4 Klub yang Rugi karena Aturan Gol Tandang UCL Hilang

- Aturan gol tandang dihapus sejak musim 2021/2022 untuk mendorong permainan lebih ofensif, namun perubahan ini justru membuat beberapa klub besar dirugikan dalam fase knockout Liga Champions.
- Inter Milan, Manchester City, Atletico Madrid, dan Juventus menjadi contoh tim yang tersingkir meski tampil produktif di markas lawan karena laga harus dilanjutkan tanpa keunggulan gol tandang.
- Kasus-kasus tersebut menunjukkan dampak nyata hilangnya aturan gol tandang terhadap hasil pertandingan penting UCL, memunculkan perdebatan soal keadilan sistem baru ini.
Kompetisi antarklub Eropa dulu mengenal aturan gol tandang. Gol yang dicetak di markas lawan pada fase knockout memiliki nilai lebih besar dibanding gol di rumah sendiri. Jika agregat dalam dua pertemuan seimbang, tim yang mencetak lebih banyak gol tandang berhak lolos. Namun, aturan tersebut telah ditiadakan sejak 2021/2022.
Perubahan itu bertujuan positif, yaitu mencegah tim-tim tuan rumah bermain terlalu defensif. Namun, beberapa klub sempat dirugikan karenanya. Mereka tak otomatis lolos meski lebih subur di markas lawan selama 90 menit dan akhirnya malah tersingkir. Di UEFA Champions League (UCL), empat klub berikut ini pernah mengalaminya per Februari 2026.
1. Inter Milan disingkirkan Atletico Madrid via adu penalti pada babak 16 besar UCL 2023/2024
Klub pertama yang dirugikan hilangnya aturan gol tandang di Liga Champions adalah Inter Milan. Itu terjadi pada babak 16 besar UCL 2023/2024 saat mereka menghadapi Atletico Madrid. Pada leg pertama di Italia, Inter Milan menang 1-0. Mereka lalu bertandang ke Spanyol pada duel kedua dan sempat unggul pada menit 33 via Federico Dimarco.
Gol Dimarco membuat Inter Milan unggul agregat 2-0. Atletico lalu menyamakan skor agregat jadi 2-2 berkat gol Antoine Griezmann dan Memphis Depay. Andai masih ada aturan gol tandang, Inter Milan harusnya tetap lolos. Namun, hilangnya aturan tersebut membuat laga harus berlanjut. Inter Milan pun akhirnya gugur usai kalah adu penalti 2-3.
2. Manchester City juga gugur dari UCL 2023/2024 meski produktif di kandang lawan
Masih di UCL 2023/2024, Manchester City juga akhirnya gugur meski lebih produktif di markas lawan. The Citizens yang saat itu berstatus juara bertahan melaju hingga perempat final dan bertemu Real Madrid. Pada leg pertama di Santiago Bernabeu, Manchester City tampil luar biasa dan sukses mengimbangi Real Madrid 3-3.
Sayangnya, Manchester City malah tertahan imbang 1-1 pada pertemuan kedua di kandang sendiri. Ketiadaan aturan gol tandang pun membuat tiga gol The Citizens di Santiago Bernabeu tak punya makna lebih. Laga tetap harus dilanjutkan, dan Manchester City akhirnya tersingkir karena kalah adu penalti.
3. Atletico Madrid gantian dirugikan hilangnya aturan gol tandang di UCL 2024/2025
Atletico Madrid pernah diuntungkan hilangnya aturan gol tandang di UCL 2023/2024. Namun, pada 2024/2025, giliran mereka yang merasakan kerugian. Los Rojiblancos saat itu disingkirkan Real Madrid pada babak 16 besar meski lebih produktif di markas lawan.
Saat bermain di Santiago Bernabeu, Atletico Madrid kalah 1-2. Mereka lalu membalas pada leg kedua di kandang sendiri dengan skor 1-0. Skor agregat imbang 2-2 membuat laga berlanjut ke babak tambahan dan akhirnya adu penalti. Hasilnya, Atletico kalah adu penalti di depan pendukungnya sendiri dan tersisih.
4. Juventus batal menorehkan comeback fantastis di UCL 2025/2026 karena tak ada aturan gol tandang
Klub terbaru yang dirugikan ketiadaan aturan gol tandang di UCL adalah Juventus. Raksasa Italia itu bertemu Galatasaray pada playoff fase knockout UCL 2025/2026. Bianconeri dipermak Galatasaray 2-5 pada leg pertama di Turki. Peluang Juventus untuk comeback pada laga kedua pun terbilang tipis, tetapi ternyata mereka sempat melakukannya.
Juventus tampil heroik di hadapan pendukung sendiri dan menang 3-0 dalam 90 menit. Padahal, mereka harus bermain dengan sepuluh orang sejak menit 49. Andai masih ada aturan gol tandang, Juventus bakal lolos sembari menorehkan salah satu comeback terhebat dalam sejarah Liga Champions.
Sayangnya, dua gol Juventus di markas Galatasaray tak lagi bermakna spesial. Laga tetap harus dilanjutkan ke babak tambahan, dan Bianconeri gagal mempertahankan performa apik. Mereka kebobolan pada menit 105 dan 119 hingga akhirnya kalah skor agregat 5-7.
Empat klub di atas bisa dibilang adalah korban hilangnya aturan gol tandang dari fase knockout Liga Champions. Namun, kegagalan mereka tentu juga disebabkan ketidakmampuan mengungguli lawannya dalam skor agregat. Akankah ada klub lain yang mengalami nasib serupa pada lanjutan UCL 2025/2026?
















