Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Performa Tottenham Begitu Buruk dalam 2 Musim Terakhir di EPL?

Kenapa Performa Tottenham Begitu Buruk dalam 2 Musim Terakhir di EPL?
ilustrasi bola berlogo Tottenham Hotspur (pixabay.com/VariousPhotography)

Tottenham Hotspur sejatinya termasuk salah satu anggota enam klub besar atau big six di English Premier League (EPL). Namun, performa The Lilywhites dalam dua musim terakhir di EPL sangat mengecewakan. Tottenham finis di peringkat ke-17 klasemen akhir EPL 2024/2025 dengan perolehan 38 poin hasil dari 11 kemenangan, 5 berimbang, dan 22 kekalahan. Manajemen Tottenham mencopot posisi Ange Postecoglu meski sukses menjuarai Liga Europa (UEL) 2024/2025 akibat performa buruk di EPL. Thomas Frank yang ditunjuk sebagai pelatih baru pada musim panas 2025, tidak mampu memberikan perubahan dan berakhir dengan pemecatan pada Februari 2026.

Pelatih interim Tottenham, Igor Tudor, sudah menelan tiga kekalahan beruntun di EPL sejak penunjukkannya pada Februari 2026. Ancaman degradasi ke EFL Championship benar-benar menjadi kenyataan bagi klub besar seperti Tottenham. Sebab, Tottenham hanya berjarak satu poin dengan peringkat ke-18, West Ham United.

Lantas, kenapa performa Tottenham begitu buruk di EPL dalam dua musim terakhir?

1. Tidak ada sosok pemimpin sejak Hugo Lloris dan Harry Kane hengkang

Tottenham Hotspur tidak lagi memiliki sosok pemimpin karismatik yang dapat memimpin ruang ganti. Sebelumnya, The Lilywhites memiliki sosok pemimpin seperti Hugo Lloris, Harry Kane, Son Heung Min, Jan Vertonghen, dan Toby Alderweireld. Namun, satu per satu para pemain tersebut hengkang ke klub lain dengan berbagai alasan, seperti faktor usia dan ambisi meraih gelar juara bergengsi.

Sayangnya, manajemen Tottenham tidak mampu mengganti para pemain senior tersebut. Usai Son memutuskan meninggalkan Tottenham pada musim panas 2025, ban kapten dipercayakan kepada Cristian Romero. Sementara itu, Micky van de Ven menjabat sebagai wakil kapten. Kedua pemain itu dianggap sebagai sosok senior yang diharapkan mampu menjadi pemimpin. Akan tetapi, Romero dan van de Ven malah beberapa kali tampil buruk dan diusir keluar lapangan akibat kartu merah.

Romero sudah dua kali terkena kartu merah ketika Tottenham kalah 1-2 dari Liverpool pada pekan 17 dan 0-2 dari Manchester United pada pekan 25 EPL 2025/2026. Ia bahkan terkena kartu merah secara langsung dalam kekalahan Tottenham 0-2 dari Manchester United sehingga absen dalam empat laga beruntun. Sementara itu, van de Ven terkena kartu merah saat Tottenham takluk 1-3 dari Crystal Palace pada pekan 29 2025/2026. Tidak adanya sosok pemimpin kharismatik memberikan pengaruh besar bagi stabilitas performa The Lilywhites.

2. Lini depan tumpul terutama setalah Harry Kane hengkang pada 2023

Lini depan Tottenham menjadi salah satu titik lemah dalam 3 musim terakhir sejak 2023/2024. Kepergian Harry Kane ke Bayern Muenchen pada musim panas 2023 menjadi awal kemunduran The Lilywhites. Sebab, para penyerang Tottenham, seperti Richarlison, Dominic Solanke, dan Randal Kolo Muani, tidak ada yang tampil konsisten.

Richarlison hanya menorehkan 11 gol dalam 28 laga EPL 2023/2024, 4 gol dari 15 penampilan pada 2024/2025, dan 8 gol dalam 24 pertandingan pada 2025/2026 per 6 Maret 2026. Solanke hanya mencetak 9 gol dalam 27 laga EPL 2024/2025 serta 3 gol dari 10 penampilan pada 2025/2026 per 6 Maret 2026. Kolo Muani bahkan baru sekali mencetak gol dalam 21 laga EPL 2025/2026 per 3 Maret 2026.

Selain itu, para penyerang sayap The Lilywhites yang pernah menjadi salah satu kekuatan di EPL tidak mampu memberikan nilai tambah. Son Heung Min mengalami penurunan performa sejak 2023/2024 hingga dilepas pada musim panas 2025. Timo Werner yang sempat dipinjam dari RB Leipzig gagal menampilkan performa terbaik. Brennan Johnson sempat menorehkan gol kemenangan Tottenham 1-0 atas Manchester United pada final UEL 2024/2025, tetapi malah dijual ke Crystal Palace pada Januari 2026. Mohammed Kudus belum menunjukkan penampilan meyakinkan dengan baru mencetak 2 gol serta 6 assist dalam 19 laga EPL 2025/2026 per 6 Maret 2026.

3. Kebugaran pemain yang begitu buruk dalam dua musim terakhir

Tottenham kerap kali mengalami masalah kebugaran pemain dalam 2 musim terakhir sejak 2024/2025. Para pemain kunci The Lilywhites kerap kali absen cukup lama sehingga mempengaruhi konsistensi performa tim di atas lapangan. Alhasil, eks pelatih Tottenham, Ange Postecoglu, sampai harus memainkan para pemain muda dari akademi, seperti Archie Gray, Dane Scarlett, dan Mikey Moore, pada 2024/2025.

Sementara itu, Thomas Frank dan Igor Tudor sama-sama dipusingkan dengan absennya sejumlah pemain inti Tottenham, macam Dejan Kulusevski, James Maddison, Destiny Udogie, dan Mohammed Kudus, pada 2025/2026. Hal tersebut memaksa pelatih merotasi susunan starting line-up dan mengganti formasi sehingga tidak ada stabilitas tim. Para pengganti pemain yang menderita cedera, macam Xavi Simons, Mathys Tel, dan Archie Gray, gagal menampilkan performa apik.

Selain tiga faktor di atas, beberapa faktor lainnya yang memiliki pengaruh besar terhadap penurunan Tottenham, seperti pergantian manajemen, taktik pelatih yang berubah-ubah, dan kurangnya ambisi. Jika The Lilywhites gagal membenahi permasalahan internal klub di dalam dan luar lapangan, ancaman degradasi makin besar. Mampukah Tottenham menemukan solusi dan bertahan di EPL?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us

Latest in Sport

See More

3 Kiper dengan Catatan Assist Terbanyak di UCL per Maret 2026

13 Mar 2026, 05:52 WIBSport