Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Riwayat Intervensi Politisi di Piala Dunia, Bukan Cuma Trump

Riwayat Intervensi Politisi di Piala Dunia, Bukan Cuma Trump
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Frank Huang)
Intinya Sih
  • Donald Trump dilaporkan menelepon FIFA tiga kali untuk membatalkan hukuman kartu merah Folarin Balogun di Piala Dunia 2026, namun upayanya gagal dan AS kalah dari Belgia.
  • Sejarah mencatat berbagai intervensi politik di Piala Dunia, mulai dari propaganda fasis Mussolini tahun 1934 hingga ancaman Mobutu terhadap pemain Zaire pada 1974.
  • Dari pengaturan skor Argentina 1978 hingga penyiksaan pemain Irak oleh Uday Hussein dan hukuman publik bagi tim Korea Utara 2010, politik sering mencemari dunia sepak bola.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pentas Piala Dunia 2026 baru saja dihebohkan oleh rumor politik tingkat tinggi di balik layar. Dilansir The Guardian, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menelepon pihak FIFA sebanyak tiga kali. Tujuannya adalah meminta penangguhan hukuman kartu merah striker andalan Timnas AS, Folarin Balogun, agar bisa tampil di babak 16 besar melawan Belgia.

Meski lobi tersebut sia-sia karena AS tetap hancur lebur kalah telak 1-4 dari Belgia, aksi Trump menambah panjang daftar hitam keterlibatan penguasa dalam sepak bola. Sepanjang sejarahnya, FIFA memang dikenal sangat mengharamkan keterlibatan pemerintah. Namun, dalam kenyataannya, para penguasa dunia kerap ikut campur dalam dinamika penyelenggaraan Piala Dunia.

1. Diktator Italia, Benito Mussolini, sudah melakukan intervensi di Piala Dunia 1934 demi promosi ideolog fasisme

Jauh sebelum telepon Donald Trump pada 2026, diktator fasis Italia, Benito Mussolini, telah lebih dulu melakukan intervensi. Saat Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934, Mussolini memanfaatkan turnamen edisi kedua sebagai alat propaganda ideologi fasisme. Ia menunjukkan bahwa negara yang dipimpinnya bisa menyelenggarakan turnamen internasional berkat infrastruktur kelas wahid.

Hal lain terjadi jelang final Piala Dunia 1938 Prancis. Dilansir ESPN, Mussolini diduga mengirimkan telegram kepada pelatih Timnas Italia saat itu, Vittorio Pozzo, dan para pemainnya sebelum laga melawan Cekoslowakia. Pesannya singkat tapi membuat bulu kuduk berdiri, "Vincere o morire" (Menang atau Mati). Para penggawa Italia berhasil keluar sebagai juara dunia setelah menang tipis 2-1 lewat babak perpanjangan waktu.

2. Timnas Zaire (kini RD Kongo) mendapat ancaman dari Mobutu Sese Seko karena performa buruk di Piala Dunia 1974

Intervensi selanjutnya terjadi pada Piala Dunia 1974 Jerman Barat. Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo) mencetak sejarah sebagai tim Afrika sub-Sahara pertama yang lolos ke pentas akbar tersebut. Diktator mereka, Mobutu Sese Seko, awalnya memanjakan para pemain dengan hadiah mobil dan rumah mewah.

Namun, para pemain mengancam mogok bertanding setelah mengetahui bahwa bonus mereka dibawa kabur oleh para pejabat yang masuk dalam rombongan. Zaire kemudian kalah telak dengan skor 0-9 dari Yugoslavia. Murka karena citra negaranya hancur, Mobutu mengirim pengawal pribadinya ke hotel tempat para pemain menginap. Dilansir Vice, anak asuh Blagoje Vidinic itu diancam jika mereka kalah lebih dari 3 gol melawan Brasil di laga terakhir fase grup, mereka tidak akan pernah diizinkan pulang ke rumah dan keluarga mereka akan dieksekusi. Ketakutan luar biasa membuat Zaire bermain bertahan total dan "berhasil" kalah 0-3 saja demi menyelamatkan nyawa mereka.

3. Ada pengaturan skor yang membuat Argentina bisa lolos dengan mudah ke final Piala Dunia 1978

Salah satu noda hitam dalam sejarah Piala Dunia terjadi pada edisi 1978, di mana Argentina bertindak sebagai tuan rumah. Argentina saat itu dikuasai oleh rezim junta militer pimpinan Jenderal Jorge Videla. Demi mengalihkan isu pelanggaran HAM berat di dalam negeri, Mario Kempes dan kawan-kawan diwajibkan menjadi juara dunia.

Intervensi terjadi pada laga penentuan fase grup kedua melawan Peru. La Albiceleste wajib menang dengan selisih minimal 4 gol untuk menyingkirkan rival abadi mereka, Brasil, demi lolos ke final. Dilansir Yahoo Sports, Jenderal Videla dilaporkan melakukan lobi rahasia dengan Presiden Peru, Francisco Morales Bermudez. Hasilnya, Videla setuju memenjarakan 13 aktivis oposisi asal Peru dan mengirim bantuan 35 ribu ton gandum. Imbalannya adalah Peru harus mengalah di lapangan. Hasilnya? Argentina menang mudah dengan skor 6-0, lalu kemudian keluar sebagai juara Piala Dunia 1978.

4. Uday Hussein, anak sulung Saddam Hussein, menyiksa para pemain Timnas Irak setelah gagal di Piala Dunia 1986

Irak berhasil mencetak sejarah lolos untuk pertama kalinya ke Piala Dunia 1986 di Meksiko. Namun, tim nasional mereka saat itu berada di bawah kendali penuh Uday Hussein, putra sulung diktator Irak, Saddam Hussein. Ini lantaran Uday menjabat sebagai Ketua Komite Olimpiade dan Federasi Sepak Bola Irak.

Dilansir Iraqi Football, Uday menjalankan organisasi olahraga dengan tangan besi dan penyiksaan fisik. Ketika Irak tersingkir di fase grup Piala Dunia 1986 setelah menelan tiga kekalahan beruntun, Uday melakukan intervensi kejam. Caranya dengan mencopot seluruh staf pelatih, membubarkan skuad. Uday bahkan memenjarakan serta menyiksa beberapa pemain sekembalinya mereka ke Bagdad karena dianggap "mempermalukan nama baik negara."

5. Timnas Korea Utara mendapat cacian penduduk ibu kota Pyongyang setelah babak beluk di Piala Dunia 2010

Negara paling tertutup di dunia, Korea Utara, disinyalir juga melakukan intervensi pemerintah ke tim nasionalnya. Ini terjadi di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Saat itu, tim berjuluk Chollima tersebut finis sebagai juru kunci grup karena kalah 3 kali beruntun dan kebobolan 12 gol.

Dilansir Los Angeles Times, sekembalinya ke Pyongyang, pelatih Kim Jong Hun dan mayoritas pemain dipaksa berdiri di panggung terbuka selama 6 jam untuk menerima cacian publik. Sang pelatih juga dilaporkan dicopot dari status keanggotaan partai. Tak sampai di situ, Kim Jong Hun bahkan dipaksa melakukan kerja paksa untuk menebus kegagalannya.

Politisi boleh saja melakukan intervensi. Namun, Piala Dunia telah mengajarkan satu hal mutlak, urusan politik dan kekuasaan tidak pernah bisa membeli kemenangan olahraga. Takdir di atas lapangan hijau ditentukan oleh taktik, keringat, dan kerja keras para pemain itu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More