Laju Kencang Turki, Kuda Hitam di Piala Dunia 2002

- Turki tampil di Piala Dunia 2002 setelah absen 48 tahun, membawa kombinasi pemain berpengalaman dan muda, mayoritas berasal dari Galatasaray juara UEFA Cup 2000.
- Meski awalnya terseok di fase grup, Turki lolos sebagai runner-up setelah menang besar atas Tiongkok dan menyingkirkan Kosta Rika lewat selisih gol.
- Turki melaju hingga semifinal usai menaklukkan Jepang dan Senegal, lalu finis peringkat ketiga setelah mengalahkan Korea Selatan dengan rekor gol tercepat Hakan Sukur.
Piala Dunia 2002 yang berlangsung di Korea Selatan dan Jepang selalu dikenang sebagai turnamen penuh kejutan. Ketika tim raksasa seperti Prancis dan Argentina langsung gugur pada fase grup, panggung dunia justru diambil alih tim-tim kuda hitam. Salah satunya adalah Turki yang saat itu diasuh Senol Gunes.
1. Berisi kombinasi para pemain berpengalaman dan talenta muda menjanjikan
Turki datang ke Piala Dunia 2002 setelah absen selama 48 tahun. Dilansir Squawka, tim ini diisi para pemain berkualitas dengan mayoritas pilar utamanya adalah alumnus Galatasaray saat menjuarai UEFA Cup 2000. Sebut saja Hakan Sukur, Hasan Sas, Umit Davala, dan Bulent Korkmaz. Turut pula sejumlah pemain muda yang sedang bersinar, seperti Yildiray Basturk, Nihat Kahcevi, serta Fatih Akyel. Turki sendiri lolos ke putaran final setelah menekuk Austria dengan agregat 6-0 pada fase play-off kualifikasi.
2. Lolos dari fase grup dengan susah payah sebab baru menang di pertandingan terakhir
Langkah awal Turki di Piala Dunia 2002 sebenarnya tidak berjalan mulus. Berada di Grup C bersama Kosta Rika, China, dan Brasil, mereka harus berjuang ekstra keras. Dilansir National Football Teams, mereka takluk di tangan Brasil dengan skor tipis 1-2 di laga pembuka fase grup yang diwarnai kartu merah. Setelah ditahan imbang 1-1 oleh Kosta Rika, tiket kelolosan mereka ditentukan di laga pemungkas. Turki tampil kesetanan dengan menggilas China 3-0 sekaligus mengamankan posisi runner-up grup berkat keunggulan selisih gol dari Kosta Rika.
3. Mentalitas generasi emas Turki akhirnya terlihat pada fase gugur setelah menekuk Jepang dan Senegal
Masuk fase gugur, mentalitas generasi emas Turki mulai menunjukkan taringnya. Pada babak 16 besar, The Crescent Stars (Pasukan Bulan Sabit) sukses membungkam Jepang dengan skor tipis 1-0 lewat gol cepat Umit Davala. Ujian sesungguhnya hadir pada perempat final saat mereka menantang Senegal, tim debutan yang sukses menumbangkan Prancis.
Pertandingan berjalan sangat sengit. Tak ada gol tercipta selama 90 menit sehingga harus berlanjut ke babak tambahan. Di sinilah momen magis tercipta. Striker pengganti, Ilhan Mansiz, mencetak golden goal (gol emas) pada menit ke-94 yang langsung menyudahi pertandingan. Turki pun melaju ke semifinal untuk kali pertama dalam sejarah keikutsertaan mereka.
4. Akhirnya kalah melawan Brasil pada semifinal, tetapi mampu memberi perlawanan sengit
Pada semifinal, takdir kembali mempertemukan Turki dengan Brasil. Bermain di Stadion Saitama, Jepang, mereka memberi perlawanan yang jauh lebih solid dan disiplin ketimbang pertemuan pertama pada fase grup. Kiper, Rustu Recber, berkali-kali mementahkan peluang emas Rivaldo dan Ronaldo Nazario.
Namun, tembok kokoh Turki akhirnya runtuh pada menit ke-49 setelah sepakan mendatar Ronaldo gagal dibendung. Skor 0-1 bertahan hingga laga usai. Langkah Turki menuju final terhenti, tetapi mereka merespons dengan kepala tegak. Saat diwawancarai BBC, pelatih Turki, Senol Gunes, mengaku tetap senang timnya bisa memberi dampak besar di ajang tersebut.
5. Turki meraih status peringkat ketiga setelah mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2
Meski gagal ke final, Turki tidak bersantai di perebutan tempat ketiga melawan tuan rumah, Korea Selatan. Dilansir These Football Times, duel yang digelar di Daegu ini diingat atas gol yang tercipta pada detik ke-10,8. Kapten sekaligus legenda hidup Turki, Hakan Sukur, berhasil mencetak gol pembuka, memanfaatkan blunder fatal bek Korea Selatan, Hong Myung Bo.
Gol tersebut hingga hari ini masih memegang rekor sebagai gol tercepat dalam sejarah putaran final Piala Dunia. Turki akhirnya menyudahi perlawanan Korea Selatan dengan skor 3-2 sekaligus mengunci status sebagai peringkat ketiga. Prestasi tersebut belum bisa diulang hingga sekarang, terlebih Turki sudah dipastikan gugur pada fase grup Piala Dunia 2026.

















