Comscore Tracker

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi Bangkit

Timnas Wanita Indonesia sempat berjaya di kancah Asia

Jakarta, IDN Times - Adakah sepak bola perempuan Indonesia sebenarnya? Kalau ya, lantas ke mana para perempuan itu sekarang? Seberapa seringkah masyarakat melihat pertandingan mereka?

Itu adalah tiga dari berbagai pertanyaan soal sepak bola wanita di Indonesia. Maklum, dewasa ini perkembangan sepak bola wanita di Indonesia masih jalan di tempat. Selain karena miskin prestasi, faktanya kaum hawa di tanah air masih sulit untuk bisa menunjukkan keahliannya di lapangan hijau.

Kondisi bal-balan wanita di Indonesia memang belum banyak berubah, diskriminasi dan seksisme acap kali terjadi. Kadung identik dengan maskulinitas, sepak bola memunculkan persepsi yang menimbulkan bias gender.

Perempuan masih dianggap sebelah mata di lapangan hijau. Masalahnya adalah tak adanya kesadaran masyarakat soal pentingnya sepak bola kaum hawa.  

Baca Juga: Menjawab Tantangan Sepakbola Wanita di Masa Depan

1. Melawan diskriminasi di lapangan hijau

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi BangkitInstagram/dhanielledaphne

Hal itu sempat dirasakan eks pemain Timnas Wanita di Asian Games 2018, Dhanielle Daphne. Banyak hambatan yang sudah dia lalui. Selain sempat dilarang orang tuanya bermain bola, banyak diskriminasi yang dirasakan. 

"Sulit bisa mendapat klub di Indonesia saat itu. Mau tak mau akhirnya masuk klub bersama tim pria (Sekolah Sepak Bola). Ada diskriminasi dan banyak yang menganggap remeh saya bisa bermain sepak bola," ujar Daphne kepada IDN Times.

Merasa kala itu hobinya dinilai mayoritas orang tak lazim, Daphne tak menyerah. Dia dengan gigih berusaha meraih mimpinya jadi pemain hebat. Dia pun sempat seleksi bersama Timnas Futsal Wanita untuk SEA Games 2017 saat usianya masih sangat belia. Selain itu, dia juga akhirnya bisa masuk skuad Timnas Wanita di Asian Games 2018.

Usahanya tak berhenti sampai di sana. Dia memilih melanjutkan pendidikan di Oregon State University, Amerika Serikat. Hal itu dilakukan demi bisa meningkatkan karier sepak bolanya. Dia berusaha menjadi bagian untuk bergabung dengan Oregon Beavers, di NCAA yang merupakan kompetisi tingkat mahasiswa paling elite di Amerika Serikat.

Itu jadi perantaranya untuk mewujudkan mimpi menembus UCLA, kompetisi kasta kedua AS.

Sama halnya dengan Daphne, pemain Timnas Indonesia Wanita lainnya, Zahra Muzdalifah, berjuang juga menuntut keadilan di lapangan hijau. Selain berjuang menciptakan prestasi, dia juga menyiratkan usahanya melawan stigma yang menyebut wanita tak bisa bermain sepak bola.

Sejak belia, dia berjuang masuk klub sepak bola yang banyak dihuni pria. Hal itu tak menurutkan niatnya, berbagai cara dilakukan hingga dia punya kemampuan yang sangat baik. Dia bahkan jadi salah satu pemain andalan dan ikon Timnas Wanita saat ini.

Keduanya pun berharap federasi semakin serius membangun sepak bola wanita di Indonesia. Selain itu mereka berpesan kepada perempuan yang ingin serius menggeluti dunia sepak bola untuk tetap berlatih serius sambil menunggu kesempatan datang. Dia meminta semua perempuan untuk semangat, tetap latihan keras, dan terus mengejar mimpi.

"Jangan pernah menyerah karena kesempatan akan datang suatu saat nanti," beber Daphne.

2. Mereka yang berjuang untuk sepak bola wanita

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi Bangkitpssi.org

Perjuangan Daphne dan Zahra sebetulnya sudah dilakukan pendahulunya, Papat Yunisal. Eks pemain Timnas Wanita ini hampir sebagian besar umurnya diabdikan untuk mengembangkan sepak bola wanita. Tak banyak orang yang berpikir demikian.

