Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gagal ke Piala Dunia, Apa yang Salah dengan Timnas Belanda?

Gagal ke Piala Dunia, Apa yang Salah dengan Timnas Belanda?
goal.com

Timnas Belanda harus mengubur dalam-dalam mimpi untuk tampil di putaran final Piala Dunia 2018 Rusia. Meski menang 2-0 di pertandingan terakhir melawan runner-up klasemen Swedia pada Rabu (13/10/2017) dinihari, "De Oranje" tidak mampu mengambil alih posisi "The Yellow Vikings" karena perbedaan selisih gol meski mengumpulkan poin sama.

Ini memperpanjang tahun-tahun kurang menyenangkan bagi Arjen Robben dan kawan-kawan setelah sebelumnya tidak lolos ke Piala Eropa 2016. Nasib buruk seolah enggan pergi dari mereka.

Sulit untuk mempercayai bahwa tim yang dipenuhi pemain-pemain bintang seperti Timnas Belanda hanya bertindak sebagai penonton tahun depan. Yang lebih parah, media-media massa dalam negeri Belanda tidak terkejut dengan pencapaian buruk tersebut.

Media Inggris Independent pernah mencari tahu hal-hal buruk seperti apa yang kini terjadi dengan mereka. Berikut kesimpulannya.

Tidak ada regenerasi pemain.

Independent
Independent

Tidak ada yang berani menyangsikan kehebatan pemain-pemain Belanda. Dulu dunia menyaksikan talenta-talenta seperti Johan Neskeens, Johan Cruyff, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Ronald Koeman, Marco Van Basten hingga Edwin Van Der Sar. Era 2000-an awal pun melahirkan Wesley Sneijder, Arjen Robben dan Robin Van Persie.

Tapi usia memang tidak bisa dibohongi. Timnas mana pun di seluruh dunia menyadari bahwa regenerasi sangat penting demi menjaga performa, mempertahankan prestasi serta memberi tempat para pemain muda untuk menjadi bagian. Mengandalkan pemain tua di timnas memang sesuatu yang riskan.

Idealnya, para penerus di tim senior adalah mereka di level usia muda. Karena itu ada timnas di tingkat U-21, U-19, U-17 dan seterusnya. Namun tampaknya hal tersebut tidak berlaku untuk Belanda. Pemain muda yang bermunculan banyak yang layu sebelum berkembang.

Para pengamat yang beranggapan bahwa kegagalan Belanda mentas di Piala Eropa 2016 karena adanya "generasi yang hilang". Mereka adalah para pemain yang lahir di pertengahan dan akhir 1980-an, dan pernah membawa Belanda menjuarai Piala Eropa U-21 pada tahun 2007.

Banyak dari mereka yang terlihat begitu menjanjikan saat masih bersama tim junior tapi melempem begitu menginjak usia dewasa.

Dari sebelas pemain inti yang tampil sepanjang turnamen, hanya ada satu yang berhasil tembus tim senior. Dia adalah penyerang Ryan Babel yang kini memperkuat klub Turki, Besiktas. Bagaimana dengan yang lain? Ada yang bermain dengan tim papan tengah Eredivisie, bersama tim medioker di liga lain, bahkan ada yang telah pensiun dini dan banting setir menjadi rapper seperti Royston Drenthe.

Pemain-pemain senior di tim "Oranje" dianggap gagal menjembatani regenerasi dan selalu diandalkan menjadi tumpuan, meski umur perlahan menggerogoti permainan mereka di lapangan.

Sebuah teori kemudian muncul : pemain-pemain muda bertalenta milik Belanda terlalu cepat keluar negeri. Coba tengok Dennis Bergkamp dan Ruud Van Nistelrooy, dua penyerang legendaris yang "baru" menyeberang pada usia 25 ke atas. Mereka yang merantau terlalu cepat harus pula cepat meredup seperti Ibrahim Afellay bersama Barcelona dan Eljero Elia saat masih di Juventus.

Mereka yang memilih bertahan di dalam negeri pun menghadapi masalah : level liga Belanda yang semakin menurun. Klub-klub yang lolos ke Liga Champions pun tidak bisa mengimbangi gaya permainan klub seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, Paris Saint-Germain atau Chelsea.

Kesimpulannya, mereka tidak berkembang di dalam negeri dan sulit bersaing di ajang internasional.

Untuk ke depannya harapan akan disematkan ke pundak Virgil Van Dijk, Daryl Janmaat, Giorginio Wijnaldum, Daley Blind, Davy Klaassen, Marco Van Ginkel dan Memphis Depay.

Faktor pelatih dan gaya permainan yang usang.

Pandit Football
Pandit Football

Ada berapa pelatih Belanda yang kini bekerja di kompetisi luar? Cuma dua, Ronald Koeman (Everton, Inggris) dan Peter Bosz (Borussia Dortmund, Jerman). Frank De Boer baru saja dipecat Crystal Palace bulan lalu dengan alasan filosofi bermain yang dia terapkan tidak cocok dengan gaya bermain tanah Inggris dan keras dan cepat.

Harapan sempat ada saat Louis Van Gaal membawa Belanda finis di empat besar pada Piala Dunia 2014. Van Gaal sendiri mengaku hanya berusaha meneruskan filosofi bermain yang diterapkan oleh pendahulunya, Bert Van Marwijk, yang berhasil mengantar Belanda menjadi runner-up di Piala Dunia 2010.

Sepeninggal Van Gaal yang memilih Manchester United sebagai tempat barunya, para penerusnya seolah kelimpungan meneruskan materi dan filosofi yang diterapkan sebelumnya.

Berturut-turut Guus Hiddink, Danny Blind hingga Dick Advocaat silih berganti datang, namun tidak ada yang sukses. Bongkar pasang taktik jadi hal lumrah. Formasi ofensif 3-5-2 yang sempat membuat Belanda begitu ditakuti pada 2014 malah diganti menjadi 4-3-3.

Hasilnya? Nihil. Dasar permainan yang sudah diterapkan Van Gaal malah lenyap tak berbekas. 4-3-3 boleh jadi merupakan temuan Belanda di era mendiang Rinus Michels dan Johann Cruyff. Namun permainan "totalvoetbal" yang mengandalkan kemampuan pemain mencari ruang kini malah lebih fasih dimainkan oleh Spanyol dan Jerman.

Belanda malah gagal mengulang penerapan "totalvoetbal". Pada babak kualifikasi lalu, mereka lebih banyak bertumpu pada kemampuan individu para pemain daripada skema permainan penuh umpan antar lini.

Harapan kini telah berpindah ke generasi pemain muda lainnya yang lahir pada pertengahan hingga akhir 1990-an, termasuk beberapa pemain muda Ajax yang dipandu oleh Bosz ke final Liga Europa Mei lalu. Skuad saat ini rata-rata berusia 25,2 tahun, lebih muda dari skuad yang berkompetisi di Euro 2016.

Namun diperlukan lebih dari sekedar pemain bagus agar Belanda kembali pada permainan aslinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
Arifina Budi A.
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest in Sport

See More

5 Klub Paling Terancam Degradasi di Serie A per 15 April 2026

15 Apr 2026, 04:34 WIBSport