Kisah Vozinha, Korban Perundungan yang Meledak di Piala Dunia 2026

- Vozinha, kiper Cape Verde, tampil gemilang di Piala Dunia 2026 dengan menahan imbang Spanyol tanpa gol dan menjadi sorotan dunia.
- Nama aslinya, Josimar Jose Evora Dias, diberikan ayahnya yang terinspirasi dari bek Brasil di Piala Dunia 1986 karena aturan politik melarang nama berbau Spanyol.
- Julukan 'Vozinha' muncul dari masa kecilnya sebagai korban perundungan dan akhirnya dipakai resmi saat bermain di Angola untuk membedakan dirinya dari kiper lain bernama sama.
Jakarta, IDN Times - Vozinha menjadi perbincangan di Piala Dunia 2026. Aksi kiper Cape Verde itu saat mengawal gawang di laga kontra Spanyol, Senin (15/6/2026), begitu sempurna hingga memaksakan hasil imbang tanpa gol dan menjadi kejutan perdana di pesta sepak bola terbesar dunia tersebut.
Sebenarnya, Vozinha bukan nama asli sang kiper. Itu hanyalah nama julukan yang, jika diartikan ke bahasa Indonesia dari bahasa Portugis, adalah "suara kecil". Sementara, nama aslinya adalah Josimar Jose Evora Dias.
1. Nama aslinya terinspirasi dari bek Brasil di Piala Dunia 1986

Ada cerita mengapa Vozinha diberikan nama Josimar. Ayahnya, seorang anggota militer yang gila sepak bola, memang berharap Vozinha menjadi pemain profesional.
Josimar bukan nama pilihan utama bagi ayah Vozinha. Awalnya, dia mau menamai anaknya Valdano, yang diambil dari Jose Valdano, legenda Real Madrid asal Argentina.
Namun, kebijakan politik di Cape Verde tak mengizinkan nama berbau Spanyol diberikan kepada anak-anak. Hingga akhirnya, ayah Vozinha memilih Josimar, sama seperti nama bek Brasil di Piala Dunia 1986.
2. Berawal dari korban perundungan

Lucunya, sejak kecil Josimar tak pernah menjadi panggilannya. Vozinha justru lebih lekat dengannya karena alasan memilukan. Ketika kecil, Vozinha selalu menjadi korban perundungan dari anak-anak yang lebih besar dan selalu mengadu kepada kakek-nenek yang mengasuhnya, karena ayah serta ibunya sibuk bekerja.
Dari sinilah, julukan Vozinha muncul karena suaranya begitu kecil ketika mengadu kepada kakek-neneknya. Awalnya, Vozinha kesal dipanggil dengan nama tersebut.
"Semua karena kakek-nenek. Saya tak pernah tinggal bareng orang tua. Ketika lahir, ayah saya di militer. Ibu selalu bekerja serabutan. Jadi, saya tumbuh bersama kakek-nenek. Di lingkungan saya tinggal, anak-anaknya lebih tua. Saya selalu main di jalanan dan dirundung. Sampai akhirnya saya jago dengan kaki ini, kompetitif, dan kejam. Saya tak suka kalah," kata Vozinha, dilansir situs resmi FIFA.
"Saya sering menerima pukulan. Ketika tak bisa membalas dendam, saya ke rumah dengan rasa marah, muka murung, dan mereka selalu mengejek. Bilang pada akhirnya saya mengadu ke kakek-nenek," lanjutnya.
3. Akhirnya pakai nama Vorzinha
Awalnya, dia tak mau menerima julukan Vozinha karena memalukan. Tapi, semua berubah ketika dia main di Angola bersama Progresso. Di sana, ada kiper yang juga bernama Josimar. Hingga akhirnya, dia tak mau menggunakan padanan "Josimar II" di jerseynya dan memilih Vozinha yang dipakainya hingga sekarang.
"Tak ada satu pun di Cape Verde tahu nama saya adalah Josimar. Awalnya saya gak suka, bikin saya gila. Tapi, ketika tiba di Angola, ada kiper lain dengan nama yang sama. Saya tak mau menggunakan Josimar II di jersey.
Karena semua tahu julukan saya Vozinha di Cape Verde, akhirnya menggunakan itu," ujarnya, dilansir situs resmi FIFA.