Perjuangannya membangun sepak bola wanita sudah dimulai di era 1970-an. Dia harus jatuh bangun menjalani sulitnya jadi pemain sepak bola wanita. Dia bahkan sempat sakit keras hingga harus dirawat. Hal itu membuatnya berpikir untuk menghentikan mimpi menjadi pemain Timnas dan berjuang mengembangkan sepak bola wanita.

Beruntung, seniornya Yati Sumaryati kala itu terus menyemangatinya. Yati bahkan sengaja menjenguk Papat yang tengah terkulai lemah di ranjang Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Hal itu membuat batin Papat tak kuasa menahan gejolak untuk merumput mengikuti jejak Yati, idolanya.

"Saya harus sembuh dan punya target menjadi salah satu pemain Timnas sepak bola perempuan Indonesia seperti Mbak Yati," ujar Papat menceritakan lagi perjuangannya saat itu.

Dia pun akhirnya terpilih menjadi bagian Timnas Wanita pada 1979. Dia berjuang mengharumkan nama bangsa sampai akhirnya pensiun. Semangat itu pun terus dijaga, hingga dia akhirnya mengabdi untuk sepak bola wanita.

Berbagai cara dilakukan agar sepak bola wanita tak dianggap sebelah mata. Selain menciptakan SSB Wanita Queen's di Bandung, usahanya menciptakan kesetaraan di sepak bola dilirik PSSI. Dia dipercaya mengemban tugas di departemen sepak bola wanita era Nurdin Halid hingga Edy Rahmayadi.

Dia bahkan sempat dipercaya jadi Komite Eksekutif (Exco) untuk kembali membuat kompetisi wanita yang tertidur pulas. Hal itu diawali dengan membuat regulasi klub profesional harus memiliki tim wanita. Hal itu jadi cikal-bakal kompetisi Liga 1 wanita bisa digulirkan. Itu jadi tonggak sejarah anyar dalam perkembangan sepak bola kaum hawa di tanah air.

3. Romantisme sepak bola wanita di Indonesia yang sempat berjaya

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi BangkitIDN Times/istimewa

Jika dibandingkan dengan dulu, usaha Papat memang tak pernah padam. Dulu, perjuangan feminisme dia lakukan saat masih menjadi pemain aktif. Dia bahkan merasakan menterengnya sepak bola wanita dibanding pria. 

Memasuki medio 1970-an, klub wanita sudah menjalankan aktivitas melalui pelbagai kompetisi independen. Baru satu dasawarsa berselang, mereka mulai bersaing dalam ajang yang berada di bawah naungan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), sebut saja Piala Kartini (1981) dan Invitasi Galanita (1982). 

Nama klub seperti Putri Mataram, Putri Semarang, Putri Priangan, hingga Buana Putri, santer terdengar di berbagai penjuru tanah air. Dua nama terakhir bahkan jadi dua raksasa yang acap kali adu sikut bersaing meraih gelar dalam rivalitas tertinggi.

Jika merunut sejarah, di level tim nasional, sepak bola wanita Indonesia jadi tim yang disegani di Asia. Memulai debut di ajang internasional, mereka jadi semifinalis Piala Asia 1977. Timnas Indonesia bahkan bisa menumbangkan Jepang pada Piala Asia 1977 dengan skor tipis 1-0. 

Timnas Wanita selanjutnya langsung merasakan gelar juara satu-satunya, yakni di turnamen segitiga antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia pada 1979 silam. 

Usai itu kegemilangan mereka dilanjutkan di lingkup yang lebih kecil, yakni Asia Tenggara. Mereka bisa meraih dua kali posisi runner up di ASEAN Womens Championship 1982 dan 1985. Setahun berselang, Timnas Wanita mampu meraih posisi empat Piala Asia dan menjadikan itu prestasi terakhirnya.

Pelan-pelan prestasi mereka kian meredup. Salah satunya karena pembubaran pengurus Liga Sepak Bola Wanita (Galanita) tahun 1993. Galanita adalah kompetisi sepak bola yang diselenggarakan setiap tahun dan diikuti klub-klub sepak bola perempuan di tanah air. Kala itu, Ketua Umum Galanita, almarhumah Dewi Wibowo, memutuskan untuk membubarkan kepengurusannya dan menyerahkan kembali kepada PSSI.

Prestasi Timnas Wanita Indonesia pun mengalami pasang surut. Sempat meraih medali perunggu di ajang SEA Games 1997 dan 2002, mereka juga sempat minim prestasi, bahkan terbilang jarang mengikuti berbagai event internasional.

