Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Konflik Palestina-Israel yang Terus Membayangi Argentina vs Mesir

Konflik Palestina-Israel yang Terus Membayangi Argentina vs Mesir
ilustrasi suporter Timnas Argentina (unsplash.com/Cristian Tarzi)
Intinya Sih
  • Argentina menang dramatis 3-2 atas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026, namun keputusan wasit yang menolak penalti Mesir menuai protes resmi dari EFA kepada FIFA.
  • Dukungan pelatih Mesir Hossam Hassan terhadap Palestina dan kebijakan pro-Israel Presiden Argentina Javier Milei membuat laga ini dikaitkan dengan isu geopolitik Palestina-Israel.
  • Sejumlah suporter Argentina diduga melakukan provokasi dan mengibarkan bendera Israel ke arah pendukung Mesir, memperkuat tensi politik yang membayangi pertandingan tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Timnas Argentina dan Timnas Mesir memang telah usai. Berlangsung di Atlanta Stadium, Timnas Argentina sukses mengamankan tiket menuju perempat final setelah menang secara dramatis dengan skor 3-2. Begitu peluit panjang dibunyikan, perhatian publik tak lagi tertuju pada angka, melainkan bergeser ke konflik Palestina-Israel yang mengiringi pertandingan tersebut. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

1. Keputusan wasit dinilai menguntungkan Argentina

Singkat cerita, laga antara Timnas Argentina dan Mesir yang berlangsung pada Selasa (7/7/2026) WIB berjalan dramatis sampai The Pharaohs berhasil membuka keunggulan melalui gol Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan Mostafa Ziko pada menit ke-67 setelah sebelumnya mencetak gol yang dianulir oleh video assistant referee (VAR). Memasuki 11 menit terakhir, Timnas Mesir sempat menuntut hadiah penalti setelah Hamdy Fathy dinilai dijatuhkan oleh Alexis Mac Allister di dalam kotak terlarang. Namun, wasit Francois Letexier menolak klaim tersebut dan memutuskan laga tetap dilanjutkan.

Keputusan krusial tersebut menjadi titik balik laga tatkala Cristian Romero, bek Argentina yang kini membela Tottenham Hotspur, memperkecil ketertinggalan pada menit ke-79. Empat menit berselang, tepatnya pada menit ke-83, sang megabintang Lionel Messi sukses menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Saat pertandingan seolah akan berlanjut ke babak tambahan, Enzo Fernandez muncul sebagai pahlawan dengan golnya pada menit ke-93 yang memastikan kemenangan lewat comeback 3-2 bagi La Albiceleste atas The Pharaohs.

Mengutip Reuters, Pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan, mengkritik kinerja wasit yang dinilai merugikan timnya, terlebih terkait keputusan tidak memberikan penalti pada momen krusial. Bahkan, Egypt Football Federation (EFA) dilaporkan telah mengajukan protes resmi kepada FIFA terhadap Letexir beserta seluruh tim yang menangani laga Argentina kontra Mesir. Namun, Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, membela keputusan Letexier dan menegaskan bahwa semua keputusan yang diambil dalam laga tersebut telah sesuai dengan Aturan-Aturan Permainan (Laws of the Game).

2. Narasi konflik Palestina-Israel ikut terseret dalam laga Argentina vs Mesir

Sesuatu yang semula tampak seperti pertandingan sepak bola justru merembet ke isu yang jauh lebih luas daripada sekadar duel di atas lapangan. Pertandingan babak 16 besar antara La Albiceleste dan The Pharaohs memang diwarnai berbagai kontroversi yang lumrah menjadi bagian dari dinamika sepak bola. Namun, di balik jalannya pertandingan, perhatian sebagian publik justru mengarah ke konflik Palestina-Israel yang ikut mengiringi jalannya laga.

Narasi ini turut dipengaruhi oleh sikap Hossam Hassan yang mengibarkan bendera Palestina setelah Timnas Mesir sukses menundukkan Timnas Australia pada babak 32 besar. Dia menyebut kemenangan tersebut dipersembahkan untuk rakyat Mesir serta Palestina yang menurutnya merupakan bangsa yang baik dan mulia. Menjelang pertandingan melawan Argentina, Hassan kembali menyuarakan dukungannya dengan memanfaatkan konferensi pers untuk mengajak atlet dan jurnalis menyampaikan pesan pembebasan rakyat Palestina dari pendudukan Israel.

Aksi Hassan memang tidak membuatnya mendapat sanksi dari FIFA, tetapi dukungannya terhadap Palestina dinilai berseberangan dengan sikap Presiden Argentina saat ini, Javier Milei, yang dikenal sebagai salah satu pemimpin Amerika Latin dengan sikap pro-Israel. Bahkan, dia telah beberapa kali mengunjungi Israel dan menegaskan rencananya untuk memindahkan Kedutaan Besar Argentina dari Tel Aviv ke Yerusalem yang diklaim sebagai ibukota Israel. Alhasil, pertandingan Argentina melawan Mesir mulai dikaitkan dengan konflik Palestina-Israel karena sikap pro-Palestina yang ditunjukkan oleh Hassan serta kebijakan pro-Israel pemerintahan Milei.

3. Aksi pendukung Argentina memperkuat narasi konflik Palestina-Israel

Suporter yang sehat adalah mereka yang mampu menempatkan kompetisi sebatas di atas lapangan. Insiden yang menimpa suporter Timnas Mesir saat menghadapi Argentina patut menjadi perhatian serius FIFA. Narasi konflik Palestina-Israel yang membayangi pertandingan tidak seharusnya dijadikan pembenaran untuk melakukan intimidasi, provokasi, maupun tindakan yang mengarah pada kerusuhan.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, sebuah media internasional yang berbasis di Qatar, sejumlah suporter La Albiceleste terekam melempar gelas berisi bir ke arah suporter The Pharaohs setelah Timnas Argentina menyamakan kedudukan. Dalam video tersebut, mereka juga diduga melontarkan ejekan dan melakukan tindakan provokatif yang ditujukan kepada suporter Timnas Mesir. Seusai pertandingan, situasi kembali memanas ketika beberapa suporter Argentina terlihat mengibarkan bendera Israel ke arah staf pelatih Mesir saat mereka meninggalkan lapangan.

Insiden ini sebenarnya bukan kali pertama melibatkan suporter Timnas Argentina selama Piala Dunia 2026. Saat La Albiceleste menghadapi Cape Verde di babak 32 besar, sejumlah suporter negara debutan tersebut mengaku kepada Al Jazeera bahwa mereka menjadi sasaran lemparan gelas berisi bir dari sebagian pendukung Argentina tiap kali timnya mencetak gol. Hingga artikel ini ditulis, baik pihak Timnas Argentina maupun Asociación del Fútbol Argentino (AFA) belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangkaian insiden tersebut.

Konflik geopolitik Palestina-Israel yang membayangi laga Argentina kontra Mesir menjadi sebuah refleksi bahwa pertandingan sepak bola dapat dengan mudah berubah menjadi ruang perdebatan yang jauh melampaui sekadar urusan menang dan kalah. Sebagai pihak penyelenggara Piala Dunia, FIFA perlu memastikan bahwa slogan "Football Unites the World" benar-benar diwujudkan demi mempersatukan berbagai bangsa di dunia, bukan menjadi panggung konflik akibat isu-isu sensitif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More