Kisah FIGC Abaikan Riset Baggio Berujung Kegagalan Italia ke Piala Dunia

- Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Bosnia-Herzegovina, memperpanjang absennya di ajang tersebut untuk ketiga kalinya secara beruntun.
- Roberto Baggio pernah menyusun laporan 900 halaman berisi reformasi pembinaan sepak bola Italia, termasuk peningkatan kualitas pelatih muda dan sistem data pemain nasional.
- FIGC mengabaikan seluruh rekomendasi Baggio hingga ia mundur pada 2013, membuat upaya pembaruan sepak bola Italia tidak pernah terealisasi.
Jakarta, IDN Times - Italia harus menelan kenyataan pahit dengan gagal ke Piala Dunia 2026 usai kalah dari Bosnia-Herzegovina dalam play-off zona Eropa pada tengah pekan lalu. Fakta itu membuat Italia harus absen di pesta sepak bola terbesar dunia tersebut selama tiga kali beruntun.
Tren buruk yang dialami Italia, diyakini terjadi akibat Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) tak mendengarkan saran dari legenda hidupnya, Roberto Baggio. Sebenarnya, Baggio sudah memberikan masukan agar tim nasionalnya bisa kembali berbicara banyak di pentas internasional. Namun, sederet opininya sama sekali tak didengarkan oleh FIGC, berujung pada kegagalan tampil di Piala Dunia sejak edisi 2018, 2022, hingga 2026.
1. Baggio sudah tahu masalahnya
Sekitar dua bulan setelah Italia tersingkir di fase grup Piala Dunia 2010, FIGC menunjuk Baggio sebagai Kepala Teknis. Dia didapuk untuk membuat sebuah peta jalan perbaikan sepak bola Italia.
Baggio kemudian membentuk tim berisikan 50 orang yang terdiri dari pelatih, peneliti, pakar, dan konsultan. Mereka mempelajari apa yang perlu diperbaiki demi kemajuan sepak bola Italia.
Hasil dari pekerjaan tim bentukan Baggio ini adalah laporan 900 halaman dengan usulan perombakan dalam pembinaan pemain muda yang dirilis pada Desember 2011, membahas sejumlah aspek terkait masalah hingga solusinya.
2. Berikut poin-poin perbaikan yang Baggio tawarkan
Baggio ingin mengubah metode seleksi di level akademi, yang tak lagi mengedepankan fisik, namun juga aspek teknis, penguasaan bola, pengambilan keputusan, hingga intelijensi. Dia juga meminta pelatih fokus pada teknik ketimbang taktik.
FIGC diminta meningkatkan kualitas para pelatih di level muda dengan mewajibkannya memiliki latar pendidikan yang baik. Dia juga menginginkan kolaborasi antara peneliti dari universitas dan tim kepelatihan.
Lalu, dia menekankan pembangunan pusat latihan dalam 100 distrik berbeda di Italia. Nantinya, di tiap distrik diisi tiga pelatih yang berasal dari FIGC. Fungsinya agar jumlah laga kelompok umur semakin banyak.
Langkah di atas juga diiringi perbaikan pendataan para pemain muda di Italia. Dia ingin profil dan perkembangan pemain tercatat rapi dalam sebuah bank data. Dengan begitu, pemantauan bibit potensial bisa lebih mudah dilakukan.
Tak hanya itu, Baggio juga menekankan pendidikan moral, etika, dan tanggung jawab sosial. Dia ingin membentuk individu yang cakap, bukan sekadar atlet. Lalu, apakah saran Baggio ini didengarkan FIGC?
3. Tak didengarkan sama sekali oleh FIGC
Laporan Baggio tak ditanggapi dengan serius oleh FIGC. Dia kemudian mundur dari tim tersebut pada 2013 karena merasa diabaikan. Dia merasa laporannya bak surat mati karena tak bisa diimplementasikan.
"Saya bekerja untuk memperbarui tim dari nol, untuk menciptakan pemain-pemain dan orang-orang baik. Saya mempresentasikan proyek saya pada Desember 2011, setebal 900 halaman, dan itu tetap menjadi surat mati," ujar Baggio kala itu, dilansir Football Italia.


