4. Minimnya kompetisi dan dana jadi kendala

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi Bangkitpssi.org

Namun, itu hanya romansa masa lalu. Sebab, saat ini prestasi sepak bola wanita Indonesia sudah jomplang dengan Jepang. Tim Samurai Biru bahkan sudah pernah meraih gelar paling bergengsi pada Piala Dunia Wanita 2011 silam. Hal itu berbanding terbalik dengan sepak bola Indonesia yang jalan di tempat.

"Dulu, tiap tahun sering ada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) dan turnamen. Tapi, sekarang tidak ada. Masih untung kami diundang bertanding, walau dengan bapak-bapak di acara khusus seperti saat memperingati hari Kartini," kata eks pemain timnas perempuan Indonesia 1989, Sri Hastuti, kepada IDN Times

Kondisi itu memang jadi salah satu faktor yang membuat perkembangan sepak bola wanita mangkrak. Hal itu diperparah lagi lantaran sokongan dana untuk membangun lapangan yang layak, pembinaan di berbagai level usia, dan segudang keperluan lain yang tak berjalan, membuat semuanya berantakan.

"Yang menjadi kendala sepak bola perempuan, ya karena tidak ada dana, juga wadah dari federasi. Tak cukup kalau cuma bermodalkan bisa bermain sepak bola," ujar eks pelatih Timnas Wanita 2011, Bambang Nurdiansyah.

5. AFC sudah berusaha bantu kembangkan sepak bola kaum hawa di tanah air

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi Bangkitlawinsport.com

Sebetulnya, di balik mandeknya perkembangan sepak bola wanita tanah air, konfederasi sepak bola Asia (AFC) ingin memberikan segala kebutuhan yang diperlukan untuk memajukan sepak bola kaum hawa Indonesia. Masalahnya bantuan itu acap kali terhambat karena Indonesia tak punya kompetisi sepak bola perempuan yang aktif, sebagaimana yang disyaratkan oleh AFC. 

Kompetisi Indonesia sempat terhenti bertahun-tahun lamanya. PSSI baru kembali menggelar ajang resmi untuk wanita pada tiga tahun silam, yakni Liga 1 2019. Sisanya, hanya ada turnamen-turnamen level pembinaan usia dini saja yang digelar. Paling banter, ajang level nasional yang bisa menjadi wadah sepak bola wanita adalah Piala Pertiwi atau turnamen memperingati Hari Kartini. 

Hal itu sedikit disayangkan. Maklum, sepak bola wanita Indonesia berpotensi besar meraih prestasi lebih daripada sepak bola pria mengingat persaingan mereka di level Asia belum terlalu rumit. Hal itu terbukti dari persaingan antar negara di ajang internasional.

6. Bambang Nurdiansyah nilai sepak bola wanita punya potensi

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi BangkitSejumlah pesepak bola timnas putri Indonesia mengikuti pengenalan dan pembukaan pemusatan latihan timnas putri Indonesia di Lapangan D, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (8/3/2021). Pembukaan pemusatan latihan yang dimulai tepat bersamaan dengan peringatan Hari Wanita Internasional hingga 31 Maret itu untuk menpersiapkan timnas putri Indonesia berlaga di SEA Games 2021 di Vietnam dan turnamen-turnamen internasional lainnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Selain itu, Banur (sapaan akrab Bambang Nurdiansyah) menilai potensi lain yang dimiliki pesepak bola wanita Indonesia. Selain diberkati bakat alami, Tuhan juga memberikan anugerah memberikan wanita Indonesia postur yang sempurna untuk mengolah si kulit bundar. Secara fisik, para pemain punya modal bagus bersaing dengan negara-negara tetangga.

"Wanita Indonesia itu berpostur tubuh mungil dan lincah. Itu menjadi kelebihan yang tidak dimiliki wanita Eropa. Karena itu, butuh pembinaan teratur agar potensi mereka semakin terlihat," ujar pelatih RANS Cilegon United ini, memuji potensi pemain Indonesia yang diberkati teknik bermain bola, visi bermain, kecepatan lari, dan postur tubuh yang atletis.

