Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ketika Pasangan Atlet Jadi Kambing Hitam di Piala Dunia 2026

Ketika Pasangan Atlet Jadi Kambing Hitam di Piala Dunia 2026
ilustrasi pemain sepak bola (Unsplash/Amr Taha)
Intinya Sih
  • Publik Korea Selatan menyerang Kim Jin Kyung, istri kiper Timnas Korsel, setelah kegagalan di Piala Dunia 2026, memperlihatkan pola lama menyalahkan pasangan atlet atas performa buruk.
  • Fenomena ini dijelaskan lewat konsep relasi parasosial, di mana fans membangun hubungan satu arah dengan idolanya dan mencari kambing hitam eksternal saat sang atlet gagal memenuhi ekspektasi.
  • Kultur misoginis turut memperkuat kebiasaan menyalahkan perempuan di sekitar atlet pria, meski riset ilmiah menegaskan tidak ada kaitan antara hubungan pribadi dan performa olahraga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Publik Korea Selatan memang berhak kecewa atas kegagalan timnas mereka di Piala Dunia 2026. Wajar jika mereka menyorot kinerja pelatih dan federasi, tetapi jadi tak masuk akal ketika pasangan pemain atau atlet ikut diseret dalam drama. Ini terjadi pada aktris Kim Jin Kyung yang juga istri dari kiper Timnas Korsel, Kim Seung Gyu.

Media sosialnya dibanjiri hujatan dari fans Timnas Korsel yang menganggap dirinyalah penyebab suaminya tak fokus saat berlaga di Piala Dunia 2026. Kim baru saja melahirkan anak pertama mereka pada 4 Juni 2026 dan suaminya tak bisa hadir karena keperluan turnamen tersebut. Kim Jin Kyung bukan korban pertama. Pada masa lalu dan cabor lain, fenomena menyalahkan pasangan atlet lumrah ditemukan. Mengapa?

1. Fenomena salahkan pasangan atlet sudah ada sejak lama, lintas cabor dan negara

Menyalahkan pasangan atlet ketimbang atlet itu sendiri banyak terjadi di berbagai cabor. Ingat kasusnya Iker Casillas pada Piala Dunia 2010? Saat itu Timnas Spanyol kalah dari Swis pada pertandingan perdana fase grup. Bukannya menyorot kinerja pemain dan tim secara keseluruhan, orang justru menunjuk Sara Carbonero, seorang reporter yang dikabarkan dekat dengan Casillas sebagai kambing hitam. Katanya karena Carbonero sering meliput di dekat gawang Timnas Spanyol.

Dilansir Guardian, pada Piala Dunia 2006, Rio Ferdinand mengomentari kehadiran istri dan pacar pemain Timnas Inggris di salah satu momen santai tim dengan kalimat, “Itu seperti melihat teater yang sedang berjalan dan sepak bola hampir jadi elemen sekunder.” Komentar ini jadi bola liar yang bikin orang percaya kalau istri dan pacar pemain memang patut disalahkan atas kegagalan Timnas Inggris karena mendistraksi fokus pemain. Pada cabor lain, aktris Olivia Munn juga pernah jadi bulan-bulanan fans American football. Tepatnya, penggemar klub NFL ,Green Bay Packers, yang menganggapnya sebagai distraksi buat pemain idola mereka sekaligus kekasih Munn saat itu, Aaron Rodgers. Contoh lainnya masih banyak, cukup mudah ditemukan dan bisa dibilang universal. Tak peduli di negara mana dan cabor apa, tetapi polanya sama: pasangan perempuan disalahkan atas performa buruk atlet pria di lapangan.

2. Salah satu manifestasi dari relasi parasosial antara fans dan atlet

Pertanyaannya apa yang bikin pola itu terus berulang, bahkan sampai Piala Dunia 2026, ketika dunia katanya sudah masuk era progresif? Kita bisa memakai konsep relasi parasosial sebagai salah satu jawabannya. Istilah itu diperkenalkan Donald Horton dan R Richard Wohl pada 1956. Ia merujuk kepada sebuah relasi satu arah antara dua pihak, biasanya penggemar dan idola. Satu arah maksudnya, hanya penggemar yang menunjukkan kepedulian berlebih, sementara sang idola diragukan tahu eksistensi mereka.

Dalam konteks olahraga, atlet adalah idola yang dimaksud. Mereka dielu-elukan bahkan bisa saja dibela oleh fans. Ketika mereka melakukan kesalahan atau bertindak tak sesuai ekspektasi, para penggemar yang punya kepedulian lebih ini enggan untuk langsung menyalahkan si atlet. Mereka berusaha untuk mencari pembenaran eksternal dahulu, salah satunya menyalahkan pasangan sang atlet. Sesuai konsep Horton dan Wohl, pelaku hubungan parasosial ini biasanya hanya tahu si sosok yang diidolakan dari media ketimbang interaksi langsung. Alhasil, mereka melakukan analisa dengan bias-bias tertentu yang akurasinya amat diragukan.

3. Tidak hanya berlaku dalam olahraga, memang kultur misoginis yang dipelihara

Lantas, mengapa ini lebih sering menjangkiti fans olahraga yang didominasi pria dan menarget pasangan yang bergender perempuan? Kultur misoginis bisa jadi jawabannya. Ada fenomena umum yang menganggap perempuan kurang kompeten dibanding pria. Alhasil banyak pria yang ketika berkelakuan buruk diasosiasikan dengan perempuan. Celotehan seperti “pakai rok saja kalau tidak bisa bermain sepak bola” atau “jadi laki-laki jangan suka nyinyir seperti perempuan” mungkin terasa familier dan natural, tetapi sebenarnya berakar dari kultur misoginis dan seksis.

Kultur itu kemudian termanifestasi jadi beragam fenomena. Salah satunya menyalahkan perempuan yang ada dalam sirkel terdekat pria ketika pria itu dianggap tak kompeten, termasuk para atlet. Tak heran, dahulu sempat berkembang teori bahwa seks bisa memengaruhi performa atlet. Namun, para ilmuwan akhirnya membuat klarifikasi lewat riset-riset mereka dan membantah teori tersebut. Salah satunya dipublikasikan Zavorsky dan Brooks dalam jurnal Scientific Reports berjudul "The influence of sexual activity on athletic performance: a systematic review and meta-analyses". Dari 9 atlet muda yang mereka teliti (8 pria dan 1 perempuan), tidak ditemukan adanya korelasi antara performa di lapangan dengan hubungan seks yang dilakukan 24 jam sampai 30 menit sebelum pertandingan. Riset ini memang kurang heterogen, tetapi untuk menjawab pola misoginis yang kerap terjadi, seharusnya ini cukup untuk mematahkan mitos tersebut.

Menyalahkan pasangan perempuan atas performa buruk atlet pria itu sungguh ganjil. Harusnya sebagai orang dewasa dan profesional di bidangnya, mereka punya tanggung jawab atas diri mereka sendiri. Ada banyak faktor di lapangan yang bisa dianalisis, mengapa pula kita harus sampai ke ranah pribadi atlet? Namun, fenomena ini bisa jadi bukti betapa toksiknya basis penggemar olahraga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra

Related Articles

See More