FIFA Akhirnya Buka Suara soal Polemik VAR Argentina vs Mesir

- Pierluigi Collina menegaskan keputusan wasit Francois Letexier dalam laga Argentina vs Mesir sudah sesuai prosedur dan menolak tuduhan adanya pengaturan hasil pertandingan oleh FIFA.
- Publik mulai meragukan integritas FIFA setelah munculnya kontroversi lain seperti penangguhan kartu merah Folarin Balogun yang memicu perdebatan luas di media sosial.
- Pengamat olahraga Simon Chadwick menilai batas antara politik dan olahraga makin kabur, terutama karena dugaan keterlibatan politik Amerika Serikat dan hubungan Presiden Argentina Javier Milei dengan Donald Trump.
Jakarta, IDN Times - Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, akhirnya buka suara soal polemik yang menyelimuti laga Argentina versus Mesir dalam babak 16 besar Piala Dunia di Atlanta Stadium, 7 Juli 2026 lalu. Collina menegaskan, tak ada masalah yang muncul dalam keputusan wasit asal Prancis, Francois Letexier, sepanjang duel tersebut.
Perdebatan atas pertandingan Argentina kontra Mesir berkutat pada tiga momen, dibatalkannya gol kedua Mesir yang dicetak Mostafa Zico, serta tak diberikannya penalti ketika Ahmed Fathy dan Mohamed Salah jatuh pada kesempatan berbeda. Namun, menurut Collina, seluruh keputusan Letexier sudah tepat.
"Secara keseluruhan, kami senang. Tapi, dengan tingginya jumlah pertandingan yang dimainkan dalam waktu singkat, normal ketika ada hal tak sesuai dengan diharapkan. Ketika ini terjadi, kami bekerja lebih keras mereka bisa bekerja dengan baik di laga berikutnya," ujar Collina, dilansir situs resmi FIFA.
1. Gak ada yang bisa pertanyakan integritas wasit FIFA

Ditegaskan Collina, tuduhan dari pelatih Mesir, Hossam Hassan, terkait adanya pertandingan yang sudah diatur oleh FIFA dengan memberikan tiket kepada Argentina agar lolos ke perempat final, tidak benar. Collina menuturkan, segala keputusan yang diambil wasit di setiap laga didasari atas prinsip integritas.
Selain itu, dijelaskan Collina, setiap momen krusial termasuk gol, sudah melewati proses pengecekan mendalam, termasuk penggunaan VAR.
"Tentu, ada diskusi konstruktif yang selalu menjadi bagian dari sepak bola. Tuduhan tak berdasar sama sekali tak diterima dalam sepak bola. Tak ada satu pun orang yang bisa mempertanyakan integritas ofisial pertandingan Piala Dunia," ujar wasit legendaris asal Italia itu.
2. Tapi, publik mulai ragu
Menyinggung integritas, FIFA sebenarnya sudah mulai kehilangan kepercayaan dari publik. Terlebih, ada kasus penangguhan kartu merah striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, yang begitu kontroversial.
Alhasil, banyak yang tak percaya dengan ucapan FIFA dan perdebatan terus berkembang hingga begitu liar, terutama melalui media sosial.
"Setelah kontroversi Balogun, banyak yang bertanya, keputusan mana bisa dipercaya atau terlegitimasi. Lalu, adakah yang bisa meyakinkan semua pihak?" ujar Profesor Olahraga Afro-Eurasian, Simon Chadwick, dilansir Al-Jazeera.
3. Batas politik dan olahraga sudah kabur
Menurut Chadwick, batas politik dengan olahraga saat ini sudah begitu kabur. Terlebih, dalam kasus Argentina, ada aroma politik pula yang menyeret Amerika Serikat.
Dimensi tersebut bisa tercipta dengan fakta Presiden Argentina, Javier Milei, merupakan salah satu pendukung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
"Jika pemerintahan Trump terus mengintervensi turnamen, ingatlah Presiden Argentina, Javier Milei, merupakan pendukung setia Trump," kata Chadwick



















