Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jika Ricuh Terus, I.League Buka Opsi Pengurangan Poin bagi Klub

2 min read
Jika Ricuh Terus, I.League Buka Opsi Pengurangan Poin bagi Klub
Situasi Persita vs Persija di Super League 2026/27. (Dok. Istimewa)
  • I.League membuka opsi mendorong regulasi pengurangan poin bagi klub jika suporternya terlibat kerusuhan, meski sanksi tersebut belum tercantum dalam Kode Disiplin PSSI.

  • Selain denda dan larangan laga tandang, oknum suporter yang berulang kali memicu kerusuhan dapat dikenai hukuman lebih berat, termasuk larangan menonton pertandingan seumur hidup.

  • Komdis telah menjatuhkan sanksi kepada Persita, Persija, PSGC, dan PSIS; klub diminta aktif menertibkan serta mengedukasi suporter demi keamanan stadion.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menyebut pihaknya membuka peluang penerapan sanksi pengurangan poin bagi klub yang suporternya terlibat kerusuhan. Saat ini, soal sanksi pengurangan poin belum diatur di Kode Disiplin PSSI.

Namun, Ferry mengatakan pihaknya akan mendorong aturan baru untuk memberikan sanksi lebih berat terhadap pelanggaran yang dilakukan suporter.

"Namun, terhadap indikasi pelanggaran atau kerusuhan yang terjadi, tidak menutup kemungkinan kami akan mendorong adanya regulasi tersendiri untuk memberikan sanksi pengurangan poin," ujar Ferry di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

  1. 1. Larangan menonton seumur hidup juga masuk pertimbangan

    WhatsApp Image 2026-10-12 at 6.53.34 AM.jpeg
    Bus Pemain Muda Persib Diserang di Rest Area Batang, Ofisial Dipukuli. IDN Times/Istimewa

    Selain pengurangan poin, Ferry juga membuka kemungkinan penerapan hukuman lebih berat bagi oknum suporter yang berulang kali terlibat kerusuhan. Salah satu opsi adalah larangan menonton pertandingan seumur hidup.

    "Oleh karena itu, terhadap beberapa oknum yang memiliki indikasi seperti itu, kami justru akan mendorong agar diberikan sanksi yang lebih berat. Kalau perlu, dilarang menonton seumur hidup," kata Ferry.

  2. 2. Persita, Persija, PSGC, dan PSIS terseret kasus kericuhan

    Bus tim EPA U-18 Persib tampak mengalami kerusakan setelah diserang di Batang, menurut dokumentasi yang ada.
    Bus tim EPA U-18 Persib diserang di Batang. (Dok. Istimewa)

    Komite Disiplin (Komdis) PSSI sebelumnya menjatuhkan sanksi berupa denda dan larangan bagi suporter untuk mendampingi tim dalam laga tandang kepada Persita dan Persija. Hukuman tersebut diberikan menyusul kericuhan dalam pertandingan kedua tim di Banten.

    Sanksi serupa juga dijatuhkan kepada PSGC dan PSIS setelah terjadi insiden keributan serta bus tim tamu yang tertahan di stadion.

    Ferry menegaskan, hukuman terhadap pelanggaran suporter dapat diperberat apabila insiden serupa kembali terjadi. Menurutnya, sanksi berlapis diperlukan untuk mencegah pelanggaran berulang.

    "Putusan Komdis ini akan bertambah atau berlapis jika terjadi pengulangan. Bahkan, jika dalam kasus yang sama terjadi kerusuhan yang sama oleh suporter yang sama, Komdis juga akan meningkatkan sanksinya," tutur Ferry.

  3. 3. Klub diminta lebih aktif mengedukasi suporter

    Bus tim EPA U-18 Persib terlihat dari luar usai diserang di Batang, dengan kerusakan pada salah satu bagian bus.
    Bus tim EPA U-18 Persib diserang di Batang. (Dok. Istimewa)

    Ferry berharap klub tidak hanya menerima sanksi yang dijatuhkan, tetapi juga mengambil langkah nyata untuk menertibkan dan mengedukasi para pendukungnya. Menurutnya, upaya tersebut penting untuk menjaga keamanan stadion sekaligus menciptakan suasana pertandingan yang nyaman bagi seluruh penonton, termasuk perempuan dan anak-anak.

    "Kami ingin ada peringatan dini bagi klub-klub agar mereka bisa menertibkan suporternya dan memberikan edukasi kepada suporter, terutama klub-klub yang sering memiliki masalah dalam pertandingan demi pertandingan," ungkap Ferry.

    I.League berharap klub lebih serius membina suporternya agar kerusuhan tidak kembali terulang. Penerapan sanksi yang lebih berat, termasuk kemungkinan pengurangan poin, menjadi salah satu opsi yang didorong untuk menjaga ketertiban dan keamanan kompetisi sepak bola Indonesia.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More