Kobbie Mainoo yang Kembali Bersinar di MU Berkat Michael Carrick

- Kobbie Mainoo terpinggirkan pada era Ruben Amorim akibat ketidakcocokan taktik
- Kobbie Mainoo kembali menemukan sentuhannya di MU usai diambil alih Michael Carrick
- Fungsi taktis yang jelas membuat Kobbie Mainoo mampu mengeluarkan potensi terbaiknya
Kobbie Mainoo bisa dibilang menjadi pemain yang paling diuntungkan usai dipecatnya Ruben Amorim sebagai pelatih Manchester United. Seandainya Amorim masih memegang kendali, besar kemungkinan jebolan akademi tersebut bakal angkat kaki demi mendapatkan menit bermain yang lebih layak. Namun, kedatangan Michael Carrick sebagai pelatih interim MU seolah menyelamatkan kariernya yang nyaris buntu.
Perubahan itu tidak hanya tercermin dari peningkatan menit bermain, tetapi juga dari fungsi taktis yang kini melekat pada Mainoo. Dalam waktu singkat, ia bertransformasi dari pemain cadangan yang nyaris dilupakan menjadi bagian inti dari struktur permainan Setan Merah. Kebangkitan itu membuka diskusi lebih luas tentang kesalahan penilaian pada era sebelumnya dan arah baru yang kini ditempuh klub.
1. Kobbie Mainoo terpinggirkan pada era Ruben Amorim akibat ketidakcocokan taktik
Kemunduran peran Kobbie Mainoo pada era Ruben Amorim tidak dapat dilepaskan dari pakem taktik yang diterapkan sang pelatih. Amorim menuntut gelandang dengan kapasitas fisik dan vertikalitas tinggi, khususnya dalam sistem yang menekankan transisi cepat serta cakupan ruang luas. Dalam skema tersebut, Mainoo dinilai belum memenuhi kebutuhan sebagai gelandang box-to-box yang harus terus berlari dari area bertahan ke kotak penalti lawan.
Data menit bermain menggambarkan situasi itu secara gamblang. Menurut The Athletic, Mainoo hanya mencatatkan 171 menit bermain di English Premier League (EPL) sepanjang paruh awal 2025/2026 dan tidak sekali pun dipercaya sebagai starter di liga. Minimnya kesempatan membuat chemistry-nya dengan skuad terputus dan menghambat kontinuitas perkembangan seorang pemain muda yang sebelumnya tampil konsisten pada 2023/2024 hingga final Euro 2024 bersama Inggris.
Amorim bahkan secara terbuka mengungkapkan keraguannya terhadap peran Mainoo sebagai number 8 maupun number 6. Ia menilai Mainoo belum cukup agresif untuk menjadi referensi tunggal di depan lini belakang, sekaligus belum eksplosif untuk memenuhi tuntutan gelandang dinamis. Kritik tersebut memperlihatkan adanya dilema struktural, karena Mainoo sejatinya adalah gelandang kontrol yang unggul dalam pengambilan posisi dan pengelolaan tempo, bukan pemain yang mengandalkan akselerasi panjang.
Akibat ketidakcocokan tersebut, Mainoo terpinggirkan sebagai opsi rotasi tanpa jalur perkembangan yang jelas. Kondisi ini sempat memunculkan wacana peminjaman atau kepergian pada bursa transfer Januari 2026. Situasi itu menandaskan, persoalan utamanya bukan terletak pada kualitas personal Mainoo, melainkan pada sistem permainan yang gagal mengakomodasi karakter alaminya.
2. Kobbie Mainoo kembali menemukan sentuhannya di MU usai diambil alih Michael Carrick
Perubahan signifikan terjadi setelah Michael Carrick mengambil alih kendali tim. Carrick tidak melakukan revolusi radikal, tetapi justru menyederhanakan struktur permainan agar sesuai dengan profil pemain yang ada. Dari sinilah sang pelatih mengembalikan Kobbie Mainoo ke peran naturalnya sebagai gelandang penyeimbang yang bermain dekat dengan bola dan membaca ruang secara cerdas.
Carrick memanfaatkan skema double pivot bersama Casemiro, sebuah kombinasi yang sebelumnya dianggap tidak realistis secara struktural oleh Ruben Amorim. Dalam praktiknya, Mainoo bertugas menjaga sirkulasi dan konektivitas antarlini, sementara Casemiro difungsikan lebih dekat dengan zona berbahaya untuk memaksimalkan kekuatan duel dan intersepsinya. Pendekatan ini membuat Manchester United lebih stabil, sekaligus menutupi keterbatasan mobilitas Casemiro.
Struktur tanpa bola pun mengalami penyesuaian. MU kerap turun dalam bentuk 4-4-2 untuk memadatkan jarak antarlini dan mengurangi kebutuhan gelandang dalam menutup ruang yang terlalu luas. Dalam konteks ini, Mainoo tampil sebagai pemain yang memberi dukungan mobilitas di sekitar Casemiro, yang memastikan tim tetap kompak saat bertahan dan siap bertransisi.
Kepercayaan Carrick kepada Mainoo tercermin dalam starting XI tim dalam empat laga Premier League pertamanya pada era baru, dengan MU meraih empat kemenangan beruntun. Dilansir Sky Sports, pada laga melawan Tottenham Hotspur, Mainoo mencatatkan 33 operan di sepertiga akhir lapangan, angka tertinggi sepanjang kariernya Premier League dan tertinggi di liga pada pekan ke-25. Konsistensi menit bermain tersebut memulihkan kepercayaan diri Mainoo dan mengembalikan ritme kompetitifnya dalam waktu singkat.
3. Fungsi taktis yang jelas membuat Kobbie Mainoo mampu mengeluarkan potensi terbaiknya
Transformasi positif Kobbie Mainoo di bawah Michael Carrick memiliki makna yang melampaui performa individu. Secara struktural, Mainoo kini berperan sebagai penyeimbang yang memungkinkan Bruno Fernandes bermain lebih tinggi dan lebih bebas. Dengan Mainoo menjaga kedalaman dan sirkulasi, Fernandes dapat fokus pada kreativitas, yang tercermin dari enam peluang yang ia ciptakan dalam satu laga melawan Tottenham Hotspur.
Kontribusi Mainoo juga terlihat dalam kontrol tempo dan progresi bola. Jika menilik performanya dalam empat laga terakhir, ia selalu hadir di area-area krusial yang dibutuhkan Manchester United, baik saat membangun serangan maupun saat mengamankan transisi negatif. Dalam laga besar melawan Manchester City dan Arsenal, Mainoo termasuk pemain MU dengan jumlah sentuhan tertinggi, yang menegaskan fungsinya sebagai penghubung permainan.
Selain itu, Mainoo juga memiliki peran spesifik dalam fase bola mati. Dalam beberapa skema sepak pojok, ia tidak hanya bertindak sebagai pengalir bola kedua, tetapi juga sebagai pemicu manipulasi struktur lawan melalui pergerakan tipuan dan blocking. Peran tersebut menunjukkan pemahaman taktis yang matang, sekaligus kepercayaan pelatih terhadap kecerdasan permainannya.
Pada titik ini, perubahan peran Kobbie Mainoo menunjukkan bagaimana arah Manchester United turut bergeser di bawah Michael Carrick. Dari pemain yang sempat terpinggirkan, kini sulit membayangkan bagaimana Setan Merah menjaga keseimbangan permainan tanpa kehadiran sang talenta muda ini.

















