurang degradasi. Keputusan itu tampak sebagai respons instan atas hasil buruk, tetapi sesungguhnya merupakan akumulasi persoalan yang jauh lebih struktural. Frank tidak hanya kalah di papan skor, tetapi juga di ruang ganti dan ruang publik.

Masalah yang ditinggalkan pendahulunya memang kompleks, mulai dari skuad yang timpang, badai cedera, hingga perubahan kepemimpinan di level eksekutif. Namun, situasi sulit itu tidak serta-merta menjelaskan mengapa Spurs tampak kehilangan arah secara koheren. Pemberhentian Frank menjadi gambaran nyata betapa rumitnya dinamika adaptasi dan manajemen kuasa di klub besar.

1. Pendekatan taktik yang pragmatis dan reaktif tak mencerminkan identitas sebagai klub besar

Thomas Frank datang ke Tottenham Hotspur dengan reputasi sebagai pelatih pragmatis yang sukses memaksimalkan sumber daya terbatas di Brentford. Ia membawa prinsip serupa ke Spurs, dengan struktur defensif rapat, fokus transisi cepat, serta efisiensi lewat situasi bola mati. Pendekatan itu sempat menjanjikan, terutama saat Spurs menahan Paris Saint-Germain (PSG) di Piala Super UEFA 2025 dan menang 2-0 di Etihad Stadium pada pekan kedua English Premier League (EPL) 2025/2026.

Masalah muncul ketika pendekatan taktis layaknya tim underdog diterapkan secara konsisten di klub besar. Tottenham di bawah Frank kesulitan mengambil inisiatif, terutama dalam laga kandang melawan lawan dengan blok menengah hingga rendah. Data The Athletic soal expected goals (xG) mencerminkan masalah ini, dengan Spurs hanya mencatat 0,19 xG saat kalah 0-1 dari AFC Bournemouth pada pekan ke-3 dan bahkan 0,1 xG saat menjamu Chelsea pada pekan ke-10 liga, angka terendah mereka di musim tersebut.

Keterbatasan progresi bola menjadi isu berulang dalam struktur permainan Spurs. Build-up sering kali berhenti di sisi lapangan, tanpa progresi vertikal melalui koridor tengah, sehingga permainan mudah dibaca lawan. Ketergantungan pada crossing dan set-piece tidak cukup untuk membuka pertahanan yang terorganisasi membuat penampilan Spurs tampak statis dan minim variasi.

Kesenjangan terbesar terletak pada ekspektasi. Tottenham, sebagai salah satu klub dengan stadion mewah dan status Big Six, menuntut kontrol tempo, dominasi wilayah, serta keberanian mengambil risiko. Di bawah Frank, Spurs justru tampil reaktif dan pasif, terutama dalam laga besar seperti kekalahan 1-4 dari Arsenal pada pekan ke-12 dengan pendekatan formasi 5-4-1 menegaskan ketidakmampuan tim mengontrol ruang dan momentum.

2. Kurangnya dukungan pemain dan manajemen membuat otoritas Thomas Frank melemah

Di luar lapangan, Thomas Frank menghadapi tantangan yang tak kalah berat dalam membangun otoritas. Beberapa sumber internal menyebutnya sebagai pelatih yang terlalu akomodatif, dengan pendekatan humanis yang tidak selalu cocok di ruang ganti klub besar. Ia kerap dibandingkan dengan Ange Postecoglou, terutama soal karisma dan kemampuan menggerakkan pemain pada momen krisis.

Isu disiplin pemain menandaskan masalah ini. Keterlambatan pemain dalam sesi latihan, insiden pemain yang mengabaikan ajakan Frank untuk menyapa fans, hingga persepsi perlakuan istimewa terhadap figur seperti Cristian Romero, menciptakan kesan standar yang tidak konsisten. Dalam situasi demikian, Frank dinilai gagal membangun hierarki kepemimpinan yang jelas di dalam tim.

Perubahan manajemen usai kepergian Daniel Levy turut memperlemah posisi Frank. Ia ditunjuk oleh rezim lama, tetapi harus bekerja di bawah direksi baru yang masih mencari keseimbangan. Ketika Fabio Paratici, mantan direktur olahraga klub, dan kemudian Vinai Venkatesham, CEO Spurs, mengambil peran strategis, dukungan terhadap Frank menjadi makin pragmatis dan bergantung pada hasil jangka pendek.

Ketidaksesuaian antara kebutuhan taktis Frank dan kebijakan rekrutmen memperparah situasi. Spurs gagal mendatangkan target utama seperti Eberechi Eze dan Morgan Gibbs-White, lalu menutup bursa dengan Xavi Simons yang membutuhkan waktu adaptasi. Dengan James Maddison, Dejan Kulusevski, dan Dominic Solanke absen panjang, Frank harus bekerja dengan skuad yang tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana permainannya.

3. Cara Thomas Frank berkomunikasi di ruang publik membuat fans gerah

Sejak awal, relasi Thomas Frank dengan publik Tottenham Hotspur dinilai cukup rapuh. Dalam konferensi pers perdananya, ia menyatakan bahwa Spurs pasti akan kalah di beberapa pertandingan, sebuah kejujuran yang dianggap merusak euforia setelah klub menjuarai Liga Europa 2024/2025. Pernyataan itu kontras dengan narasi ambisius era Ange Postecoglou yang masih melekat di benak suporter.

Masalah komunikasi ini berulang sepanjang musim. Frank kerap menyoroti faktor eksternal seperti cedera dan kualitas lawan, yang oleh sebagian fans dianggap sebagai alasan defensif. Insiden-insiden simbolik, mulai dari komentar tentang Arsenal hingga foto dengan cangkir kopi berlogo rival, memperburuk persepsi jika ia tidak memahami sensitivitas kultur klub.

Ketegangan memuncak saat laga kandang dalam beberapa pekan terakhir. Sorakan penggemar yang menuntut pemecatan sang pelatih menggema, dan kehadiran penonton dilaporkan turun sekitar 3.000 kursi di laga terakhirnya melawan Newcastle United. Atmosfer Tottenham Hotspur Stadium berubah dari ruang dukungan menjadi arena protes terbuka terhadap sang pelatih.

Di klub sebesar Tottenham, pesan memiliki bobot yang setara dengan performa. Fans tidak hanya menuntut hasil, tetapi juga narasi yang membuat mereka percaya pada arah jangka panjang. Frank gagal menyatukan taktik, emosi, dan kultur klub, sehingga kepercayaan kolektif runtuh bahkan sebelum papan klasemen menjadi vonis akhir.

Pemecatan Thomas Frank menegaskan, kegagalan seorang pelatih di klub besar jarang bersifat tunggal. Ia didepak bukan hanya karena hasil dan taktik, melainkan juga karena tidak mampu membangun otoritas internal dan kepercayaan eksternal secara bersamaan. Di Tottenham, kegagalan membaca situasi terbukti sama fatalnya dengan kegagalan membaca permainan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More

Rapor 4 Pembelian Termahal Tottenham Hotspur Era Thomas Frank

13 Feb 2026, 05:34 WIBSport