Tak hanya AFC, FIFA pun ikut turun tangan coba menggenjot perkembangan sepak bola wanita Indonesia. Buktinya, tahun 2014 federasi sepak bola tertinggi itu mengalokasikan 30 persen dari dana FIFA Goal Project untuk Indonesia, atau sekitar Rp1,6 miliar, khusus untuk pengembangan sepak bola kaum hawa Indonesia. 

7. PSSI akui pembinaan jalan di tempat dan kompetisi masih tak menentu

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi BangkitPintu masuk kantor PSSI saat masih berada di kawasan Kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Beragam masalah itu membuat Timnas Indonesia saat ini sulit meraih prestasi di kancah internasional. 

Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, pun mengakui masih banyak hambatan yang terjadi untuk mengembangkan sepak bola wanita. Menurut dia, pembinaan yang jalan di tempat, hingga kompetisi yang tak menentu membuat semuanya menjadi sulit. 

"Seharusnya kita punya kompetisi yang berkesinambungan dari mulai junior hingga senior. memberikan pemain lebih banyak uji coba. Mencari bibit ke daerah-daerah yang memiliki potensi dan bergabung dengan Timnas Wanita, seperti di Papua, Ambon, NTT, hingga pulau Jawa," terang Yunus.

Berbagai persoalan pelik di sepak bola wanita kini memang jadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan PSSI di kepengurusan Mochamad Iriawan saat ini. Di sisi lain mereka juga mau tak mau harus bisa membangun Timnas Wanita untuk tampil di ajang internional. Hal itu membuat PSSI harus berpikir keras.

8. Masih sulit menjaring pemain berkualitas

Sepak Bola Wanita Indonesia: Mengubah Stigma Demi BangkitPesepak bola timnas putri Indonesia Zahra Muzdalifah (kiri) menggiring bola saat pertandingan internal pada pengenalan dan pembukaan pemusatan latihan timnas putri Indonesia di Lapangan D, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (8/3/2021). Pembukaan pemusatan latihan yang dimulai tepat bersamaan dengan peringatan Hari Wanita Internasional hingga 31 Maret itu untuk menpersiapkan timnas putri Indonesia berlaga di SEA Games 2021 di Vietnam dan turnamen-turnamen internasional lainnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Yunus merasa, mendapatkan pemain wanita dengan kemampuan layaknya pemain profesional jauh lebih sulit. Semua orang, menurut Yunus harus mengakui itu. Terlebih, tak banyak kesempatan yang diberikan kepada kaum hawa untuk berkompetisi.

Maklum, belum ada kompetisi berjenjang bisa berjalan di Indonesia. Kompetisi profesional bertajuk Liga 1 Putri saja, baru bisa digelar pada 2019 silam. Itu pun belum bisa dilanjutkan lantaran pandemik COVID-19 yang memaksa untuk vakum.

Kalau bicara pembinaan usia dini, itu juga masih angan-angan. Tak banyak medium yang bisa dimanfaatkan para pesepak bola wanita untuk bisa mengembangkan karier. Hal itu mungkin membuat perkembangan sepak bola wanita Indonesia mandek.

Beragam masalah mulai dari persepsi publik serta minimnya kesempatan wanita bermain sepak bola pun perlahan harus terus diperbaiki, juga harus terus menyuarakan dan mengampanyekan untuk melawan diskriminasi gender di dalam lapangan hijau. Hal itu sejalan dengan seruan FIFA yang berkomitmen mewujudkan cita-cita #Football4Equality yang telah digagas.

Dengan begitu, para srikandi setidaknya bisa lebih dulu menghapus persepsi jika sepak bola adalah olahraga milik pria. Jika itu sudah berjalan, kompetisi bisa bergulir, karena wanita sudah tak ragu lagi menjajal olahraga ini. Hal itu tentu bakal berimbas ke pembinaan pemain.

Jika semua berjalan beriringan, bukan tak mungkin sepak bola wanita Indonesia bisa kembali mengulangi masa kejayaan.

Kini, momentum sudah datang. Timnas wanita akan tampil di Piala Asia 2022 mulai Jumay (21/1/2022). Menghadapi raksasa, Australia, Timnas wanita bisa saja mencetak sejarah dan mulai membangun tonggak kebangkitan sepak bola kaum hawa di Indonesia. Jaya terus!

Baca Juga: Menyuarakan Kesetaraan Pria-Wanita Lewat Sepak Bola

Topic:

  • Satria Permana
  • Stella Azasya

Berita Terkini Lainnya